Kepada Siapakah Anda Meminta?

Oleh : Abu ‘Umair Muhammad Nur Ikhwan Muslim

Tentunya kita telah mengetahui do’a merupakan ibadah yang sangat mulia, dan kita pun mengetahui bahwa tidak selayaknya ibadah ditujukan kepada selain Allah. Meskipun perkara ini telah jelas, kiranya kita perlu untuk merinci kembali berbagai permasalahan yang terkait dengan do’a, mengingat begitu banyak kaum muslimin yang keliru, bahkan tidak sedikit yang terjatuh dalam kubangan kesyirikan disebabkan lemahnya pemahaman dalam masalah ini. Kita memohon taufik kepada Allah.

Perincian Do’a
Pembaca yang budiman, ditinjau dari bentuknya, maka do’a terbagi dua, yaitu do’a mas-alah dan do’a ‘ibadah.
1. Do’a ‘ibadah merupakan aktivitas ibadah seperti shalat, puasa, zakat, sedekah dan ritual ibadah lainnya.
2. Adapun do’a mas-alah bentuknya seperti yang sering kita panjatkan sehari-hari dan di dalamnya terkandung permintaan, semisal seseorang yang mengangkat tangan lalu berdo’a kepada Allah dan mengajukan permintaan kepada-Nya.
Do’a mas-alah ini terbagi menjadi 3 bentuk, yaitu:
• Isti’anah, yaitu memohon bantuan agar mendapatkan manfaat atau terhindar dari bahaya.
• Isti’adzah, maksudnya memohon perlindungan dari marabahaya yang kemungkinan akan terjadi pada diri seseorang.
• Istighatsah, maksudnya memohon agar dibebaskan dari kesulitan yang sedang menimpa.
Kedua bentuk do’a tersebut dengan segala jenisnya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan, karena setiap orang yang berdo’a, maka di dalam do’anya terkandung ibadah, demikian pula orang yang beribadah, maka pasti dirinya berdo’a agar mendapatkan balasan dari ibadah yang dikerjakannya (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid hal.95).

Ketentuan Pokok dalam Berdo’a
Pembaca yang saya muliakan, yang patut diperhatikan bagi kita dalam permasalahan ini adalah seluruh do’a ibadah, seperti shalat, puasa, zakat dan semisalnya apabila ditujukan kepada selain Allah, maka pelakunya telah melakukan syirik akbar sehingga dapat mengeluarkan dirinya dari Islam, Allah pun memerintahkan para hamba-Nya untuk berdo’a dan meminta hanya kepada-Nya. Allah ta’alaa berfirman (yang artinya),
“Janganlah kamu berdo’a (menyembah) kepada sesembahan lain di samping (berdo’a kepada) Allah. Tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia.” (Al Qashash: 88).
Adapun do’a mas-alah (yang mengandung permintaan), secara umum hukumnya syirik akbar jika ditujukan kepada selain Allah, kecuali pada satu kondisi tertentu, yaitu meminta sesuatu kepada makhluk yang hidup, hadir, terjadi komunikasi secara langsung antara peminta dengan pihak yang diminta serta permintaannya merupakan suatu hal yang berada dalam batas kesanggupan makhluk. Apabila ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka si peminta terjatuh dalam syirik akbar.
Sebagai contoh dalam permasalahan ini adalah kekeliruan yang dilakukan sebagian orang, yang mendatangi kuburan para wali sembari berdo’a dan meminta kepada wali tersebut agar mengabulkan hajat mereka (seperti meminta untuk dilancarkan rezekinya, enteng jodoh, lulus ujian dan semisalnya) atau mereka memohon syafa’at kepada wali tersebut dan menjadikannya sebagai perantara untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah ta’alaa. Keyakinan dan perbuatan ini haram dilakukan dan dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena pada hakekatnya hal tersebut berupa permintaan kepada makhluk yang telah mati, gaib, tidak mampu mendengar permohonan yang diajukan kepadanya, terlebih tidak mampu memberi manfaat dan menghilangkan marabahaya bagi dirinya sendiri dan tentunya bagi orang lain. Allah ta’alaa berfirman (yang artinya),
“Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada memiliki sesuatupun meski setipis kulit ari. Jika kamu berdo’a kepada mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaulah mereka mendengar, mereka tidaklah mampu memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan yang kalian lakukan dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang Mahamengetahui” (Faathir: 13-14).
Perhatikanlah ayat ini dengan seksama, sidang pembaca yang mulia! Allah ta’alaa membantah keyakinan kaum musyrikin yang menganggap sesembahan mereka mampu mendengarkan dan mengabulkan permohonan mereka. Selain itu, ayat ini juga menyatakan bahwa kaum musyrikin tidak hanya beribadah kepada patung-patung semata, namun juga menyembah kepada orang-orang shalih yang telah wafat, karena dalam ayat tersebut Allah menggunakan lafadz الَّذِينَ yang hanya diperuntukkan bagi makhluk yang berakal sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaikh Musthafa Al Ghalayayni rahimahullah dalam Jami’ud Durusil ’Arabiyah 1/98, tahqiq Dr. ’Abdul Mun’im Khalil Ibrahim, cet. Darul Kutub Al’Ilmiyah.

Beberapa Kekeliruan
Setelah kita memahami beberapa ketentuan di atas, kita perlu menyebutkan beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh sebagian orang dalam permasalahan do’a. Berikut beberapa kekeliruan yang dapat kami kumpulkan berdasarkan keterbatasan ilmu yang ada pada kami.
1. Berdo’a sembari meminta kepada makhluk yang telah wafat, seperti memohon kepada para wali untuk dimudahkan segala urusannya. Hal ini jelas syirik akbar karena pemberian rezeki, penciptaan makhluk dan pengaturan segala sesuatu murni hak Allah ta’alaa, makhluk sedikitpun tidak mampu melakukan semua hal tersebut. Pelaku perbuatan ini telah keluar dari Islam, karena meyakini kemampuan makhluk dalam perkara yang hanya sanggup dilakukan oleh Allah, bahkan kekufurannya lebih buruk daripada musyrikin dahulu, karena musyrikin dahulu mengakui hanya Allah semata yang mampu untuk melakukan itu semua (Lihat firman Allah dalam surat Yunus: 31).

2. Berdo’a kepada makhluk yang telah wafat dengan tetap meyakini bahwa hanya Allah-lah yang Mahapemberi, namun makhluk yang dimintai do’a bertindak sebagai perantara untuk menyampaikan do’a di sisi Allah sekaligus hal tersebut diyakini dapat mendekatkan diri kepada Allah. Perbuatan ini tidak diragukan lagi merupakan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena keyakinan inilah yang menjadi akar kesyirikan musyrikin dahulu. Allah tabaraka wa ta’alaa berfirman (yang artinya),
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya” (Az Zumaar: 3). Ibnu Katsir Asy Syafi’i mengatakan keyakinan kufur inilah yang senantiasa diyakini oleh kaum musyrikin, dahulu maupun sekarang (Tafsirul Qur-anil ‘Azhim 7/85, tafsir beliau terhadap ayat ketiga dari surat Az Zumar).

3. Meminta kepada makhluk hidup dalam perkara yang mampu dilakukannya, namun hati bersandar kepada makhluk, sehingga ketergantungan hati kepada makhluk tersebut dalam meminta lebih tinggi ketimbang kepada Allah, dengan kata lain si peminta sangat mengandalkan makhluk tersebut sehingga melupakan Allah. Hal ini dapat menodai kesempurnaan tauhid dan tergolong syirik ashghar serta dapat mengantarkan pelakunya kepada syirik akbar tergantung seberapa besar ketergantungan hati kepada makhluk tersebut.

Mintalah hanya Kepada Allah!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah”. (HR. Ahmad nomor 2537; Tirmidzi nomor 2440; dishahihkan Al Albani dalam Al Misykah nomor 5302, Zhilalul Jannah hal. 316-318).
Faqihuz Zaman Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Di dalam kedua kalimat ini terkandung dalil bahwa perbuatan meminta kepada selain Allah merupakan salah satu faktor yang dapat menodai kesempurnaan tauhid. Oleh karenanya, meminta-minta kepada selain Allah merupakan perkara yang dibenci, meski permintaannya dalam perkara yang remeh. Apabila Allah subhanahu wa ta’alaa hendak menolongmu, maka tentulah Dia akan menolongmu, secara sadar maupun tidak sadar. Kadangkala Dia membantu di luar kesadaranmu dan menghilangkan kesulitan yang menimpamu, dan hal itu tidak mampu dilakukan oleh seorang pun. Terkadang Dia membantumu melalui bantuan seseorang, Dia meluluhkan dan menggerakkan (hati)nya untuk membantumu. Meskipun demikian, dirimu tetap tidak boleh melupakan Pencipta sebab tersebut, yaitu Allah ‘azza wa jalla (Syarhul Arba’inan Nawawiyah hal. 202).
Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk menyempurnakan tauhid dan menghindari ketergantungan hati kepada makhluk. Para sahabat pun mempraktekkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dengan pengamalan yang begitu mengagumkan, sehingga kita temui salah seorang dari mereka tatkala cambuk atau tali kekang tunggangan mereka terjatuh, mereka tidak meminta kepada seorang pun untuk mengambilkannya (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 250, Darul Hadits).
Yaa Rahman, Yaa Rahiim, kami memohon kepada-Mu untuk memberikan taufik dan hidayah kepada kami semua agar dapat mencukupkan diri dengan pertolongan-Mu semata dan membebaskan segala ketergantungan hati kepada makhluk selain-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahamendengar dan Mahamengabulkan do’a para hamba-Mu.
Wash shalatu was salamu ‘alaa nabiyyinal musthofa, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi wa manistanna bi sunnatihi wanihtadaa bihadyihi. Walhamdulillahi rabbil ‘alaamiin. Dimuat dalam buletin At Tauhid, Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari, Yogyakarta.

About wahonot

I a salafy man

Posted on Oktober 28, 2008, in Aqidah, keluarga, Tazkiyatun nafs. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: