Menuju Perbaikan Umat

Oleh : Abu ‘Umair

Syaikh ‘Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi al-Yamani pernah memaparkan sebuah kaidah, ‘Orang-orang yang mengenal Islam dan ikhlas terhadapnya telah banyak membuat kesimpulan bahwa semua kelemahan, kehinaan dan berbagai kemunduran yang diderita oleh kaum muslimin, hanyalah disebabkan jauhnya mereka dari hakekat Islam’(at-Tashfiyah wat Tarbiyah, Syaikh Ali Hasan, hal. 19).

Renungkanlah!
Jika merenungi secara seksama pernyataan di atas, tentulah kita akan teringat bahwa perkataan salah seorang ulama di atas selaras dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Jika kalian telah berjual-beli dengan sistem riba, berlaku zhalim, sibuk dengan dunia serta meninggalkan jihad, maka niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Kehinaan itu tidak akan hilang, hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian.’ (HR. Abu Dawud nomor 3462 dengan sanad hasan).
Hadits di atas merupakan penegasan beliau bahwa kehinaan dan keterbelakangan akan menimpa umat ini tatkala jauh dari tuntunan agama, baik dari segi ilmu dan pengamalannya, serta sibuk dengan dunia. Tengoklah keadaan umat saat ini! Bukankah kehinaan itu telah ditimpakan kepada kita? Bahkan kehinaan itu telah menimpa kita semenjak bertahun-tahun lamanya.
Betapa banyak kaum muslimin yang ‘terjajah’ oleh kaum kuffar, dari segi lahiriah dan batiniah. Betapa banyak dari kaum muslimin yang menghinakan diri dengan ‘melatahkan diri’ kepada orang-orang kafir karena menganggap hal itu sebagai kemajuan, dan sebaliknya mereka beranggapan bahwa berpegang teguh kepada Islam adalah suatu keterbelakangan dan kemunduran, bahkan sebagian lagi menyerukan jargon untuk menanggalkan Islam sebagai sebuah solusi untuk menggapai kemajuan karena di dalam benak mereka, berpegang teguh kepada tali Islam adalah ‘faktor penyebab’ yang memasung potensi umat ini sehingga tidak mampu melejit ke depan. Namun selayaknya sebagai seorang muslim, cukuplah bagi kita apa yang telah diserukan oleh Nabi tercinta dalam hadits di atas, bahwa segala kehinaan tersebut disebabkan karena jauhnya kita dari tuntunan agama.

Kembali pada Agama adalah Kuncinya
Saudaraku, dalam hadits di atas, selain menyebutkan penyebab kehinaan yang akan menimpa umat ini, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menerangkan kewajiban umat Islam untuk kembali kepada agamanya sebagai sebuah solusi yang harus ditempuh umat ini agar dapat membebaskan dirinya dari belenggu kehinaan dan keterbelakangan. Suatu solusi yang pasti dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, sebuah solusi yang menjadi asas perbaikan umat sebelum melakukan yang lainnya dan menjadi pondasi bagi proses-proses perbaikan yang lain. Mewujudkan kekuatan fisik adalah perkara yang pasti, namun sebelum semua itu dilakukan, wajib untuk kembali secara benar kepada agama, sebagaimana yang dijalani oleh Rasulullah dan para sahabatnya, baik dalam aqidah, ibadah, tingkah laku dan dalam segala perkara yang terkait dengan syari’at. Allah ta’ala berfirman,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (An Nuur: 55).
Allah ta’ala menjelaskan bahwa keimanan dan amal shalih merupakan sebab yang akan menghantarkan umat ini menuju kesuksesan di muka bumi dan salah satu realisasi keimanan dalam ayat tersebut adalah dengan memurnikan penyembahan hanya kepada Allah semata, sekaligus hal tersebut merupakan syarat yang harus diwujudkan untuk membuktikan bahwa umat ini telah kembali kepada agamanya secara benar.

Urgensi Purifikasi (Pemurnian) Ajaran Islam
Setelah kita mengetahui bahwasanya kembali kepada agama merupakan kunci kemenangan yang dapat mengikis habis kehinaan dan keterbelakangan yang menimpa umat ini, tentulah diri kita bertanya-tanya, bagaimanakah memulainya?
Jawabnya adalah dengan merenungi kembali hadits yang telah disebutkan di muka. Kita mengetahui, bahwasanya Islam yang benar adalah yang diajarkan oleh Rasulullah dan dipraktekkkan oleh para sahabatnya, oleh karenanya segala bentuk ajaran, pemikiran, peribadatan dan tingkah laku yang menyusup masuk ke dalam Islam dan tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah, tidak pula didengungkan dan diamalkan oleh para sahabatnya, maka hal tersebut bukanlah bagian dari Islam walaupun orang ‘melabelinya’ dengan label islami.
Jika kita memalingkan pandangan pada kondisi umat saat ini, maka kita akan melihat asingnya mereka dari ajaran Islam yang benar. Sebagian besar dari mereka meyakini dan mengamalkan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh nenek moyang mereka, padahal tidak sedikit ajaran-ajaran tersebut bertentangan dengan syari’at Islam. Hal ini pun diperparah dengan adanya usaha penyusupan yang dilakukan oleh orang-orang kafir untuk menebarkan segala bentuk kesesatan di tengah kaum muslimin, baik dalam bentuk pemikiran, keyakinan, amaliah dan tingkah laku. Sehingga tersebarlah berbagai bentuk kesesatan-kesesatan yang secara lahiriah dianggap ‘islami’ padahal hakekatnya hal tersebut sama sekali bukanlah ajaran Islam.
Maka tahulah kita, bahwa sesungguhnya tersebarnya kesesatan aqidah, bid’ah-bid’ah ibadah dan perselisihan di dalam agama, menjadikan kaum muslimin lepas dari agama dan jauh dari dua pondasinya yang asli (Al-Qur’an dan Sunnah), dan itulah yang menanggalkan kaum muslimin dari keistimewaan-keistimewaan agama dan akhlaqnya sampai kepada apa yang telah kita lihat sekarang.
Oleh karenanya, langkah pertama yang harus ditempuh setiap individu muslim adalah dengan berusaha menghiasi dirinya dengan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah dan dipraktekkan oleh para sahabatnya, dan hal ini memerlukan adanya upaya memurnikan Islam dari berbagai penyimpangan di segala bidang yang meliputi aqidah, berhukum, sunnah, fiqih, tafsir, tazkiyatun nafs, pemikiran, sejarah, dakwah, mu’amalah dan bahasa arab sehingga umat mengetahui mana islam yang hak (benar) dan mana yang bukan. Hal tersebut merupakan sebuah tuntutan, karena dalam bidang-bidang tersebut telah terjadi penyusupan yang mengakibatkan kerancuan dan penyimpangan, sehingga gerakan pemurnian Islam mutlak diperlukan sebagaimana diisyaratkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, ‘Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi. Mereka akan menolak perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang melampaui batas, serta menolak penyimpangan arti yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh dan kedustaan yang dilakukan oleh pelaku kebatilan’ (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil dan selainnya dengan sanad hasan). Hadits tersebut mengisyaratkan bahwasanya gerakan pemurnian Islam akan senantiasa dibutuhkan di setiap generasi, untuk menjaga kesucian dan kemurnian syari’at Islam di segala bidang serta menolak dan menangkis segala bentuk makar yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam.

Pembinaan Umat di Atas Ajaran Islam yang Murni
Tidak kalah pentingnya, umat memerlukan pembinaan di atas ajaran Islam yang murni dan tentunya hal ini sangat terkait dengan gerakan pemurnian Islam di segala bidang. Tatkala usaha pemurnian itu telah dilakukan, maka akan mudah untuk membina, memperbaiki dan mengembalikan umat kepada Islam yang benar.
Sekedar contoh, dalam bidang tauhid misalnya, seseorang tidak akan dapat terbina dengan baik di atas tauhid yang murni sebelum dirinya melepaskan diri dari noda-noda kesyirikan, oleh sebab itu Allah ta’ala berfirman, ‘Maka barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat, yang tidak akan putus. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui’ (Al Baqarah : 256).
Demikian pula dalam bidang syari’at, seseorang tidak akan terbina dengan baik di atas syari’at kecuali jika dia melepaskan diri dari berbagai bid’ah. Oleh karena itu pada setiap khutbah Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memerintahkan agar selalu menjalankan agama yang benar yang telah digariskan oleh al-Qur’an dan Sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta memperingatkan dari berbagai perkara yang mengaburkan dan mengeruhkan kemurniannya (baca: bid’ah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejelek-jelek perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dalam agama (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah kesesatan’ (HR. Muslim nomor 867).
Oleh karenanya yang diperlukan adalah tarbiyah yang menjadikan al-Qur-an dan sunnah sebagai pondasinya, serta berjalan dengan semangat mengembalikan umat kepada Islam yang dipraktekkan oleh generasi terbaik yang diridlai oleh Rabb mereka. Bukan tarbiyah yang dibangun di atas fanatik golongan dan partai, tidak pula di atas hawa nafsu dan taklid buta yang kesemuanya itu justru akan melemahkan upaya untuk memurnikan Islam dari segala penyimpangan.

Bersabar! Karena Jalan Masih Panjang
Target akhir dari segala upaya di atas adalah melahirkan individu muslim yang menyokong terciptanya masyarakat muslim yang mengagungkan nilai-nilai Islam yang dituntunkan oleh Rasulullah dan dipraktekkan oleh para sahabatnya, bukan masyarakat muslim yang mengaku cinta kepada Islam, namun malah mengagungkan ajaran yang asing, aneh dan tidak berasal dari Islam serta menolak dakwah untuk kembali kepada Islam yang benar.
Namun yang perlu ditekankan dalam menggapai target tersebut adalah perlunya kesadaran sosial dari setiap muslim untuk melaksanakan upaya-upaya tersebut, baik dari kalangan ulama, penuntut ilmu syar’i dan dunia, penguasa, serta praktisi di berbagai bidang hukum dan mu’amalah. Selain itu, kesabaran menjadi sebuah tuntutan dalam menjalankan segala upaya di atas, mengingat kondisi umat saat ini yang masih jauh dari cerminan ideal sebuah masyarakat islami, hal ini pun ditekankan Allah ta’ala dalam sebuah ayat-Nya dalam surat Al ‘Ashr tatkala mengisyaratkan hamba-Nya untuk senantiasa bersabar dalam kebajikan.
Tidak patut bagi seorang muslim yang mendambakan terwujudnya suatu masyarakat yang islami, memiliki anggapan bahwasanya segala upaya di atas mustahil dilakukan dan membutuhkan waktu yang teramat panjang. Bahkan anggapan semacam ini selayaknya dibuang jauh-jauh dari benak seorang muslim, karena akan melemahkan tekad dan memupuskan segala upaya yang akan dikerahkan untuk mengentaskan umat dari kegelapan menuju cahaya. Mungkin perlu kiranya kita menyimak perkataan Ibnul Qoyyim berikut, untuk melenyapkan anggapan semacam itu, “Barangsiapa menganggap jauh sebuah perjalanan, maka ia akan lemah dalam berjalan menempuhnya” (Al Fawaaid hal. 90).

الحمد لله رب العالمين

About wahonot

I a salafy man

Posted on Oktober 28, 2008, in Aqidah, keluarga, Manhaj, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: