Jihad Syar’i ( Bagian 4)

Oleh : Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Rais Alu Rais

Kekuatan Iman, Faktor Terpenting dalam Jihad

Selain kekuatan dan persenjataan, kekuatan iman dan islam harus dipersiapkan oleh kaum muslimin. Apabila yang terjadi justru sebaliknya, dosa-dosa kaum muslimin dilakukan terang-terangan dan tersebar luas, serta mereka lemah dalam menegakkan perkara agama mereka, terlebih dalam menegakkan tauhid dan sunnah sehingga kesyirikan, berbagai bid’ah dan maksiat tersebar luas dan diterima di kalangan kaum muslimin sehingga para pelakunya menjadi mayoritas, maka dalam kondisi yang demikian, kaum muslimin akan terhalang dari pertolongan Allah, kecuali Allah menurunkan rahmat dan karunia-Nya. Allah ta’alaa berfirman,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” (Ali Imran: 165).

Ibnu Jarir mengatakan, “ Firman Allah  قلتم أنى هذا maksudnya adalah tatkala kalian ditimpa musibah kekalahan di medan Uhud, kalian mengatakan أنى هذا  (darimana datangnya kekalahan ini?) Darimana datangnya kekalahan yang menimpa kami ini, padahal kami adalah kaum muslimin sedang mereka kaum musyrikin. Di tengah-tengah kami terdapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang memperoleh wahyu dari langit sedangkan musuh kita adalah orang kafir yang berbuat syirik kepada Allah?! (Maka Allah pun mengatakan kepada nabi-Nya), katakanlah kepada para sahabat yang beriman kepadamu wahai Muhammad! Bahwa kekalahan itu dari (kesalahan) dirimu sendiri, dikarenakan kalian menentang perintahKu dan tidak mematuhiKu. Kekalahan itu bukanlah disebabkan oleh suatu kaum selain kalian atau seorang dari selain kalian (Jaami’ul Bayan fii Tafsiril Qur-an 4/104). Dan Ibnu Jarir menukil tafsir ini dari beberapa ulama salaf seperti ‘Ikrimah, Al Hasan, Ibnu Juraij dan As Suddi.

Abud Darda’ mengatakan, “Sesungguhnya kalian dikalahkan, tidak lain disebabkan perbuatan kalian sendiri” (Diriwayatkan Bukhari secara mu’allaq dalam kitab Al Jihad, Bab ‘Amalun Shalihun qablal Qital).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan, “Kalian mengatakan darimana datangnya kekalahan ini? Katakanlah kepada mereka, bahwa kekalahan itu tidak lain disebabkan oleh kesalahan diri kalian sendiri, di saat kalian saling berselisih dan berbuat durhaka ketika Allah menampakkan apa yang kalian sukai. Maka celalah diri kalian sendiri dan waspadailah berbagai sebab yang mendatangkan kehinaan (At Tafsir hal. 156).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala kaum kuffar unggul, maka hal tersbut disebabkan oleh dosa-dosa yang dilakukan kaum muslimin sehingga mengurangi keimanan mereka. Dan apabila mereka bertaubat dengan menyempurnakan iman mereka, maka Allah pun akan menolong mereka sebagaimana yang difirmankan Allah ta’alaa ,

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (Ali Imran: 139).

Allah juga berfirman,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” (Ali Imran: 165) (Al Jawabush Shahih 6/450).

Beliau mengatakan, “Adapun kemenangan di medan perang, sesungguhnya Allah ta’alaa terkadang memberikannya pada kaum kuffar sebagaimana Dia memberikan kemenangan pada kaum muslimin atas kaum kuffar. Hal tersebut sebagaimana yang terjadi pada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama musuh mereka, namun kesudahan yang baik hanya diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa karena Allah berfirman,

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)” (Ghafir: 51).

Apabila kaum muslimin lemah sedangkan musuh mereka mengungguli mereka, maka hal tersebut disebabkan dosa-dosa yang mereka perbuat, baik perbuatan tersebut dikarenakan menyepelekan kewajiban secara lahir dan batin atau disebabkan penentangan mereka sehinga melampaui batas-batas syari’at, baik lahir maupun batin. Allah ta’alaa berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) (Ali Imran: 155).

Allah ta’alaa berfirman,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” (Ali Imran: 165).

Allah ta’alaa berfirman,

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ  . الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar” (Al Hajj: 40-41) (Majmu’ul Fatawa 11/645; Lihat juga (8/239), (14/424).

Ibnul Qayyim mengatakan, “Seandainya seorang hamba kembali memperhatikan sebab yang mendorong terjadinya hal tersebut, tentulah menyibukkan diri untuk menolak penyebab lebih bermanfaat bagi dirinya ketimbang bertengkar dengan orang yang berbuat dzhalim padanya. Meskipun orang tersebut dzhalim, yang patut disadari, bahwa kezhaliman orang tersebut pada dirinya merupakan buah hasil dari dosanya. Allah ta’alaa berfirman,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” (Ali Imran: 165). Maka dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa gangguan dan kemenangan musuh kaum muslimin  atas mereka disebabkan kezhaliman yang dilakukan oleh kaum muslimin.

Allah ta’alaa berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu. Maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syuraa: 30) (Madarijus Salikin 2/240).

Ibnul Qayyim juga mengatakan, “Demikian juga pertolongan, keteguhan yang sempurna hanyalah diberikan bagi mereka yang memiliki keimanan yang sempurna pula. Allah ta’alaa berfirman,

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ

Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat) (Al Mu’min: 51).

Dia berfirman,

فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ

Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang (Ash Shaaf: 14).

Barangsiapa yang berkurang keimanannya, maka akan berkurang pula kadar pertolongan dan keteguhan yang akan diberikan padanya. Oleh karena itu, apabila seorang hamba ditimpa musibah, dari segi lahiriah,  harta atau penguasaan musuh atas dirinya, maka hal itu tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa mereka dalam meninggalkan kewajiban, melakukan berbagai keharaman dan semua hal itu dikarenakan kurangnya iman mereka.

Berdasarkan hal ini tersingkaplah kerumitan yang dialami sebagian besar orang dalam memahami firman Allah ta’alaa ,

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا

“Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman” (An Nisaa: 141).

Sebagian besar ulama mengatakan, bahwa Allah tidak akan memberikan peluang bagi orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman di akhirat kelak. Sedangkan yang lain mengatakan bahwa Allah tidak akan memberikan jalan bagi kaum kuffar untuk mengalahkan orang-orang beriman dari segi hujjah.

Konklusi dari kerumitan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut, ayat ini dan semisalnya menyatakan nihilnya peluang orang kafir untuk mengalahkan golongan yang memiliki keimanan yang sempurna. Apabila kekuatan iman melemah, maka akan terdapat celah bagi musuh untuk memusnahkan kaum muslimin, dan hal itu sebanding dengan kekurangan iman mereka. Maka kaum muslimin sendirilah yang membuat celah bagi musuh-musuh tersebut dikarenakan mereka berbuat durhaka kepada Allah.

Seorang mukmin akan senantiasa jaya, berkuasa, tertolong dan dibela oleh Allah dimanapun dia berada, walau seluruh manusia berkumpul untuk memusnahkannya. (Dan hal tersebut akan senantiasa berlaku) apabila dia senantiasa menegakkan hakikat iman dan segala kewajibannya, baik lahir maupun batin, karena Allah ta’alaa berfirman kepada orang-orang berfirman,

فَلا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu (Muhammad: 35).

Jaminan yang disebutkan dalam ayat ini disebabkan keimanan dan amal shalih yang mereka kerjakan. Iman dan amal shalih adalah salah satu tentara Allah, dengannya Allah menjaga orang-orang yang beriman. Dia tidak memisahkan dan memutus tentara-tentara tersebut dari mereka. Sebagaimana yang merugikan kaum kuffar dan munafik adalah amalan yang mereka kerjakan, disebabkan amalan tersebut diperuntukkan bagi selain-Nya serta menyelisihi perintah-Nya (Ighatsatul Lahfan 2/182).

Sesungguhnya apabila kaum muslimin kembali kepada agama mereka yang berlandaskan pada Al Qur-an, As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, maka Allah akan menolong mereka dan memberikan mereka kekuatan dan kekokohan sebagaimana firman-Nya,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku (An Nuur: 55).

Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’di mengatakan, “Janji yang tertera dalam ayat ini merupakan salah satu janji-Nya yang telah dipersaksikan benarnya. Sesungguhnya Dia menjanjikan kekuasaan di muka bumi bagi golongan dari umat ini yang beriman dan beramal shalih, sehingga jadilah mereka khalifah di muka bumi dan mengaturnya. Dan juga Allah akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridloi-Nya, yaitu agama Islam yang lebih unggul dari seluruh agama yang ada.

Dia meridloi Islam bagi umat ini disebabkan keutamaan, kemuliaan dan nikmat yang diberikan pada umat ini, dan juga Allah akan meneguhkan mereka dalam menegakkan syari’at agama ini bagi diri mereka dan selain mereka dari kalangan pemeluk agama lain dan seluruh kaum kuffar yang rendah dan hina. Dia juga akan merubah ketakutan di antara mereka menjadi aman sentausa, dimana salah seorang dari mereka dahulu tidak mampu untuk menampakkan agama dan keyakinannya dikarenakan gangguan kaum kuffar. Dan kondisi kaum muslimin sangat tidak sebanding dengan musuh-musuh mereka. Sebagian besar penduduk dunia menyerang mereka dari arah yang sama, mereka menganiaya kaum muslimin dengan berbagai tipu daya.

Allah menjanjikan kepada mereka dengan berbagai perkara tersebut ketika ayat ini diturunkan, walaupun jama’ah kaum muslimin pada saat itu belum menguasai dunia serta belum diberikan keteguhan dalam menjalankan agama serta keamanan yang sempurna. (Namun kesemuanya itu akan diperoleh) dikarenakan peribadatan mereka kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan juga mereka tidaklah takut melainkan kepada-Nya semata.

Generasi awal umat ini menegakkan iman dan amal shalih yang menjadi sebab keunggulan mereka atas kaum yang lain di saat itu. Maka Allah pun meneguhkan dan memperluas kekuasaan mereka di Barat dan Timur dunia, serta terwujudlah keamanan dan kejayaan yang sempurna di tengah-tengah mereka.

Hal ini merupakan salah satu diantara ayat Allah yang mengesankan dan berkilauan. Ketetapan ini akan senantiasa berlaku hingga hari kiamat kelak. Bilamana kaum muslimin beriman dan beramal shalih, maka pasti apa yang dijanjikan Allah kepada mereka akan terwujud. Dan sesungguhnya penguasaan kaum kuffar dan munafik terhadap mereka disebabkan kelalaian kaum muslimin dalam menegakkan iman dan amal shalih”.

Wahai kaum muslimin dan mukminin! Inilah jalan yang akan menghantarkan pada kejayaan Islam dan kaum muslimin, serta  keteguhan mereka di muka bumi. Berjalanlah di atasnya dan bersungguh-sungguhlah dalam menyebarkannya sehingga orang yang berjalan di atasnya bertambah banyak. Dan janganlah setan memperdaya dan menjerumuskan kalian, sehingga kalian menyangka metode/jalan ini sangat jauh untuk ditempuh dan tidak berkesudahan sehingga menghabiskan umur. (Janganlah kalian berpikiran demikian!) karena kita hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan perkara yang dicintai oleh-Nya dan rasul-Nya serta metode dalam menempuh tuntunan nabawi. Kita tidak dituntut untuk menunjukkan hasil apalagi memetik buahnya, Allah ta’alaa  a berfirman,

إِنْ عَلَيْكَ إِلا الْبَلاغُ

“Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)” (Asy Syuuraa: 48).

Yang patut kita sadari adalah seandainya Allah menginginkan agar seluruh objek dakwah mendapatkan hidayah, dan islam beserta kaum muslimin memperoleh kejayaan, maka tentulah Dia mampu untuk melakukannya sebagaimana firman-Nya,

وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الأرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Dan jika berpalingnya mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, Maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” (Al An’aam: 35).

Dan hendaknya anda senantiasa mengingat bahwa seorang yang terburu-buru dalam melakukan sesuatu, sebelum waktu yang tepat dan diperbolehkan, maka dirinya tidak akan mampu memetik hasilnya.

Catatan!

Sesungguhnya seorang yang memiliki pengetahuan meskipun sedikit akan kondisi umat Islam saat ini, dan dia seorang yang objektif, maka dia akan memandang bahwa seruan yang dilakukan sebagian orang untuk mengajak umat melakukan jihad ofensif terhadap kaum kuffar adalah perbuatan yang menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan. Hal tersebut disebabkan umat kita di zaman ini kehilangan kekuatan diniyahnya-hanya kepada Allah-lah tempat mengadu-. Bendera kesyirikan menjulang tinggi dan perbuatan kesyirikan seperti meminta kepada wali dan beribadah kepada mereka telah memasyarakat. Genderang tashawwuf dan bid’ah senantiasa ditabuh, dan betapa mencengangkan tatkala perbuatan ilhad(penyelewengan) dan tahrif(otak atik) terhadap berbagai nama dan sifat Allah yang dilakukan Asya’irah, Mu’tazilah dan Jahmiyah dijadikan sebagai kurikulum di sebagian besar universitas dan sekolah yang berlabel islami.

Adapun di medan dakwah maka akan kita temui berbagai kelompok yang membangun loyalitas dan disloyalitas berdasarkan kelompok, mereka mengikuti nafsu, kemanapun nafsu tersebut condong. Kita menemukan jama’ah yang bertujuan untuk menegakkan hukum Islam semata, sehingga mereka berupaya untuk memperbanyak kuantitas dan menyatukan mereka tanpa menjadikan agama sebagai tolok ukur dengan dalih maslahah. Mereka mengumpulkan manusia agar berdiri bersama mereka demi mencapai tujuan yang hilang seperti yang dilakukan jama’ah Ikhwanul Muslimin.

Di sudut lain, terdapat jama’ah yang bertujuan untuk menyebarkan hidayah kepada objek dakwahnya walau tidak dilandasi metode yang lurus. Oleh karena itu, anda akan melihat mereka justru menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam keharaman, semata-mata agar objek dakwahnya mendapatkan hidayah. Sehingga anda dapat melihat sebagian besar dari pengikut jama’ah ini adalah orang-orang jahil, tidak memiliki ilmu. Hal inilah yang dilakukan kelompok seperti jama’ah tabligh.

Dan yang mengherankan dari kedua jama’ah ini adalah keduanya tidak menyeru umat untuk menegakkan tauhid dan mencampakkan syirik dengan dalih seruan tersebut dapat memecah belah manusia.

Adapun kerusakan akhlak dan tradisi latah terhadap berbagai trend Barat dan kaum kuffar merupakan pedoman sebagian besar kaum muslimin terlebih kaum muda-mudinya.

Apabila kondisi umat sedemikian rupa, maka umat ini adalah umat yang zhalim, dan pantaslah jika yang memerintah mereka adalah golongan yang semisal dengan mereka sebagaimana firman Allah ta’alaa  a,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan” (Al An’aam: 129).

Maka layaknya kondisi kalian, maka kalian pun akan diperintah oleh golongan yang sejenis dengan kalian. Dan mereka pun jauh dari pertolongan Allah dikarenakan mereka tidak menolong agama Allah. Allah ta’alaa berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Muhammad: 7).

Dari segi kekuatan dan persenjataan, maka kondisi kita sangat lemah jika dibandingkan dengan musuh kita. Kaum kuffar merupakan produsen persenjataan dan kita dapat dibinasakan dengan apa yang mereka produksi. Oleh karenanya, metode yang manjur untuk meraih kejayaan dan keteguhan umat adalah kembali kepada agama Allah dan berdakwah secara bertahap, apabila satu pintu tertutup maka dakwah dapat masuk ke dalam pintu yang lain dan demikian seterusnya. Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar” (Ath Thalaaq: 2).

Adapun mereka yang menyeru umat untuk berjihad melawan kaum kuffar pada saat ini, pada hakekatnya mereka berusaha untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan tanpa mereka sadari.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Jika seseorang bertanya, mengapa kita tidak memerangi Amerika, Rusia, Perancis dan Inggris pada saat ini? Maka kita jawab bahwa hal itu tidak memungkinkan karena ketidakmampuan kaum muslimin untuk melakukannya. Persenjataan yang berada di tangan kita jauh tertinggal dengan persenjataan yang mereka miliki. Jika dibandingkan, maka kita bagaikan menghadapi roket-roket yang mereka miliki dengan menggunakan pisau-pisau dapur, hal itu tentunya tidak bermanfaat sedikit pun. Jadi, bagaimana mungkin kita menghadapi mereka?

Oleh karena itu, aku katakan: “Termasuk kedunguan apabila ada seorang yang mengatakan wajib bagi kita untuk mengangkat senjata melawan Amerika, Perancis, Inggris dan Rusia. Bagaimana bisa kita memerangi mereka? Hal ini ditentang oleh hikmah dan syariat-Nya ‘azza wa jalla. Akan tetapi yang wajib kita persiapkan adalah melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya kepada kita,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi “ (Al Anfaal: 60).

Inilah yang wajib untuk kita laksanakan, yaitu mempersiapkan segala kekuatan yang kita miliki untuk menghadapi mereka. Dan persiapan yang paling penting untuk kita persiapkan adalah iman dan takwa (Syarh Bulughil Maram, kitab Al Jihad, kaset 1 side A).

Bahkan menghidupkan ruh jihad di belahan bumi Islam yang dikuasai oleh kaum kuffar tidak diperkenankan, jika akan menimbulkan berbagai kerugian yang besar seperti kebinasaan kaum muslimin atau bertambahnya kekuasaan bagi kaum kuffar sebagaimana yang kita saksikan di sekeliling kita.

Catatan Berharga Sebagian kelompok yang menyerukan jihad, menyanggah pendapat yang meniadakan tegaknya jihad di saat ini dikarenakan lemahnya kondisi kita. Mereka menyanggah pendapat tersebut dengan dua hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال عصابة من المسلمين يقاتلون على الحق ظاهرين على من ناوأهم يوم القيامة “

Sekelompok dari kaum muslimin akan senantiasa berperang di ats kebenaran, mereka akan menang atas orang-orang yang memusuhi mereka hingga hari kiamat” (Takhrij hadits ini disebutkan oleh Syeikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah 3/269).

Dalam shahih Muslim, Abdullah bin Amru ibnul Ash berkata:

“Kiamat hanya akan dialami oleh makhluk yang paling buruk, mereka lebih buruk dari kaum jahiliyah terdahulu. Tidaklah mereka berdo’a kepada Allah, melainkan Allah menolak do’a mereka.” Tatkala manusia sedang mendengarkan Abdullah bin Amru ibnul Ash, maka datanglah Uqbah bin ‘Amir, maka Maslamah berkata padanya, “Wahai Uqbah! Dengarkanlah apa yang dikatakan Abdullah” Maka berkatalah Uqbah, “Dia lebih tahu akan apa yang dikatakannya. Namun aku mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekelompok dari umatku akan senantiasa berperang di jalan Allah, mereka unggul atas lawan-lawannya. Orang yang menyelisihi, tidak mampu membahayakan mereka hingga hari kiamat dan kondisi mereka senantiasa dalam keadaan demikian.” Maka Abdullah pun berujar, “Benar apa yang engka katakan! Kemudian Allah akan mengutus angin yang semerbak minyak kasturi dan selembut sutra. Setiap orang yang memiliki keimanan meski seberat biji sawi, nyawanya  akan tercabut apabila menciumnya, sehingga yang tersisa pada saat itu hanyalah manusia yang paling buruk dan merekalah yang akan mengalami kiamat.” (HR. ?).

Sang penentang itu berujar, “Dalam dua hadits ini atau hadits yang semakna dengannya terkandung penegasan akan kontinuitas jihad di setiap saat dan sesunguhnya kaum muslimin tidak akan pernah terputus darinya hingga mereka mencium angin yang semerbak tersebut.”

Apa yang dipahami oleh penentang tersebut tertolak dari tiga sisi,

Pertama, sesungguhnya perbuatan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bukti terbanyak dan terkuat bahwa peperangan yang beliau lakukan tidak berlangsung terus menerus. Terkadang terdapat jeda waktu antara peperangan yang satu dengan yang lain. Hal ini merupakan bantahan yang teramat jelas bagi mereka yang berdalil dengan teks berbagai hadits tersebut.

Kedua, Sesungguhnya Isa ‘alaihissalam apabila diturunkan, maka dia akan memerangi Yahudi dan kaum musyrik lainnya. Dan apabila Allah mengeluarkan bangsa Ya’juj dan Ma’juj, maka Allah mewahyukan padanya agar tidak memerangi mereka dikarenakan dirinya tidak memiliki kekuatan, namun Allah memerintahkan beliau untuk mengajak orang yang bersama beliau untuk menyelamatkan diri ke bukit Thur. Diriwayatkan Muslim dari An Nuwwas bin Sam’an. Perhatikanlah hal ini, Isa ‘alaihissalam tidak terus menerus berperang, hingga dirinya mencium angin yang semerbak tersebut.

Ketiga, sesungguhnya as-sunnah saling menafsirkan antara yang satu dengan yang lain. Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk mengambil sebagian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membangun pendapat berdasarkan hal itu tanpa memperhatikan sabda beliau lainnya yang menafsirkan sabda beliau yang terdahulu. Terdapat berbagai indikasi yang menyatakan bahwa jihad ofensif tidak diperbolehkan dalam keadaan lemah dan kewajiban jihad defensif gugur apabila musuh telah berkuasa.

Apabila ada yang bertanya, “Maka, apakah makna kedua hadits tersebut?”

Maka kita jawab, “Makna kedua hadits tersebut adalah akan senantiasa ada golongan yang menegakkan perintah Allah dan di antara perintah tersebut adalah kewajiban untuk menegakkan jihad apabila telah datang waktunya yang ditandai dengan terwujudnya kekuatan imaniyah, militer serta terdapat maslahat yang berarti bagi Islam dan kaum muslimin dengan penegakan jihad tersebut.”

Sebagian penentang tersebut menyanggah dengan peristiwa jihad kaum muslimin tatkala menghadapi Tartar.

Maka hal ini dijawab: Bantahan akan hal tersebut bisa dari beberapa segi, namun aku cukupkan dengan dua bantahan,

Pertama, sesungguhnya jihad kaum muslimin terhadap kaum Tartar termasuk jihad defensif bukan ofensif.

Kedua, peristiwa tersebut adalah peristiwa sejarah. Andai kita anggap ada pertentangan antara peristiwa tersebut dengan berbagai dalil yang ada, maka dalil-dalil syar’i tidaklah ditolak dengan menggunakan peristiwa sejarah.

Artikel: www.wahonot.wordpress.com

Kunjungi blog kami yang lain:

www.pustakaalbayaty.wordpress.com

www.tokoherbalonline.wordpress.com

InsyaAlloh berlanjut…………

About wahonot

I a salafy man

Posted on Agustus 18, 2009, in Adab, Aqidah, keluarga, Manhaj, Muamalah, Muslimah, Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: