Jihad Syar’i (Bagian 3)

Oleh : Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Rais Alu Rais

Syarat Penegakan Jihad

Apabila hal ini telah jelas, bahwa jihad merupakan sarana untuk menegakkan agama Allah di permukaan bumi, maka sebelum menyeru untuk berjihad, perlu diadakan studi fiqih dan penelitian  yang intensif dan teliti, apakah seruan untuk menegakkan sarana ini (yaitu jihad) mampu merealisasikan tujuan yang dimaksud, yaitu tegaknya agama Allah di muka bumi?

Diantara faktor pembantu untuk memahami keadaan kaum muslimin, bahwasanya jika mereka berada dalam kondisi lemah, dari segi persiapan dan senjata dibandingkan musuh, maka mereka tidak diperkenankan untuk menempuh rel jihad dan peperangan terhadap musuh dikarenakan lemahnya kondisi mereka. Dan yang memperjelas hal tersebut adalah bahwasanya Allah tidak memerintahkan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya untuk memerangi kaum kuffar tatkala mereka berada di Mekkah, hal ini disebabkan lemahnya kondisi mereka dar segi persiapan dan senjata.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk menahan diri dari memerangi kaum kuffar disebabkan kelemahan dirinya dan kaum muslimin untuk melakukan hal tersebut. Kemudian tatkala beliau berhijrah ke Madinah sehingga memiliki kekuatan untuk menolong beliau, maka Allah pun mengijinkan beliau untuk berjihad.

Dan tatkala kekuatan mereka bertambah, ditetapkanlah perintah berperang atas mereka, walaupun belum diperintahkan untuk memerangi kabilah-kabilah yang mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dikarenakan kaum muslimin pada saat itu belum mampu untuk memerangi seluruh kaum kuffar.

Tatkala Allah menaklukkan Makkah bagi mereka dan tali peperangan dengan kaum kafir Quraisy beserta para raja Arab terputus serta berbagai utusan Arab mengirim duta mereka untuk menyatakan keislaman kepada beliau, maka Allah memerintahkan untuk memerangi seluruh kaum kuffar kecuali mereka yang memiliki perjanjian damai yang bertempo dan Allah memerintahkan untuk membatalkan berbagai perjanjian damai yang bersifat mutlak, sehingga faktor yang menghapus dan membatalkan kewajiban jihad adalah ketika perang tidak mungkin dilakukan.” (Al Jawabush Shahih 1/237).

Beliau juga mengatakan lebih lanjut, “Dan sebab hal tersebut adalah karena menyelisihi kaum kuffar tidak akan terealisasikan  melainkan dengan terwujudnya kejayaan agama ini yang dibuktikan dengan adanya jihad, dan memaksa orang kafir untuk membayar jizyah dan untuk tetap dalam keadaan hina. Tatkala di awal perkembangannya, kaum muslimin berada dalam kondisi lemah, menyelisihi kaum kuffar belum disyari’atkan. Setelah agama ini telah sempurna dan jaya, maka barulah menyelisihi (baca:tidak tasyabbuh) tersebut disyari’atkan bagi kaum muslimin (Iqtidlaush Shirathal Mustaqim 1/420).

Beliau mengatakan, “Hal tersebut (yaitu diperanginya seluruh kaum kuffar dan penarikan jizyah dari ahli kitab-pent) merupakan hasil dari kesabaran dan ketakwaan yang diperintahkan Allah pada permulaan Islam, pada saat itu tidak ada satupun jizyah yang ditarik dari kaum Yahudi yang berdiam di Madinah maupun dari selain mereka. Sehingga berbagai ayat yang memerintahkan untuk bersabar dan menahan diri berlaku bagi setiap mukmin yang lemah dan tidak mampu untuk menolong agama Allah dan rasul-Nya dengan lisan dan tangannya, maka dirinya menolong agama Allah sesuai kemampuannya pada saat itu, yaitu dengan hati atau semisalnya.

Dan ayat yang menunjukkan untuk memerangi kaum kuffar dan pengambilan jizyah (At Taubah: 29, pent), diperuntukkan bagi kaum kuffar yang memiliki perjanjian dengan kaum mukminin dan berlaku bagi setiap mukmin yang memiliki kekuatan dan mampu untuk menolong agama Allah dan rasul-Nya dengan kekuatan lisan dan tangannya.

Berdasarkan ayat inilah kaum muslimin mempraktekkan hal tersebut di akhir kehidupan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Demikian juga akan tetap ada golongan dari umat ini yang tegak di atas kebenaran, menolong agama Allah dengan semaksimal mungkin hingga hari kiamat tiba.

Maka, setiap mukmin yang berada di suatu negeri atau di suatu waktu dan dalam keadaan lemah, maka hendaknya dirinya mempraktekkan kandungan ayat yang memerintahkan untuk bersabar dan menahan diri dari kaum musyrikin dan ahli kitab yang menyakiti Allah dan rasul-Nya. Adapun mereka yang memiliki  kekuatan, maka hendaknya dia mempraktekkan ayat yang memerintahkan untuk memerangi para penghulu kekufuran yang mencela agama, dan juga mempraktekkan ayat yang memerintahkan untuk memerangi ahli kitab hingga mereka memberikan jizyah dari tangan-tangan mereka sedangkan mereka dalam keadaan hina (Ash Sharimul Maslul 2/413).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan, “Seluruh ayat ini mengandung perintah untuk berperang di jalan Allah. Hal ini ditetapkan setelah peristiwa hijrah ke Madinah. Tatkala kaum muslimin kuat untuk berperang, maka Allah pun memerintahkan mereka untuk melakukannya setelah dulunya mereka diperintah untuk menahan diri dari berperang (At Tafsir hal. 89).

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “(Diantara hikmah perintah untuk bersabar dan menahan diri dari kaum musyrikin) adalah apabila perintah untuk berperang dibebankan pada mereka pada saat minimnya jumlah dan persenjataan mereka sedangkan musuh dalam kondisi prima, maka hal tersebut akan menggiring kepada kehancuran Islam. Oleh karena itu, maslahat yang besar lebih diutamakan ketimbang yang lain. Dan masih banyak hikmah lain yang terkandung dalam perintah tersebut.

Sebagian kaum mukminin menginginkan jika perintah berperang ditetapkan atas mereka pada saat yang tidak memungkinkan tersebut, namun yang  sepatutnya mereka kerjakan pada saat itu adalah menegakkan perintah yang diperintahkan kepada mereka saat itu, yaitu tauhid, shalat, zakat dan semisalnya sebagaimana firman Allah ta’alaa ,

( وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًاÇÏÏÈ

Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) (An Nisaa: 66).

Tatkala mereka hijrah ke Madinah dan Islam menjadi kuat, maka ditetapkanlah perintah berperang atas mereka pada saat yang tepat untuk melakukan hal tersebut (At Tafsir hal. 188).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Dalam melakukan hal tersebut harus diiringi dengan syarat, yaitu adanya kemampuan dan kekuatan yang dimiliki kaum muslimin sehingga sanggup untuk berperang. Apabila hal tersebut tidak mereka miliki, maka sesungguhnya memaksa mereka untuk turut berperang merupakan bentuk penceburan diri ke dalam kebinasaan. Oleh karena itu, Allah tidak mewajibkan kaum muslimin untuk berperang tatkala mereka berada di Mekkah, hal ini dikarenakan mereka dalam kondisi lemah dan tidak berdaya. Dan tatkala mereka telah berhijrah ke Madinah kemudian membentuk negara Islam dan berkekuatan, merekapun diperintahkan untuk berperang. Berdasarkan hal ini, maka syarat ini harus senantiasa ada dalam peperangan yang akan diadakan kaum muslimin. Apabila hal tersebut tidak ada, maka kewajiban untuk berperang gugur, sebagaimana berbagai kewajiban yang lain sebab segala kewajiban dipersyaratkan adanya kemampuan dalam pelaksanaannya. Allah ta’alaa berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ÇÊÏÈ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (At Taghabuun: 16).

Dia juga berfirman,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا  ÇËÑÏÈ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Al Baqarah: 286). (Asy Syarhul Mumti’ 8/9).

Setelah menjelaskan keutamaan jihad, kedudukannya yang agung dalam syari’at Islam, beliau juga mengatakan, sebagai jawaban atas pertanyaan yang berkaitan dengan urgensi komunitas muslim untuk berjihad di jalan Allah, apakah wajib atau diperkenankan (bagi kaum muslimin) untuk berperang tanpa  adanya persiapan?

Jawaban:

Tidak wajib dan tidak diperkenankan. Kita tidak siap untuk melakukannya. Allah tidak mewajibkan nabi-Nya, tatkala beliau berada di Mekah untuk memerangi kaum musyrikin dan Allah juga mengizinkan beliau untuk mengadakan perjanjian damai bersama kaum musyrikin di Hudaibiyah, yang apabila isi perjanjian tersebut dibaca baik-baik tentulah dirinya akan berpikir bahwa perjanjian tersebut amat menghinakan kaum muslimin.

Sebagian  besar di antara kalian tentu mengetahui kejadian Hudaibiyah, hingga Umar ibnul Khaththab mengatakan: Wahai rasulullah! Bukankah kita berada di atas kebenaran, sedangkan musuh kita berada di atas kebatilan? Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya”. Umar pun kembali berkata, “Maka mengapa kita menghinakan agama kita? Beliau radliallahu ‘anhu menganggap perjanjian ini adalah bentuk kehinaan bagi Islam. Akan tetapi, tidak diragukan lagi bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih tahu daripada Umar dan sesungguhnya Allah ta’alaa telah mengizinkan beliau untuk melakukan hal tersebut, maka beliau pun berkata, “Sesunguhnya aku ini adalah rasulullah dan tidaklah aku mendurhakai-Nya dan hanya Dia-lah penolongku.” (HR???, baca buku2 siroh).

Walaupun perjanjian tersebut nampaknya merugikan kaum muslimin (namun mereka tetap tunduk terhadap perintah Rabb mereka dan rasul-Nya-pent). Hal ini menunjukkan kepada kita, wahai saudaraku suatu hal yang penting, yaitu kokohnya kepercayaan seorang mukmin kepada Rabb-nya.

Yang terpenting adalah jihad tetap diwajibkan atas kaum muslimin hingga kalimat Allah jaya dan seluruh ketaatan hanya menjadi milik Allah semata. Akan tetapi, pada saat ini kaum muslimin tidak memiliki perlengkapan yang dapat digunakan untuk berjihad melawan kaum kuffar, walaupun untuk sekedar melakukan jihad mudafa’ah (difensif) apalagi jihad muhajamah (ofensif). Tidak diragukan lagi hal tersebut tidak mungkin dilakukan pada saat ini, hingga Allah mendatangkan suatu umat yang sadar lalu mengumpulkan persiapan iman, fisik serta kemiliteran. Adapun kondisi kita sekarang tidak memungkinkan untuk melaksanakan kewajiban jihad (Liqaul Khamis Ats Tsalits wats Tsalatsiin fii Syahri Shafr tahun 1414 H, Pertemuan berkala ke-33 dengan Ibnu Utsaimin pada setiap hari Kamis pada bulan Shafar tahun 1414H ).

Diantara bukti yang mempertegas bahwa kekuatan adalah syarat dalam memulai jihad ofensif adalah Allah mempersyaratkan keseimbangan jumlah, yaitu seorang muslim berhadapan dengan dua orang kafir sebagaimana firman Allah ta’alaa ,

الآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ  ÇÏÏÈ

”Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar (Al Anfaal: 66).

Apabila jumlah pasukan kaum kuffar tiga kali lipat dari total pasukan kaum muslimin, maka peperangan tidaklah wajib bagi mereka dan diperkenankan bagi mereka untuk lari dari peperangan sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat tatkala  perang Muktah. Maka hal ini mempertegas bahwa kekuatan merupakan syarat dalam menegakkan jihad.

Dalil yang juga mendukung hal ini adalah hadits yang dikeluarkan oleh Muslim dari An Nuwwas bin Sam’an dalam kisah Isa takala membunuh Dajjal, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika Isa sedang bersama dengan suatu kaum yang dilindungi Allah dari Dajjal, maka Allah mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak mampu dikalahkan oleh siapapun. Karena itu selamatkanlah para hamba-Ku ke bukit”, yaitu kumpulkanlah mereka di bukit Thur. Kemudian  Allah pun mengeluarkan Ya’juj dan Ma’juj.” (HR. Muslim nomor 5228).

An Nawawi berkata, “Para ulama mengatakan maknanya adalah tidak ada kemampuan dan kekuatan untuk menghadapi kaum tersebut. Kemudian mereka mengatakan, (Mereka diperintahkan untuk bergegas menuju bukit Thur) dikarenakan lemahnya kondisi mereka untuk menghadapi kaum Ya’juj da Ma’juj. Adapun sabda Nabi “حرزهم إلى الطور maknanya adalah kumpulkanlah dan buatlah tempat perlindungan bagi para hamba-Ku (Syarh Muslim 18/68).

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa tatkala kekuatan Isa ‘alaihis salam lebih lemah dibandingkan kekuatan Ya’juj dan Ma’juj, maka Allah memerintahkan beliau untuk tidak memerangi dan berjihad melawan mereka.

Maka hal ini menunjukkan bahwa kekuatan adalah syarat untuk menegakkan jihad.

Artikel: www.wahonot.wordpress.com

Kunjungi blog kami yang lain:

www.pustakaalbayaty.wordpress.com

www.tokoherbalonline.wordpress.com

InsyaAlloh berlanjut…………

About wahonot

I a salafy man

Posted on Agustus 18, 2009, in Adab, Aqidah, keluarga, Manhaj, Muamalah, Muslimah, Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: