Jihad Syar’i (Bagian 2)

Oleh : Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Rais Alu Rais

Dari Al Harits Al Asy’ary radliallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ وَالْجِهَادُ وَالْهِجْرَةُ وَالْجَمَاعَةُ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قِيدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَّا أَنْ يَرْجِعَ وَمَنْ ادَّعَى دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ فَإِنَّهُ مِنْ جُثَا جَهَنَّمَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ صَلَّى وَصَامَ قَالَ وَإِنْ صَلَّى وَصَامَ فَادْعُوا بِدَعْوَى اللَّهِ الَّذِي سَمَّاكُمْ الْمُسْلِمِينَ الْمُؤْمِنِينَ عِبَادَ اللَّهِ

“Aku memerintahkan kalian dengan lima perkara yang diperintahkan Allah kepadaku, yaitu mendengar dan ta’at terhadap penguasa (dalam perkara yang bukan kemaksiatan-pent), berjihad, berhijrah, dan berpegang teguh dengan jama’ah. Barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah meski hanya satu jengkal, sesungguhnya dia telah menanggalkan ikatan Islam dari lehernya, kecuali dirinya kembali bersama jama’ah. Dan barangsiapa yang menyerukan seruan jahiliyah, maka dirinya termasuk tumpukan batu jahannam. Kemudian seorang lelaki bertanya, “Walaupun dia melaksanakan shalat dan puasa, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Ya, ,meski dia shalat dan berpuasa, oleh karenanya serukanlah seruan Allah, Dzat yang menamai kalian kaum muslimin, mukminin dan hamba Allah.” (HR. Ahmad nomor 16542, 17132, 21835; Tirmidzi nomor 2790; Dishahihkan oleh Al ‘Allamah Al Albani dalam Shahih Tirmidzi).

Yang dimaksud dengan الجثى , merupakan jamak dari جثوة dengan huruf jim didlommah, maksudnya sesuatu yang ditumpuk sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Atsir dalam An Nihayah.

Sisi pendalilan dari hadits ini adalah tercelanya dakwah (seruan) kepada sesuatu selain Islam, dan itulah yang dimaksud dengan seruan jahliyah. Di samping itu, hadits ini juga menunjukkan perintah untuk menyeru kepada Islam.

Hadits ini mengandung berbagai faidah dan masalah, akan saya ringkas sebagian hal tersebut dalam dua pokok.

Pertama, pensyari’atan jihad

Betapa banyak dalil Al Qur-an dan sunnah yang memerintahkan unntuk berjihad serta menerangkan berbagai keutamaannya sebagaimana firman Allah ta’alaa ,

وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah.” (At Taubah: 41).

Allah ta’laa berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ .تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Ash Shaaf: 10-11).

Bukhari dan Muslim  meriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Pergi di pagi hari atau di sore hari dalam rangka jihad di jalan Allah itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari nomor 2583; Muslim nomor 3492; Tirmidzi nomor 1575; Ahmad nomor 11900, 11984, 12098, 12685, 15012, 15014, 21260).

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

انْتَدَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ لَا يَخْرُجُ إِلَّا جِهَاد فِي سَبِيلِي وَإِيمَان بِي وَتَصْدِيق بِرَسُولِي فَهُوَ عَلَيَّ ضَامِنٌ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ أُرْجِعَهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ نَائِلًا مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ

“Allah senantiasa menganjurkan orang untuk berjihad di jalan-Nya. Tidak ada yang berangkat melainkan karena berjihad di jalan-Ku, iman kepada-Ku dan membenarkan (risalah yang dibawa oleh) rasul-Ku, maka Aku jamin dirinya untuk masuk surga atau Aku kembalikan dirinya ke rumahnya sembari pulang membawa pahala beserta ghanimah.” (Lafadz yang dibawakan Syaikh tidak kami temukan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, namun lafadz ini kami temukan dalam Musnad Imam Ahamd nomor 8620).

Ibnu Qudamah berkata mengenai hukum jihad, “Jihad merupakan salah satu diantara kewajiban yang hukumnya fardlu kifayah berdasarkan pendapat sebagian besar ulama’. Dan terdapat pendapat yang diriwayatkan dari Sa’id ibnul Musayyib bahwa beliau berpendapat hukum jihad adalah fardlu ‘ain.

Kemudian Ibnu Qudamah menukil firman Allah ta’alaa

,لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (An Nisaa’: 95).

Firman Allah ta’alaa ini menunjukkan bahwa kaum muslimin yang tidak mengikuti jihad tidaklah berdosa  sementara yang lain ikut berjihad. Allah ta’alaa berfirman,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At Taubah: 122) dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengirim berbagai pasukan sedangkan belaiu beserta para sahabat yang lain tetap tinggal di Madinah dan tidak ikut berjihad (Al Mughni 13/6).

Al Atsram mengatakan, “Ahmad berkata: “Kami tidak mengetahui amalan kebaikan yang paling baik melainkan berjihad di jalan Allah.”

Al Fadl bin Ziyad mengatakan, “Aku pernah melihat Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad), ketika disebutkan perkara jihad kepadanya tiba-tiba dirinya menangis sembari mengatakan, “Tidak ada amal kebaikan yang lebih baik melainkan amalan jihad”. Dalam riwayat yang lain Imam Ahmad berkata, “Tidak ada satupun amal yang sebanding dengan amalan menghadapi musuh (ketika berada di medan jihad).” (Al Mughni 13/10-11).

Namun sebagian ulama lain lebih mengutamakan amalan shalih lainnya ketimbang jihad sebagaimana mayoritas ulama’ lebih mengutamakan menuntut ilmu (dari pada jihad) dan menjadikannya sebagai amalan yang paling utama (Lihat Minhajus Sunnah 6/75; Al Furu’ 1/465, 467, 470; Al Adabusy Syari’ah 2/43, 44, 162).

Akan tetapi yang dimaksudkan dari menjelaskan perbedaan ulama tentang hal ini bukan untuk menjelaskan perkara mana yang lebih afdlal, namun yang dimaksudkan adalah untuk menunjukkan betapa agungnya kedudukan jihad.

Kedua, Jihad adalah Sarana Tegaknya Agama Allah

Apabila anda telah memahami apa yang telah disampaikan tadi, maka hendaknya anda memperhatikan hal berikut:

Sesungguhnya jihad melawan musuh dan memerangi mereka adalah perkara yang disyari’atkan karena dilatarbelakangi oleh  adanya faktor eksternal (sebagai perantara bukan tujuan-pent), yaitu menegakkan agama Allah di permukaan bumi. Jihad bukanlah tujuan, sebagaimana firman Allah ta’alaa ,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ

“dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. “ (Al Baqarah: 193).

Ibnu Jarir Ath Thabari mengatakan, “Perangilah mereka hingga tidak terdapat lagi kesyirikan dan tidak ada sesembahan lain yang disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Terkikislah fitnah kesyirikan yang menimpa hamba Allah di permukaan bumi dan ketaatan hanya diperuntukkan kepada Allah semata. Beliau juga mengatakan, “Hingga ketaatan dan peribadatan hanya diperuntukkan kepada Allah semata tidak kepada selain-Nya.  Dan senada dengan apa yang telah kami sampaikan perkataan ahli tafsir lainnya”, kemudian beliau menyebutkan beberapa perkataan ahli tafsir lainnya semisal sahabat Ibnu ‘Abbas, Al Hasan, Qatadah, As Suddi, Ibnu Juraij dan selain mereka rahimahumullah.” (At Tafsir 9/162).

Abu Abdillah Al Qurthubi mengatakan, “Ayat dan hadits ini menunjukkan bahwa sebab ditegakkannya jihad adalah (untuk memberantas) kekufuran, karena Allah berfirman,

“حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ” sehingga tidak ada fitnah lagi . yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah kekafiran. Allah menjadikan tujuan jihad adalah memberantas kekufuran. Penjelasan ini adalah suatu yang gamblang (At Tafsir 2/354).

Ibnu Daqiqil ‘Ied berkata, “(Hal tersebut) dikarenakan jihad merupakan perantara untuk mengumumkan dan menyebarkan agama ini serta memadamkan api kekufuran, sehingga keutamaan berjihad selaras dengan tujuan tersebut” (Fathul Baari, kitab Al Jihad, bab Fadlul Jihad).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan, “Kemudian Allah ta’alaa menyebutkan bahwa maksud penegakan jihad di jalan-Nya serta menjelaskan bahwa tujuan hal tersebut bukanlah sekedar untuk menumpahkan darah orang-orang kafir dan mengambil harta mereka. Tujuan ditegakkannya jihad adalah agar ketaatan hanya diperuntukkan kepada Allah semata, sehingga agama ini unggul di atas seluruh agama lainnya dan kesyirikan dan segala perkara yang berseberangan dengan hal tersebut dapat diberantas, dan inilah yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat tersebut. Apabila tujuan ini telah terealisasikan, maka pada saat itu jihad dan pembunuhan tidak lagi diteruskan.”

Dalam hadits Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Barangsiapa yang berjihad dalam rangka untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah jihad fi sabilillah.” (HR. Bukhari nomor 120, 2599, 2894, 6904; Muslim nomor 3525, 3526).

Ibnu Taimiyah berkata, “Memberikan hukuman karena berbagai kewajiban ditelantarkannya dan berbagai yang haram dilakukannya, merupakan sebab ditegakkannya jihad di jalan Allah.” (Majmu’ul Fatawa 28/308).

Ibnul Qayyim mengatakan, “Atas dasar inilah-yaitu tauhid- dihunuslah pedang-pedang jihad.” (Zaadul Ma’ad 1/34, A’lamul Muwaqi’in 1/4).

Jika jihad merupakan tujuan maka tentulah kewajiban jihad tidak akan dihentikan dengan adanya pengambilan jizyah sebagaimana firman Allah ta’alaa ,

قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan hina. (At Taubah: 29).

Dalam hadits dari Buraidah dalam shahih Muslim, “Dahulu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat seorang pemimpin bagi  suatu pasukan atau utusan, maka beliau menasehatinya secara pribadi untuk bertakwa kepada Allah dan untuk kaum muslimin yang menyertainya secara umum. Kemudian beliau berkata, “Bertempurlah dengan mengucapkan nama Allah di jalan Allah, bunuhlah mereka yang kafir terhadap Allah, berperanglah dan janganlah menipu, janganlah berkhianat, janganlah mecincang mayat musuh, dan janganlah membunuh anak-anak kecil. Apabila engkau bertemu dengan musuhmu dari kalangan musyrikin,serulah mereka untuk memilih satu dari tiga pekara, ajaklah mereka kepada Islam, jika mereka menolak tawarkanlah jizyah kepada mereka, jika mereka tetap menolak,maka perangilah mereka.” (HR. Muslim nomor 3261).

Dari Al Harits Al Asy’ary radliallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ وَالْجِهَادُ وَالْهِجْرَةُ وَالْجَمَاعَةُ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قِيدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَّا أَنْ يَرْجِعَ وَمَنْ ادَّعَى دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ فَإِنَّهُ مِنْ جُثَا جَهَنَّمَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ صَلَّى وَصَامَ قَالَ وَإِنْ صَلَّى وَصَامَ فَادْعُوا بِدَعْوَى اللَّهِ الَّذِي سَمَّاكُمْ الْمُسْلِمِينَ الْمُؤْمِنِينَ عِبَادَ اللَّهِ

“Aku memerintahkan kalian dengan lima perkara yang diperintahkan Allah kepadaku, yaitu mendengar dan ta’at terhadap penguasa (dalam perkara yang bukan kemaksiatan-pent), berjihad, berhijrah, dan berpegang teguh dengan jama’ah. Barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah meski hanya satu jengkal, sesungguhnya dia telah menanggalkan ikatan Islam dari lehernya, kecuali dirinya kembali bersama jama’ah. Dan barangsiapa yang menyerukan seruan jahiliyah, maka dirinya termasuk tumpukan batu jahannam. Kemudian seorang lelaki bertanya, “Walaupun dia melaksanakan shalat dan puasa, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Ya, ,meski dia shalat dan berpuasa, oleh karenanya serukanlah seruan Allah, Dzat yang menamai kalian kaum muslimin, mukminin dan hamba Allah.” (HR. Ahmad nomor 16542, 17132, 21835; Tirmidzi nomor 2790; Dishahihkan oleh Al ‘Allamah Al Albani dalam Shahih Tirmidzi).

Yang dimaksud dengan الجثى , merupakan jamak dari جثوة dengan huruf jim didlommah, maksudnya sesuatu yang ditumpuk sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Atsir dalam An Nihayah.

Sisi pendalilan dari hadits ini adalah tercelanya dakwah (seruan) kepada sesuatu selain Islam, dan itulah yang dimaksud dengan seruan jahliyah. Di samping itu, hadits ini juga menunjukkan perintah untuk menyeru kepada Islam.

Hadits ini mengandung berbagai faidah dan masalah, akan saya ringkas sebagian hal tersebut dalam dua pokok.

Pertama, pensyari’atan jihad

Betapa banyak dalil Al Qur-an dan sunnah yang memerintahkan unntuk berjihad serta menerangkan berbagai keutamaannya sebagaimana firman Allah ta’alaa ,

وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah.” (At Taubah: 41).

Allah ta’laa berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ .تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Ash Shaaf: 10-11).

Bukhari dan Muslim  meriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Pergi di pagi hari atau di sore hari dalam rangka jihad di jalan Allah itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari nomor 2583; Muslim nomor 3492; Tirmidzi nomor 1575; Ahmad nomor 11900, 11984, 12098, 12685, 15012, 15014, 21260).

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

انْتَدَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ لَا يَخْرُجُ إِلَّا جِهَاد فِي سَبِيلِي وَإِيمَان بِي وَتَصْدِيق بِرَسُولِي فَهُوَ عَلَيَّ ضَامِنٌ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ أُرْجِعَهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ نَائِلًا مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ

“Allah senantiasa menganjurkan orang untuk berjihad di jalan-Nya. Tidak ada yang berangkat melainkan karena berjihad di jalan-Ku, iman kepada-Ku dan membenarkan (risalah yang dibawa oleh) rasul-Ku, maka Aku jamin dirinya untuk masuk surga atau Aku kembalikan dirinya ke rumahnya sembari pulang membawa pahala beserta ghanimah.” (Lafadz yang dibawakan Syaikh tidak kami temukan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, namun lafadz ini kami temukan dalam Musnad Imam Ahamd nomor 8620).

Ibnu Qudamah berkata mengenai hukum jihad, “Jihad merupakan salah satu diantara kewajiban yang hukumnya fardlu kifayah berdasarkan pendapat sebagian besar ulama’. Dan terdapat pendapat yang diriwayatkan dari Sa’id ibnul Musayyib bahwa beliau berpendapat hukum jihad adalah fardlu ‘ain.

Kemudian Ibnu Qudamah menukil firman Allah ta’alaa

,لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (An Nisaa’: 95).

Firman Allah ta’alaa ini menunjukkan bahwa kaum muslimin yang tidak mengikuti jihad tidaklah berdosa  sementara yang lain ikut berjihad. Allah ta’alaa berfirman,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At Taubah: 122) dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengirim berbagai pasukan sedangkan belaiu beserta para sahabat yang lain tetap tinggal di Madinah dan tidak ikut berjihad (Al Mughni 13/6).

Al Atsram mengatakan, “Ahmad berkata: “Kami tidak mengetahui amalan kebaikan yang paling baik melainkan berjihad di jalan Allah.”

Al Fadl bin Ziyad mengatakan, “Aku pernah melihat Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad), ketika disebutkan perkara jihad kepadanya tiba-tiba dirinya menangis sembari mengatakan, “Tidak ada amal kebaikan yang lebih baik melainkan amalan jihad”. Dalam riwayat yang lain Imam Ahmad berkata, “Tidak ada satupun amal yang sebanding dengan amalan menghadapi musuh (ketika berada di medan jihad).” (Al Mughni 13/10-11).

Namun sebagian ulama lain lebih mengutamakan amalan shalih lainnya ketimbang jihad sebagaimana mayoritas ulama’ lebih mengutamakan menuntut ilmu (dari pada jihad) dan menjadikannya sebagai amalan yang paling utama (Lihat Minhajus Sunnah 6/75; Al Furu’ 1/465, 467, 470; Al Adabusy Syari’ah 2/43, 44, 162).

Akan tetapi yang dimaksudkan dari menjelaskan perbedaan ulama tentang hal ini bukan untuk menjelaskan perkara mana yang lebih afdlal, namun yang dimaksudkan adalah untuk menunjukkan betapa agungnya kedudukan jihad.

Kedua, Jihad adalah Sarana Tegaknya Agama Allah

Apabila anda telah memahami apa yang telah disampaikan tadi, maka hendaknya anda memperhatikan hal berikut:

Sesungguhnya jihad melawan musuh dan memerangi mereka adalah perkara yang disyari’atkan karena dilatarbelakangi oleh  adanya faktor eksternal (sebagai perantara bukan tujuan-pent), yaitu menegakkan agama Allah di permukaan bumi. Jihad bukanlah tujuan, sebagaimana firman Allah ta’alaa ,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ

“dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. “ (Al Baqarah: 193).

Ibnu Jarir Ath Thabari mengatakan, “Perangilah mereka hingga tidak terdapat lagi kesyirikan dan tidak ada sesembahan lain yang disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Terkikislah fitnah kesyirikan yang menimpa hamba Allah di permukaan bumi dan ketaatan hanya diperuntukkan kepada Allah semata. Beliau juga mengatakan, “Hingga ketaatan dan peribadatan hanya diperuntukkan kepada Allah semata tidak kepada selain-Nya.  Dan senada dengan apa yang telah kami sampaikan perkataan ahli tafsir lainnya”, kemudian beliau menyebutkan beberapa perkataan ahli tafsir lainnya semisal sahabat Ibnu ‘Abbas, Al Hasan, Qatadah, As Suddi, Ibnu Juraij dan selain mereka rahimahumullah.” (At Tafsir 9/162).

Abu Abdillah Al Qurthubi mengatakan, “Ayat dan hadits ini menunjukkan bahwa sebab ditegakkannya jihad adalah (untuk memberantas) kekufuran, karena Allah berfirman,

“حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ” sehingga tidak ada fitnah lagi . yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah kekafiran. Allah menjadikan tujuan jihad adalah memberantas kekufuran. Penjelasan ini adalah suatu yang gamblang (At Tafsir 2/354).

Ibnu Daqiqil ‘Ied berkata, “(Hal tersebut) dikarenakan jihad merupakan perantara untuk mengumumkan dan menyebarkan agama ini serta memadamkan api kekufuran, sehingga keutamaan berjihad selaras dengan tujuan tersebut” (Fathul Baari, kitab Al Jihad, bab Fadlul Jihad).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan, “Kemudian Allah ta’alaa menyebutkan bahwa maksud penegakan jihad di jalan-Nya serta menjelaskan bahwa tujuan hal tersebut bukanlah sekedar untuk menumpahkan darah orang-orang kafir dan mengambil harta mereka. Tujuan ditegakkannya jihad adalah agar ketaatan hanya diperuntukkan kepada Allah semata, sehingga agama ini unggul di atas seluruh agama lainnya dan kesyirikan dan segala perkara yang berseberangan dengan hal tersebut dapat diberantas, dan inilah yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat tersebut. Apabila tujuan ini telah terealisasikan, maka pada saat itu jihad dan pembunuhan tidak lagi diteruskan.”

Dalam hadits Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Barangsiapa yang berjihad dalam rangka untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah jihad fi sabilillah.” (HR. Bukhari nomor 120, 2599, 2894, 6904; Muslim nomor 3525, 3526).

Ibnu Taimiyah berkata, “Memberikan hukuman karena berbagai kewajiban ditelantarkannya dan berbagai yang haram dilakukannya, merupakan sebab ditegakkannya jihad di jalan Allah.” (Majmu’ul Fatawa 28/308).

Ibnul Qayyim mengatakan, “Atas dasar inilah-yaitu tauhid- dihunuslah pedang-pedang jihad.” (Zaadul Ma’ad 1/34, A’lamul Muwaqi’in 1/4).

Jika jihad merupakan tujuan maka tentulah kewajiban jihad tidak akan dihentikan dengan adanya pengambilan jizyah sebagaimana firman Allah ta’alaa ,

قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan hina. (At Taubah: 29).

Dalam hadits dari Buraidah dalam shahih Muslim, “Dahulu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat seorang pemimpin bagi  suatu pasukan atau utusan, maka beliau menasehatinya secara pribadi untuk bertakwa kepada Allah dan untuk kaum muslimin yang menyertainya secara umum. Kemudian beliau berkata, “Bertempurlah dengan mengucapkan nama Allah di jalan Allah, bunuhlah mereka yang kafir terhadap Allah, berperanglah dan janganlah menipu, janganlah berkhianat, janganlah mecincang mayat musuh, dan janganlah membunuh anak-anak kecil. Apabila engkau bertemu dengan musuhmu dari kalangan musyrikin,serulah mereka untuk memilih satu dari tiga pekara, ajaklah mereka kepada Islam, jika mereka menolak tawarkanlah jizyah kepada mereka, jika mereka tetap menolak,maka perangilah mereka.” (HR. Muslim nomor 3261).

Artikel: www.wahonot.wordpress.com

Kunjungi blog kami yang lain:

www.pustakaalbayaty.wordpress.com

www.tokoherbalonline.wordpress.com

InsyaAlloh berlanjut…………

Iklan

About bambangwahono

pedagang

Posted on Agustus 17, 2009, in Adab, Aqidah, keluarga, Manhaj, Muamalah, Muslimah, Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: