Bekal bagi Ahlu Tauhid

Oleh : Syaikh Abdulloh ibn Humaid Al Falasi

Bekal bagi Ahlut Tauhid [1]

Segala puji bagi Allah Robbul ‘Alamiin. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du.

Ketahuilah-semoga Allah merahmati kita semua-, bahwa jalan menuju ridho Allah memiliki berbagai musuh yang lihai dalam bersilat lidah, mereka berilmu dan memiliki argumen. Oleh karena itu kita wajib mempelajari agama Allah yang dapat menjadi senjata bagi kita untuk memerangi berbagai syaitan tersebut, pemimpin dan pendahulu mereka (baca: iblis) telah berkata kepada Robb anda ‘azza wa jalla:

لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau akan mendapati mereka kebanyakan tidak bersyukur (ta’at).” (QS. Al A’raaf: 16-17)

Ketahuilah, sesungguhnya tentara Allah akan senantiasa menang dalam medan argumen dan perdebatan ,sebagaimana mereka menang dengan pedang dan senjata. Seorang muwahhid (orang yang bertauhid) yang menempuh jalan (Allah) tanpa dibarengi dengan senjata (ilmu untuk membela diri), maka kondisinya tentu  amatlah mengkhawatirkan.

Allah ta’ala telah memberi nikmat kepada kita dengan menurunkan kitab-Nya yang Dia jadikan:

تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Sebagai penjelas atas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An Nahl: 89)

Oleh sebab itu, tidak ada seorang pun penyeru kebatilan datang dengan membawakan hujjah (demi membela kebatilannya) melainkan terdapat dalil yang membantahnya dan menjelaskan kebatilannya di dalam Al Quran. Firman Allah ta’ala,

وَلاَيَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّجِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang (ganjil), melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al Furqon: 33)

Diantara penyeru kebatilan adalah ahlul bid’ah dan para pengagung kubur yang sesat. Mereka tinggalkan kewajiban untuk berlaku ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan menyekutukan Allah dengan para nabi dan wali. Mereka pun memiliki berbagai dalih dan alasan. Oleh karenanya,  dalam menjawabnya kita dapat menempuh dua metode, yaitu secara global dan rinci.

Jawaban Global

Allah ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ

“Dialah yang menurunkan Al Quran kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaa[2]t, itulah pokok-pokok Al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutsyabihaat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” (QS. Ali Imron: 7)

Dalam hadits shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فألئك الذين سمى الله فاحذرهم

“Jika engkau melihat ada orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabih dari Al Quran, maka mereka itulah yang disebutkan Allah (dalam ayat itu), maka jauhilah mereka.” (HR. Bukhari 4547 dan Muslim 2665)

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita agar menjauhi orang yang mengikuti ayat mutasyabih dari Al Quran atau sunnah kemudian membungkus kebatilannya dengan hal itu. Mereka inilah yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

“Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada zaigh (condong kepada kesesatan).”

Peringatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bentuk kekhawatiran beliau jika mereka menyesatkan kita dari jalan Allah disebabkan mengikuti ayat mutasyaabih, maka beliau memperingatkan kita untuk menjauhi mereka dan menjauhi jalan mereka.

Berikut beberapa dalih yang sering didengungkan oleh para pengagung kubur yang berlebih-lebihan terhadap wali untuk membenarkan kesyirikan yang mereka lakukan dan berbagai dalih tersebut akan terjawab secara rinci dalam risalah ini.

Jawaban Rinci

1. Dalih Pertama

“Kami tidaklah menyekutukan Allah. Kami bersaksi bahwasanya tidak ada yang dapat menciptakan, memberi rezeki, memberi manfaat dan menimpakan bahaya melainkan Allah semata tidak ada sekutu baginya. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat memberi manfaat dan mencegah bahaya bagi dirinya. Akan tetapi kami ini adalah orang yang bergelimang dosa, dan orang-orang shalih ini memiliki kedudukan di sisi Allah, maka kami memohon ampunan Allah dengan perantara mereka.”

Jawaban:

Sesungguhnya orang-orang yang diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana darah mereka boleh ditumpahkan dan wanita-wanitanya boleh diperbudak, juga mengakui hal tersebut[3]. Mereka mengakui bahwa berbagai berhala tersebut tidak dapat mengatur sesuatu pun. Tetapi mereka hanya menginginkan jah (kedudukan) dan syafaat mereka. (Akan tetapi), ternyata tauhid dan pengakuan mereka ini tidak berguna sedikit pun bagi mereka.

Allah ‘azza wa jalla mengatakan dalam kitab-Nya:

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah Aku (semata).” (QS. Al Anbiyaa’: 25)

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (semata).” (QS. Adz Dzaariyaat: 56)

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak selain Dia. Dan para malaikat, orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu) dengan keadilan. Tidak ada sesembahan yang hak melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imron: 18)

وَإِلاَهُكُمْ إِلَهُُ وَاحِدُُ لآَّإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحَمَنُ الرَّحِيمُ

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang hak melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh: 163)

فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونَ

“Maka sembahlah aku semata.” (QS. Al Ankabut: 56)

Masih terdapat berbagai ayat lain yang menunjukkan kewajiban mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam ibadah dan tidak beribadah kepada seorang pun selain-Nya.

2. Dalih Kedua

“Ayat-ayat yang telah disebutkan itu diturunkan kepada mereka yang beribadah/menyembah patung/berhala. Sedangkan orang-orang yang kami maksudkan adalah para wali bukan patung/berhala.”

Jawaban:

Seorang yang beribadah kepada selain Allah (apapun bentuknya), maka dia telah menjadikan sesembahannya tersebut watsan (berhala). Maka apakah perbedaan antara orang yang beribadah kepada patung-patung dengan yang beribadah kepada para nabi dan wali?!

Di antara orang-orang kafir terdapat orang yang berdoa kepada patung untuk mendapatkan syafaat, dan di antara mereka juga ada yang beribadah kepada para wali.

Dalil bahwa mereka beribadah/berdoa kepada wali adalah perkataan mereka,

ُأوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Isra’: 57)

Begitu pula mereka menyembah para nabi sebagaimana kaum Nashrani beribadah terhadap Al Masih Ibn Maryam. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَإِذْ قَالَ اللهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّىَ إِلاَهَيْنِ مِن دُونِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَايَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَالَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلآَأَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai sesembahan selain Allah?’ ‘Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghoib.’” (QS. Al Maaidah: 116)

Demikian pula mereka menyembah para malaikat, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلاَئِكَةِ أَهَؤُلآءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semua, kemudian Allah berfirman kepada malaikat: Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” (QS. As Saba’: 40)

Berdasarkan keterangan di atas tersingkaplah kerancuan mereka yang beranggapan bahwa kaum musyrikin hanya berdoa dan beribadah kepada patung-patung, dan tidak  berdo’a dan beribadah kepada para wali dan orang shalih. Hal ini dapat kita tinjau dari dua sisi:

Sisi pertama : Anggapan mereka tersebut sama sekali tidak benar, karena di antara kaum musyrikin pun ada yang berdoa/beribadah kepada para wali dan orang shalih[4].

Sisi kedua : Sekiranya kita menganggap kaum musyrikin tidak menyembah melainkan kepada patung semata, maka tidak ada bedanya antara mereka yang menyembah para wali dan orang shalih dengan para musyrikin karena mereka semua menyembah kepada sesuatu yang sama sekali tidak dapat mendatangkan manfaat.

Berdasarkan hal ini, kita mengetahui bahwa Allah mengkafirkan orang yang memiliki keyakinan yang aneh terhadap patung atau orang shalih[5]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan  ini, dan sesembahan mereka yaitu para wali Allah dan orang shalih tidak mampu memberi manfaat kepada mereka (yakni memberi mereka pertolongan saat mereka diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

3. Dalih Ketiga

“Kaum kuffar menghendaki dari patung-patung itu untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot dari mereka. Sedangkan kami tidak mengharapkan yang demikian itu kecuali kepada Allah dan orang-orang shalih pun tidak memiliki kekuasaan dalam hal ini sedikit pun. Dan kami tidak beri’tiqod[6] kepada mereka, akan tetapi kami mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan perantaraan mereka agar mereka menjadi pemberi syafaat bagi kami.”

Jawaban:

Ucapan ini sama persis dengan ucapan orang-orang kafir ketika Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah orang-orang tersebut, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3)

هَاؤُلآءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللهِ

“Orang-orang inilah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).

4. Dalih Keempat

“Kami tidak menyembah melainkan kepada Allah semata, sedangkan iltija’ (berlindung) kepada orang shalih dan berdoa kepada mereka bukanlah termasuk ibadah.”

Jawaban:

Ketahuilah bahwa Allah mewajibkanmu untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya semata dan ini merupakan hak Allah yang menjadi kewajiban manusia, Allah ta’ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Robb-mu dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lirih. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’raaf: 55)

Doa adalah ibadah. Apabila doa termasuk ibadah maka sesungguhnya berdoa kepada selain Allah merupakan perbuatan syirik kepada Allah ‘azza wa jalla. Yang berhak untuk diseru, disembah dan disandarkan harapan adalah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Jika kita telah mengetahui bahwa doa adalah ibadah, dan kita berdoa kepada-Nya siang dan malam dengan penuh harap dan takut kemudian kita berdoa kepada nabi atau selain-Nya agar memenuhi hajat kita, maka sungguh kita telah menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah.

Allah ta’ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka tegakkanlah shalat dan berkurbanlah!” (QS. Al Kautsar: 2)

Apabila kita mentaati Allah dan berkurban untuk-Nya, maka ini adalah ibadah kepada Allah. Sehingga jika kita berkurban kepada makhluk, baik itu nabi, jin atau yang lainnya maka sungguh kita telah menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam masalah ibadah.

Kaum musyrikin -dimana Al Quran diturunkan di tengah-tengah mereka-, juga menyembah para malaikat, orang-orang shalih dan Laata[7]. Sedangkan bentuk peribadatan mereka kepada sesembahan tersebut dalam bentuk doa, sembelihan, iltija’ (meminta perlindungan) dan perkara ibadah semacamnya. Mereka pun mengakui bahwa mereka adalah hamba Allah dan di bawah kuasa-Nya serta Allah-lah yang mengatur segala urusan. Akan tetapi, mereka berdoa dan berlindung kepada sesembahan selain Allah karena kedudukan orang shalih tersebut (yang tinggi) di sisi Allah dan mengharapkan syafaat mereka. Hal ini tentu sangat  jelas.

5. Dalih Kelima

Perkataan mereka terhadap ahli tauhid:

“Kalian mengingkari syafaat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Jawaban:

Kami tidak mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami tidak berlepas diri darinya, bahkan beliau shallallahu ‘‘alaihi wa sallam adalah syaafi’ (pemberi syafa’at), musyaffa’ (yang diizinkan memberi syafa’at oleh Allah) dan aku berharap bisa mendapatkan syafaat Beliau. Akan tetapi seluruh bentuk syafaat adalah milik Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala,

قُلِ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

“Katakanlah! Hanya kepunyaan Allahlah syafaat itu semuanya.” (QS. Az Zumar: 44)

Syafaat itu tidak akan diberikan melainkan setelah diizinkan oleh Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah ta’ala,

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Siapakah yang dapat memberikan syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (QS. Al Baqarah: 255)

(Dan yang patut diperhatikan bahwa) nabi tidak bisa memberi syafaat kepada seseorang melainkan setelah Allah mengizinkannya, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tidak dapat memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhoi Allah.” (QS. Al Anbiyaa’: 28)

Sedangkan Allah hanya ridho terhadap tauhid, firman ‘azza wa jalla,

يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ

“(Barang siapa) yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya.” (QS. Ali Imron: 85)

Apabila seluruh bentuk syafaat itu milik Allah, dan tidak akan diberikan melainkan setelah (ada) izin dari-Nya, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau tidak dapat memberi syafaat kepada seorang pun hingga Allah mengizinkan mereka, padahal Allah tidak akan mengizinkannya kecuali untuk orang yang bertauhid. Maka mohonlah syafaat hanya kepada Allah dan panjatkan doa, “Ya Allah janganlah Engkau halangi aku untuk mendapatkan syafaat beliau (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-pent), Ya Allah berikanlah syafaat beliau kepadaku” atau kalimat semisal dengannya.

6. Dalih Keenam

“Sesungguhnya Allah telah memberikan syafaat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kami hanya meminta kepada beliau syafaat yang telah diberikan Allah kepadanya.”
Jawaban:

Sesungguhnya Allah memberikan syafaat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun melarang kita untuk meminta syafaat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam[8], Allah berfirman,

فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا

“Maka janganlah kamu berdo’a kepada seorang pun di samping berdo’a kepada  Allah.” (QS. Al Jin: 18)

Ketahuilah, Allah ta’ala memberikan syafaat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi beliau tidak mampu memberi syafaat melainkan dengan izin Allah dan syafaat tidak diberikan melainkan hanya kepada orang yang diridhoi Allah. Allah ridho kepada orang musyrik dan tidak akan mengizinkan syafaat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan kepadanya. Allah ta’ala berfirman,

وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tidak dapat memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhoi Allah.” (QS. Al Anbiyaa’: 28)

Allah pun memberikan syafaat kepada selain nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat, anak-anak yang meninggal semasa kecil dan para wali Allah juga memberi syafaat. Apakah kita akan meminta syafaat kepada mereka?!

Jika engkau ingin memperoleh syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ucapkanlah, “Ya Allah berikanlah syafaat Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku.”

Bagaimana mungkin engkau menginginkan syafaat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan engkau berdoa meminta syafaat kepada beliau, sedangkan berdoa kepada selain Allah adalah syirik akbar yang menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam !!!

7. Dalih Ketujuh

“Kami tidak mempersekutukan Allah sedikit pun, dan berlindung kepada orang shalih bukanlah kesyirikan.”

Jawaban:

Allah lebih mengharamkan kesyirikan daripada zina, dan Allah tidak akan mengampuninya[9]. Jika demikian apakah syirik itu?

Sesungguhnya mereka (pengagung kubur-pent) ini tidak mengetahui hakikat syirik selama mereka beranggapan bahwa meminta syafaat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah bentuk kesyirikan. Ini adalah dalil bahwa mereka tidak mengetahui hakikat syirik yang sangat diharamkan Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang amat besar.” (QS. Luqman: 13)

Bagaimana mungkin engkau bisa melepaskan diri dari kesyirikan dengan berlindung kepada orang shalih, sedangkan engkau tidak mengetahuinya! Penilaian terhadap sesuatu merupakan derivat (turunan-pent) dari persepsi tentangnya. Penilaian kalian yang menyatakan kalian telah terbebas dari syirik, sedangkan di sisi lain kalian tidak mengetahui hakikat syirik merupakan penilaian yang tidak dilandasi ilmu, sehingga penilaian itu tertolak dan tidak dapat diterima.

Mengapa engkau tidak bertanya tentang (hakekat) kesyirikan yang sangat Allah haramkan daripada pembunuhan dan perzinahan. Pelaku syirik pastilah masuk neraka dan surga haram baginya. Apakah engkau mengira Allah mengharamkan syirik atas hamba-hambaNya kemudian Dia tidak menjelaskan hakikat syirik kepada mereka? Sungguh hal ini merupakan perkara yang mustahil.

8. Dalih Kedelapan

“Syirik itu adalah menyembah (beribadah) kepada patung sedangkan kami tidak menyembah patung.”

Jawaban:

Sesungguhnya para penyembah patung itu tidak berkeyakinan bahwa patung itu mampu menciptakan, memberi rezeki dan mengatur segala urusan orang yang beribadah kepadanya. Al Quran mendustakan orang yang mengatakan bahwa mereka tidak berkeyakinan seperti itu.

Sesungguhnya peribadatan mereka kepada kepada patung  tersebut adalah menambatkan hati (kecintaan, harapan, tawakkal, dan semisalnya) kepada patung kayu, batu atau bangunan di atas kubur dan selainnya, kemudian mereka berdoa dan menyembelih untuknya seraya mengatakan sesungguhnya sesembahan kami ini akan mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya, serta Allah akan menolak bahaya dari kami dan memberi manfaat kepada kami dengan sebab keberkahannya.

Sesungguhnya perbuatan kalian di sisi batu-batu, bangunan-bangunan di atas kubur dan selainnya semodel dengan perbuatan mereka. Atas dasar inilah maka perbuatan kalian tersebut tergolong peribadatan kepada patung (berhala).

Sedangkan perkataan kalian “kesyirikan adalah beribadah kepada patung (berhala)”, maka apakah yang dimaksudkan kesyirikan itu hanya khusus pada hal itu saja, dan apakah ketergantungan hati kepada orang shalih dan berdoa kepada mereka tidak termasuk kesyirikan?

(Namun kenyataan menyatakan lain, justru hal tersebut) yang menjadi inti pembicaraan tatkala Allah menyebutkan dalam kitab-Nya, bahwa termasuk kekufuran menggantungkan hati kepada malaikat, Isa atau orang-orang shalih[10].

9. Dalih Kesembilan

“Sesungguhnya orang-orang yang Al Quran diturunkan di tengah-tengah mereka itu tidak bersaksi/mengucapkan “Laa ilaha illallah”, dan mereka mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari hari kebangkitan dan mendustakan Al Quran dan menjadikannya bahan olok-olokan. Sedangkan kami bersaksi/mengucapkan “Laa ilaha illallah” dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, membenarkan Al Quran, beriman kepada hari kebangkitan, kami sholat dan berpuasa. Bagaimana mungkin kalian samakan kami dengan mereka?”

Jawaban:

Sesungguhnya para ulama sepakat bahwa barang siapa yang mengingkari dan mendustakan sebagian ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia seperti orang yang mendustakan dan mengingkari beliau secara keseluruhan. Barang siapa yang mengingkari salah seorang nabi, maka dia seperti mengingkari seluruh para nabi, karena Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً أُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara Allah dan rasul-Nya dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada sebagian (dari rasul-rasul itu) dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain).’ Mereka bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman atau kafir), mereka itulah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.” (QS. An Nisaa’: 150-151)

Firman Allah ta’ala kepada Bani Israil,

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَاجَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيُُفيِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلىَ أَشَدِّ الْعَذَابِ

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (taurat) dan kafir terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian (itu) dari (golongan) kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat berat.” (QS. Al Baqoroh: 85)

Jadi barangsiapa mengakui tauhid kemudian mengingkari kewajiban sholat maka dia kafir. Barangsiapa mengakui tauhid dan kewajiban sholat kemudian dia menentang kewajiban zakat, maka sesungguhnya dia itu kafir. Barangsiapa mengakui berbagai kewajiban tadi, namun menentang kewajiban puasa, maka dia kafir. Barangsiapa mengakui seluruh kewajiban di atas namun dia mengingkari kewajiban haji, maka dia pun kafir. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang mengingkari/kafir (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari semesta alam.” (QS. Ali Imron: 97)

Barangsiapa mengakui seluruh kewajiban tersebut, namun dia mengingkari hari kebangkitan, maka dia kafir menurut ijma’, karena Allah ta’ala berfirman,

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ

“Orang-orang kafir menyangka, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Tidak, bahkan demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu amalkan.’ Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At Taghaabun: 7)

Jadi jika kamu mengakui semua kewajiban tersebut, maka ketahuilah bahwa kewajiban terpenting yang dibawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tauhid, kewajban tersebut lebih penting dari sholat, zakat, puasa dan haji.

Maka bagaimana mungkin seorang yang menentang salah satu perkara tersebut dikafirkan walaupun dia mengamalkan yang lain, sedangkan bila menentang tauhid yang merupakan inti agama para rasul tidak dikafirkan? Maha Suci Allah, betapa mengherankannya kebodohan ini! Maka jelaslah bahwa pengingkar tauhid kekufurannya itu lebih keterlaluan.

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi Bani Hanifah yang berislam, mengucapkan syahadatain, mereka mengumandangkan adzan dan menjalankan sholat. (Mereka dikafirkan dan  diperangi oleh sahabat) karena mereka mengangkat kedudukan seorang setara dengan martabat seorang nabi, maka bagaimana dengan seseorang yang mengangkat makhluk setara dengan kedudukan yang Mahakuasa atas langit dan bumi? Bukankah orang itu lebih berhak untuk dikafirkan daripada seorang yang mengangkat makhluk ke kedudukan makhluk yang lain?

Orang-orang yang dibakar oleh Ali ibn Abi Thalib rodhiallahu ‘anhu mengaku Islam, mereka adalah sahabat Ali ibn Abi Thalib serta belajar dari pada sahabat akan tetapi mereka berkeyakinan terhadap Ali[11] sebagaimana keyakinan banyak orang terhadap Yusuf, Syamsan[12] dan semisal mereka. Jika demikian, mengapa para sahabat sepakat memerangi dan mengkafirkan mereka?

Apakah engkau mengira bahwa para sahabat mengkafirkan kaum muslimin? Ataukah kalian mengira tidak mengapa berkeyakinan kepada Al Husain, Badawi[13] dan semisalnya sedangkan berkeyakinan kepada Ali ibn Abi Thalib rodhiallahu ‘anhu dikafirkan?

Sungguh para ulama sepakat atas kafirnya Bani ‘Ubaid Al Qoddah yang menguasai Maroko dan Mesir. Mereka  mengucapkan syahadatain, mereka sholat Jumat dan berjama’ah serta mengaku sebagai kaum muslimin, akan tetapi itu semua tidak menghalangi vonis murtad untuk mereka yang dilakukan oleh kaum muslimin tatkala mereka menyelisihi kaum muslimin dalam beberapa perkara yang tidak termasuk tauhid, sehingga mereka akhirnya diperangi dan harta mereka dijadikan rampasan perang.

Jika orang-orang terdahulu tidak dikafirkan kecuali setelah terkumpul seluruh jenis kekufuran pada mereka berupa kesyirikan, pendustaan dan sikap menyombongkan diri, lalu apakah manfaat penyebutan berbagai bentuk kekufuran dalam “bab hukum murtad” yang terdapat dalam kitab-kitab fikih? Semua perbuatan tersebut (dapat) dikafirkan, hingga disebutkan beberapa hal yang kecil ketika seseorang itu mengerjakannya maka dirinya dapat dikafirkan, semisal mengucapkan kalimat kekufuran dengan lisannya tanpa meyakininya dengan hati, atau mengucapkan kalimat kekufuran dengan tujuan bersenda gurau dan bermain-main. Jika sekiranya pelaku perbuatan tersebut tidak dikafirkan dengan mengerjakan salah satu dari perbuatan tersebut karena dia mengerjakan kewajiban yang lain, maka tentunya penyebutan jenis-jenis kekufuran dalam bab hukum murtad itu sama sekali tidak bermanfaat.

Sesungguhnya Allah ta’ala mengkafirkan orang-orang munafik yang mengucapkan kalimat kekufuran sedangkan mereka menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sholat, zakat, berhaji dan berjihad bersama beliau serta mereka bertauhid, Allah ta’ala berkata tentang mereka,

يَحْلِفُونَ بِاللهِ مَاقَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلاَمِهِمْ

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak akan mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah kafir sesudah (menjadi) Islam.” (QS. At Taubah: 74)

Allah ta’ala juga mengkafirkan orang-orang munafik yang mengucapkan suatu kalimat yang menurut mereka sekedar untuk bergurau. Allah ta’ala berfirman tentang mereka,

قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan rasul-Nya kamu selalu bersenda gurau?” Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At Taubah: 65-66)

Di antara dalil bahwa seseorang terkadang mengucapkan dan mengerjakan perbuatan yang merupakan kekufuran di saat dia tidak menyadarinya, adalah perkataan Bani Israil kepada Musa ‘alahis shalatu was salam:

“Buatkanlah sesembahan bagi kami seperti sesembahan mereka!” (QS. Al A’raaf: 138)

juga perkataan sebagian sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Buatkanlah Dzata Anwath bagi kami sebagaimana yang mereka miliki” maka beliau berkata:

“Allahu Akbar, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya sesungguhnya sunnah (tradisi) apa yang kamu katakan tadi seperti yang dikatakan kalangan Bani Isra’il kepada Musa: ‘Buatkanlah sesembahan bagi kami seperti sesembahan mereka!’, maka sungguh kalian akan mengikuti sunnah (tradisi) orang-orang sebelum kalian.” (HR. Ahmad (5/218), Tirmidzi (2180), Nasa’i dalam Al Kubra (11185), Thabrani dalam Al Kabir (3290), Ibnu Abi Syaibah (15/101), Ibnu Hibban (6702))

Hal ini menunjukkan bahwa Musa dan Muhammad ‘alaihimash shalatu was salam mengingkari perbuatan itu dengan keras.

10. Dalih Kesepuluh

“Perkataan Bani Isra’il kepada Musa (buatkanlah sesembahan bagi kami seperti sesembahan mereka!) dan perkataan sebagian sahabat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Buatkanlah Dzata Anwath bagi kami sebagaimana yang mereka miliki’, tidak membuat sahabat dan Bani Isra’il dikafirkan.”

Jawaban:

Sesungguhnya para sahabat dan Bani Isra’il tidak melakukan yang mereka katakan itu ketika para rasul mengingkarinya. Tidak ada perselisihan jika sekiranya Bani Isra’il melakukan yang mereka katakan tersebut maka mereka telah kafir, dan demikian pula mereka yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika mereka tidak mentaati beliau dan membuat Dzata Anwath setelah beliau melarang hal tersebut, maka mereka (pun tentunya dapat) dikafirkan.

11. Dalih Kesebelas

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Usamah yang membunuh seseorang yang telah mengucapkan “Laa ilaha illallah.”(HR. Bukhari dan Muslim), dan demikian pula sabda beliau: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan “Laa ilaha illallah.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al Iman (25), Muslim dalam Kitab Al Iman (22,23)), dan hadits-hadits lain yang melarang memerangi orang yang mengatakannya.”

Jawaban:

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi dan menawan kaum Yahudi sedangkan mereka mengucapkan “Laa ilaha illallah.” Sesungguhnya para sahabat telah memerangi Bani Hanifah sedangkan mereka bersaksi “Laa ilaha illallah” dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka sholat dan mengaku sebagai bagian dari kaum muslimin. Sesungguhnya orang-orang yang dibakar oleh Ali ibn Abi Thalib juga bersyahadat “Laa ilaha illallah.”

Barangsiapa mengingkari hari kebangkitan, maka dia kafir dan dapat dibunuh, walau mengucapkan “Laa ilaha illallah.” Sesungguhnya barang siapa yang menentang salah satu rukun Islam maka dia kafir dan dibunuh, walau dia mengucapkannya.

Maka bagaimana bisa kalimat “Laa ilaha illallah” tidak bermanfaat baginya apabila dia menentang salah satu furu’ (cabang syari’at), kemudian kalimat itu itu bermanfaat baginya sehingga tidak dikafirkan tatkala dia menentang tauhid yang merupakan pokok dan inti agama para rasul?!

Adapun Usamah yang membunuh seseorang yang mengucapkan “Laa ilaha illallah”, tatkala dia berhadapan dengannya. Orang itu sebelumnya adalah seorang musyrik kemudian mengucapkan “Laa ilaha illallah”, maka Usamah membunuhnya karena mengira orang tersebut tidak ikhlas dalam mengucapkannya dalam rangka menyelamatkan dirinya.

Tidak ada dalil yang menyatakan semua orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah” adalah seorang muslim yang terjaga darahnya, akan tetapi yang ada adalah dalil wajibnya menahan diri dari orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah”, kemudian setelah itu keadaan orang tersebut dilihat apakah pengakuannya benar atau tidak. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي َسِبيلِ اللهِ فَتَبَيَّنُوا

“Hai orang-orang yang beriman apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah.” (QS. An Nisaa: 94)

Artinya pastikanlah terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan jika telah jelas perkara tersebut menyelisihi zhahirnya (segi lahiriah), maka wajib melakukan tindakan sesuai dengan apa yang nampak dari lahiriah orang tersebut. Apabila dengan jelas orang tersebut melakukan sesuatu yang menyelisihi Islam (baca: tauhid) maka orang tersebut boleh dibunuh. Oleh karena itu sekiranya semua orang yang mengucapkannya (kalimat “Laa ilaha illallah”) tidak diperangi/dibunuh secara mutlak, maka perintah untuk “memastikan” dalam ayat tersebut tentu tidak memiliki faedah.

Sedangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah”, makna hadits ini adalah barang siapa yang menampakkan keislaman maka tidak boleh diganggu sampai diketahui apakah orang tersebut bersungguh-sungguh berislam ataukah tidak, Allah ta’ala berfirman, ”…maka telitilah.”

Perintah meneliti terlebih dahulu dibutuhkan tatkala seseorang dalam keraguan tentang suatu perkara. Jika orang yang hanya mengucapkan “Laa ilaha illallah” terlindungi sehingga tidak boleh diperangi/dibunuh, maka tentunya tidak diperlukan sikap tabayyun (meneliti terlebih dahulu).

Sesungguhnya orang yang mengatakan kepada Usamah (yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -pent), “Apakah engkau membunuhnya sesudah dia mengucapkan Laa ilaha illallah?!”, dan yang mengatakan, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laa ilah illallah dan Muhammad adalah utusan Allah”, …adalah orang yang memerintahkan untuk membunuh/memerangi kaum Khawarij sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أينما لقيتموهم فاقتلوهم

“Di manapun kalian menemui mereka, maka bunuhlah mereka!” (HR. Bukhari (6930 dan 6931) dan Muslim (1066) dari Ali ibn Abi Thalib rodhiallahu ‘anhu)

Padahal kaum Khawarij ini menegakkan shalat, berzikir kepada Allah, membaca Al Quran dan belajar kepada para sahabat rodhiallahu ‘anhum akan tetapi semuanya itu tidak bermanfaat bagi mereka sedikit pun, karena keimanan tidak menghujam dalam hati mereka sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنه لا يجاوز حناجرهم

“Sesungguhnya (bacaan Al Quran mereka) itu tidak melewati kerongkongan-kerongkongan mereka (dan menetap di dalam hati).” (HR. Bukhari (8/67, 10/552, 13/415-416, 535- Fath), Muslim (7/169, 171-173, 174-Nawawi).

12. Dalih Kedua belas

“Sesungguhnya manusia pada hari kiamat kelak akan beristighatsah (meminta pertolongan) kepada Adam, kemudian kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan mereka semua tidak mampu melakukannya, kemudian terakhir mereka beristighotsah pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka hal ini menunjukkan istighotsah kepada selain Allah bukanlah suatu kesyirikan.”

Jawaban:

Kami tidak mengingkari istighatsah kepada makhluk dalam perkara yang mampu dilakukan oleh makhluk, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam kisah Musa,

فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِن شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang menjadi musuhnya.” (QS. Al Qashash: 15)

Sebenarnya mereka tidak meminta pertolongan kepada para nabi untuk menghilangkan kesusahan mereka, akan tetapi mereka meminta pertolongan kepada Allah melalui mereka (para nabi) agar Allah menghilangkan kesulitan mereka. Terdapat perbedaan antara orang yang meminta pertolongan kepada makhluk agar mereka menghilangkan bahaya dan keburukan, dengan orang yang meminta kepada Allah agar menghilangkan kesulitan ini melalui mereka. Meminta pertolongan kepada Allah melalui makhluk boleh, sebagaimana para sahabat yang meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdoa kepada Allah bagi mereka tatkala beliau masih hidup. Adapun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hal ini terlarang dan mereka sama sekali tidak pernah meminta hal itu kepada beliau di samping kubur beliau, bahkan para generasi terdahulu yang shalih mengingkari orang yang bersengaja berdoa kepada Allah di samping kubur beliau[14], maka bagaimana dengan berdoa kepada diri beliau (tatkala beliau telah wafat)?

Tidak mengapa engkau mendatangi seorang yang shalih, yang engkau kenal pribadi dan keshalihannya, kemudian dirimu memintanya untuk berdoa kepada Allah agar mendatangkan kebaikan bagimu. Hal ini diperbolehkan, namun tidak sepatutnya menganggap hal ini sebagai bagian dari agama (dalam artian) setiap kali melihat orang shalih, (maka) dia berkata “Berdoalah kepada Allah bagiku!” Hal ini bukanlah termasuk perilaku para pendahulu kita (sahabat) rodhiallahu ‘anhum, dan perbuatan itu termasuk sikap berpangku tangan. Apabila seseorang berdoa sendiri kepada Robbnya, hal itu merupakan kebaikan baginya karena dia melakukan ibadah yang dengannya dia mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla.

13. Dalih Ketiga belas

“Sesungguhnya dalam kisah Ibrahim ‘alaihish shalatu wa salaam, ketika beliau dilemparkan ke dalam api, Jibril menawarkan kepada beliau bantuan dan berkata, ‘Apakah engkau butuh bantuan?’ Maka Ibrahim berkata, ‘Adapun kepadamu, (aku) tidak (memerlukan bantuan).’” (HR. Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Tafsir-nya (17/45) dan dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya (3/193)), (ini adalah) dalil sekiranya beristighatsah kepada Jibril adalah syirik, maka tentu dia tidak akan menawarkannya kepada Ibrahim.”

Jawaban:

Sesungguhnya Jibril menawarkan bantuan dalam batas kesanggupannya. Seandainya Allah mengizinkannya, maka dia akan menyelamatkan Ibrahim dengan kekuatan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Sesungguhnya Jibril (adalah makhluk yang berkekuatan besar) sebagaimana yang disifatkan oleh Allah ta’ala,

شَدِيدُ الْقُوَى

“(yang) sangat kuat.” (QS. An Najm: 5)

Maka seandainya Allah memerintahkannya untuk memindahkan api (yang membakar) Ibrahim dan melemparkannya ke timur atau ke barat, maka dia (akan mampu) melakukannya. Seandainya Allah memerintahkannya untuk memindahkan Ibrahim ke tempat yang jauh, maka dia akan mampu mengerjakannya, dan seandainya dia diperintahkan untuk mengangkat beliau ke atas langit, tentu dia akan mampu melakukannya.

Hal ini serupa dengan orang kaya yang mendatangi seorang yang fakir, dan berkata, “Apakah kamu memerlukan bantuan harta, berupa pinjaman, utang atau selain itu?” Hal ini merupakan perkara yang mampu dilakukannya, dan tidak dianggap sebagai suatu kesyirikan apabila si fakir mengatakan “Iya, aku memiliki keperluan, beri aku pinjaman.” Atau dia mengatakan “Bantulah aku!”, maka dia bukanlah seorang musyrik.

Penutup

Setelah kita mengetahui jawaban berbagai dalih tersebut, maka sesungguhnya seseorang dituntut untuk bertauhid dengan hati, perkataan dan perbuatannya.

Apabila dia bertauhid dengan hatinya, akan tetapi tidak bertauhid dengan perkataan atau perbuatannya maka pengakuannya adalah dusta, karena tauhid dalam hati akan diikuti oleh keduanya (tauhid dalam perkataan dan perbuatan), sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging, apabila dia baik maka baiklah jasad itu, jika dia rusak maka rusaklah jasad itu. Ketahuilah dia adalah hati.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al Iman (52), Muslim dalam Kitab Al Musaaqaat (107, 1599). Yang dimaksudkan dengan qolb disini adalah secara maknawi)

Jika ada orang yang mentauhidkan Allah dengan hatinya, akan tetapi tidak mentauhidkan-Nya dengan perkataan dan perbuatan, maka sungguh dia termasuk pengikut Fir’aun yang meyakini dengan benar dan mengetahui keesaan Allah, akan tetapi menyombongkan diri, mengingkari dan tetap mengakui bahwa dia memiliki kekuasaan rububiyyah, Allah ta’ala berfirman,

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (QS. An Naml: 14)

Firman Allah ta’ala tatkala Musa berkata kepada Fir’aun,

لَقَدْ عَلِمْتَ مَآأَنزَلَ هَآؤُلآءِ إِلاَّ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لأَظُنُّكَ يَافِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

“Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Robb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.” (QS. Al Isro’: 102)

Orang yang mengetahui kebenaran, tetapi tidak mengerjakannya karena takut menyelisihi kaum di negerinya dan alasan-alasan lain yang semisal. Alasan ini tidak bermanfaat baginya di sisi Allah ‘azza wa jalla, karena wajib bagi seseorang untuk mencari keridhaan Allah ‘azza wa jalla walaupun manusia murka (terhadapnya). Mayoritas gembong-gembong kekafiran mengetahui kebenaran tetapi mengingkari dan menyelisihi kebenaran tersebut, sebagaimana firman Allah ta’ala,

الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mengenal anak-anak mereka sendiri.” (QS. Al Baqoroh: 146)

Allah ta’ala berkata tentang mereka, “Mereka menjual (menukar) ayat-ayat Allah dengan harga yang rendah.”

Mereka beralasan dengan berbagai alasan yang tidak bermanfaat bagi mereka seperti takut kehilangan jabatan, kehilangan  popularitas dan semisalnya.

Mengenal kebenaran tanpa mengamalkannya lebih buruk daripada tidak mengetahui kebenaran, karena orang yang tidak mengetahui kebenaran (terkadang) dapat dimaafkan dan terkadang dia mengetahui kemudian dia mengerti dan belajar, tidak seperti mereka yang menentang dan sombong. Oleh karena itu Yahudi menjadi kaum yang dimurkai karena mereka mengetahui kebenaran kemudian mereka meninggalkannya. Sedangkan Nashara menjadi kaum yang sesat karena mereka tidak mengenal kebenaran, akan tetapi sesudah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengenal kebenaran tersebut sehingga mereka menjadi orang-orang yang dimurkai Allah seperti layaknya Yahudi.

Melakukan amalan lahiriah yang merupakan konsekuensi tauhid (seperti sholat, zakat, dll), tanpa memahaminya atau meyakininya dengan hati, adalah kemunafikan yang lebih buruk dari kekufuran, karena Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ اْلأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An Nisaa: 145)

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan umat beliau yang berjalan di atas sunnah beliau. Aamiin.[15]


[1] Diterjemahkan dari artikel 13 Syubhaati lil Quburiyyin wal Jawabi ‘alaiha oleh Abdullah ibn Humaid Al Falasi sebagai ringkasan dari kitab Kasyfusy-Syubuhat.

[2] Ayat muhkamat adalah ayat yang jelas dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang pengertiannya hanya diketahui oleh Allah. Termasuk pengertian ayat mutasyaabihat adalah ayat yang sukar untuk dipahami walaupun tidak menutup kemungkinan ada yang dapat memahami karena ilmunya lebih mumpuni -pent.

[3] Lihatlah pengakuan mereka bahwa Allah-lah Pencipta, Pengatur segala sesuatu, Pemberi rezeki, Dzat yang mematikan dan menghidupkan dalam surat Yunus 31; Al Mu’minuun 84-89; Az Zukhruuf 9.  Bandingkanlah pengakuan kaum kafir Quraisy dengan perkataan pengagung kubur pada dalih yang pertama kali mereka ajukan. Alangkah serupa keyakinan mereka dengan keyakinan kaum musyrikin Quraisy, karena kaum musyrikin pun mengakui Allah adalah sebagai Pencipta, Pemberi rezeki, Pemberi manfaat dan Pencegah mudlorot, namun di samping menyembah Allah mereka (kaum Quraisy) juga menyembah orang-orang shalih di kalangan mereka seperti nabi, malaikat dan para wali. Duhai alangkah serupanya keadaan dahulu dan sekarang.-pent

[4] Diantara keyakinan syirik dari mereka adalah para wali tersebut mampu mendatangkan rezeki pada mereka serta menghilangkan kemudlaratan dari mereka, padahal semua itu  merupakan hak prerogatif yang murni dimiliki Allah ta’ala.

[5] Keyakinan yang dimaksud akan dijelaskan pada dalih ketiga yang mereka (para pengagung kubur dan penyembah wali-pent) ajukan. Perhatikanlah dengan seksama dalih mereka beserta ayat  yang akan menunjukkan kekeliruan apa yang mereka yakini bahwa keyakinan mereka tidak ubahnya dengan keyakinan kaum musyrikin zaman dahulu.

[6] Beri’tiqod= meyakini bahwa wali-wali yang mereka sembah itu dapat mendatangkan manfaat dan mudlorot bagi mereka. Pent-.

[7] Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan Ar Rabi bin Anas menafsirkan bahwa Laata adalah seorang pria yang membuat adonan gandum yang diperuntukkan bagi para jama’ah haji di zaman jahiliyah, tatkala dirinya wafat, maka masyarakat beri’tikaf di samping kuburannya dan menyembahnya. Imam Al Bukhari mengatakan, Muslim Ibnu Ibrahim memberitahukan kepada kami, dia mengatakan Abul Asyhab memberitakan kepada kami, dia mengatakan bahwa Abul Jauza’ meriwayatkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas bahwa yang dimaksud dengan Al Laata dalam surat An Najm ayat 19 adalah lelaki yang mengolah adonan gandum yang diperuntukkan bagi jama’ah haji (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim 4/323).

[8] Hal ini dikarenakan syafa’at milik Allah bukan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka camkan dan perhatikan hal ini! Ketika seseorang meminta kepada nabi sesuatu yang hanya mampu dilakukan oleh Allah, maka dia telah terjatuh dalam kesyirikan, seperti halnya dalam masalah syafa’at ini. Begitu banyak orang yang meminta kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam do’a-do’a mereka sehingga mereka pun melakukan syirik tanpa mereka sadari. Ya Allah pahamkanlah dan bimbinglah mereka. Aamin.

[9] Ini berlaku selama pelakunya belum bertaubat. Adapun jika dia bertaubat dengan benar maka dia dapat diampuni. Wallahu a’lam –pent.

[10] Untuk memperjelas masalah ini perlu kiranya kita menukil perkataan sahabat yang mulia, sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang faqih dalam tafsir Al Qur-an, Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu tatkala menafsirkan firman Allah dalam surat Nuh ayat 24. Beliau berkata,

وهي أسماء رجال صالحين من قوم نوح، عليه السلام، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا وسموها بأسمائهم. ففعلوا، فلم تعبد حتى إذا هلك أولئك وتَنَسَّخَ  العلم عُبِدت

Kesemuanya adalah nama-nama orang shalih di masa Nabi Nuh ‘alaihis salam. Tatkala mereka wafat, maka syaithan membisikkan kepada kaumnya untuk membuat patung di majelis yang sering mereka adakan kemudian menamainya dengan nama-nama mereka. Kaum mereka pun melaksanakan hal tersebut, namun pada masa tersebut patung-patung itu belum disembah. Barulah ketika generasi (awal) berlalu dan ilmu telah sirna, disembahlah patung-patung tersebut.” (Tafsirul Qur-anil ‘Azhim 7/235; Shahih Bukhari 15/225- Al Fath).

Maka perhatikanlah saudaraku! Bahwa akar kesyirikan yang menimpa umat-umat terdahulu adalah adanya keyakinan yang salah terhadap orang shalih, bahwa mereka dapat menjadi perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Imam Ibnu Katsir Ays Syafi’i pun mengatakan bahwa keyakinan kufur seperti inilah yang senantiasa diyakini oleh kaum musyrikin, dahulu  maupun sekarang (Lihat Tafsirul Qur’anil ‘Azhim 7/85).

[11] Mereka meyakini Ali memiliki sifat-sifat ketuhanan sehingga melampaui batas dan mensejajarkan sahabat Ali radliallahu ‘anhu dengan kedudukan Rabbul ‘alamin-pent.

[12] Nama seseorang yang dijadikan berhala karena diyakini memiliki keutamaan yang luar biasa –pent.

[13] Al Badawi adalah nama seorang yang tidak dikenal, kuburannya yang terletak di Mesir ramai dikunjungi dan setiap bulannya ratusan ribu orang mendatanginya untuk beribadah di kuburan tersebut. Hanya kepada Allah-lah kami mengadu akan kesesatan ini –pent.

[14] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka telah   menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari 190, 435; Muslim 529, 531).

Beliau juga besabda, “Sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah orang yang masih hidup ketika terjadi hari kiamat dan orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai tempat ibadah.” (HR. Ahmad 1/435; Ibnu Khuzaimah 789, Ibnu Hibban 2325 dan Abu Hatim dalam Shahihnya dengan sanad yang hasan).

[15] Selesai diterjemahkan dengan bebas di Jogjakarta 1 Syawal 1427 H oleh Muhammad Nur Ichwan Muslim dan di edit oleh Ustadz Arismunandar, SS .

Iklan

About wahonot

I a salafy man

Posted on Agustus 8, 2009, in Aqidah, keluarga, Manhaj, Muslimah, Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: