Sholawat Nabi ( Bag. 6 dari 6 tulisan)

Oleh : Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Badr

Keagungan Sunnah dalam Jiwa Para Sahabat

Pada akhir pembahasan ini, aku akan mencantumkan sebagian tulisanku ketika menjelaskan hadits Ka’ab bin ‘Ujrah, yaitu hadits ke-19 dari 20 hadits yang telah aku pilah dari Shahih Muslim dan telah tercetak dengan judul, “Isyruna Haditsan min Shahih Muslim, Dirasatu Asanidiha wa Syarhu Mutuniha”. Inilah penjelasan tersebut,

Perkataan Ka’ab bin ‘Ujrah radliallahu ‘anhu kepada Abu Laila, “ألا أهدي لك هدية” (perhatikanlah, sesungguhnya aku akan memberimu hadiah)[1], menunjukkan bahwa hadits-hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengenalan dan pengamalan terhadap sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sesuatu yang teramat berharga dan bernilai bagi mereka. Oleh sebab itu, Ka’ab berujar demikian untuk memberitahu urgensi apa yang akan diucapkannya kepada Abu Laila sehingga dirinya bersiap untuk memahaminya, mempersiapkan diri untuk mengambilnya dan mencernanya.

Tatkala para salaf senantiasa antusias terhadap sunnah nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersemangat untuk mempelajarinya dan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sangat berharga-dikarenakan kecintaan dan semangat untuk mengamalkannya yang terpatri dalam jiwa mereka-, maka jadilah mereka generasi termulia, jadilah mereka pusat perhatian seluruh umat, pertolongan Allah terhadap musuh senantiasa menaungi mereka, serta kekuasaan dan kemenangan berada di piha islam dan penganutya sebagaimana firman Allah ta’ala

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7).

Realita kaum muslimin yang teramat menyedihkan dan kita saksikan saat ini berkebalikan dengan semua itu. Kelemahan, pemisahan diri dan zuhud dalam mempelajari syari’at serta keterasingan dalam mempraktekkannya (sangat banyak dilakukan oleh mayoritas kaum muslimin) kecuali yang dirahmati oleh Allah, namun alangkah sedikitnya mereka.

Dengan kondisi mereka yang demikian, maka pantaslah apabila musuh tidak memperhitungkan dan mendiskreditkan mereka. Jadilah mereka generasi penakut padahal generasi sebelum mereka adalah generasi yang disegani. Jadilah mereka generasi yang terjajah di negeri mereka sendiri oleh musuh-musuh mereka.

Apabila seorang yang berakal merenungkan hadits Ka’ab bin ‘Ujrah, (maka ia akan menemukan) di dalamnya terkandung penjelasan betapa berharganya nilai dan kedudukan sunnah nabawiyah di hati salafush shalih, kemudian apabila dia memperhatikan kondisi mayoritas manusia yang berafiliasi kepada Islam pada hari ini serta berbagai cobaan yang menimpa mereka seperti sikap meremehkan syari’at dan tidak berhukum kepadanya, maka dia akan mengetahui kunci sukses kemenangan generasi salafush shalih atas musuh-musuh mereka padahal jumlah dan persenjataan mereka sangatlah minim. Dirinya pun akan mengetahui rahasia kehinaan kaum muslimin saat ini di hadapan musuh-musuh mereka, padahal kuantitas mereka begitu banyak.

Kaum muslimin selamanya tidak akan mampu bangkit dari kehinaan tersebut melainkan jika mereka kembali berpegang teguh kepada Al Qur-an yang mulia dan sunnah yang suci dan mencampakkan berbagai hukum positif dan produk (pemikiran) impor yang buruk ke dasar lautan serta membersihkan jiwa dan negara mereka dari semua hal tersebut.

Aku memohon kepada Allah yang Mahamulia, Rabb arsy yang agung, agar memberikan taufik kepada seluruh kaum muslimin, para pemimpin beserta rakyatnya agar kembali berpegang teguh kepada kitab Rabb mereka dan sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka mampu melaksanakan berbagai sebab hakiki yang dapat menghantarkan mereka pada pertolongan Allah dan kemenangan atas musuh-musuh mereka. Sesunguhnya Dia Mahamendengar dan Mahamengabulkan do’a. Segala puji bagi Allah. Ya, Allah berilah kemuliaan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberi kemuliaan kepada Ibrahim beserta keluarganya. Sesngguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berikanlah karunia kepada Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.[2]

Selesai…..

Artikel pada http://www.wahonot.wordpress.com

Kunjungi blog kami yang lain:

http://www.pustakaalbayaty.wordpress.com

http://www.tokoherbalonline.wordpress.com


[1]Hadiah tersebut adalah hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang tercantum dalam redaksi hadits tersebut.

[2]Selesai diterjemahkan dengan bebas Oleh Abu Umair pada malam terakhir bulan Ramadlan tahun 1428 H dengan penuh pengharapan kepada Allah ‘azza wa jalla agar memberikan ampunan kepada diri penterjemah, istrinya, keluarganya, penulis kitab yang mulia ini beserta kaum muslimin seluruhnya. Aamin.

About wahonot

I a salafy man

Posted on Juli 31, 2009, in Adab, Aqidah, keluarga, Manhaj, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: