Sholawat Nabi ( Bag. 5 dari 6 tulisan)

Oleh : Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Badr

Berbagai Tata Cara Shalawat yang Keliru dalam Kitab Dalaa-ilul Khairaat

Pada sub bab ini aku cukup memberikan beberapa contoh tata cara shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang keliru. Kemudian (pada sub bab selanjutnya) akan aku sertakan beberapa hadits palsu yang terdapat dalam kitab tersebut, yang menerangkan keutamaan bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya lisan beliau tersucikan dari mengucapkan hal tersebut.

Diantara tata cara yang keliru dan terdapat dalam kitab tersebut adalah:

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد حتى لا يبقى من الصلاة شيء وارحم محمدا وآل محمد حتى لا يبقى من الرحمة شيء وبارك على محمد وعلى آل محمد حتى لا يبقى من البركة شيء وسلم على محمد وعلى آل محمد حتى لا يبقى من السلام شيء.

“Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada Muhammad beserta keluarganya hingga tidak tersisa lagi kemuliaan sedikitpun. Ya Allah kasihilah Muhammad beserta keluarganya hingga tidak tersisa lagi kasih sedikitpun. Ya Allah berikanlah karunia kepada beliau beserta keluarganya hingga tidak tersisa lagi karunia sedikitpun. Ya Allah berikanlah kebaikan kepada Muhammad beserta keluarga beliau, hingga tidak tersisa kebaikan sedikitpun.”

Sesungguhnya perkataan, “Hingga tidak tersisa kemuliaan, kasih (rahmat), karunia dan kebaikan sedikitpun” salah satu diantara perkataan yang paling buruk dan kebatilan yang terbesar, karena kasih, karunia dan kebaikan dari Allah tidak akan pernah usai. Bagaimana al Jazuli mengatakan, “Hingga tidak tersisa lagi rahmat sedikitpun” sedangkan Allah berfirman,

“وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ (١٥٦)

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al A’raaf: 156).

Dia berkata pada halaman 71,

اللهم صل على سيدنا محمد بحر أنوارك ومعدن أسرارك ولسان حجتك وعروس مملكتك وإمام حضرتك وطراز ملكك وخزائن رحمتك … إنسان عين الوجود والسبب في كل موجود…

“Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada tuan kami, Muhammad, samudera cahaya-Mu, pemegang segala rahasia-Mu, yang mengucapkan hujjah-Mu, mempelai kerajaan-Mu, imam di hadapan-Mu, gambaran kekuasaan-Mu, perbendaharaan rahmat-Mu… insan dengan wujud senyatanya dan sebab terjadinya segala sesuatu.”

Dia juga berkata pada halaman 64,

اللهم صل على من تفتقت من نوره الأزهار …. اللهم صل على من اخضرت من بقية وضوئه الأشجار اللهم صل على من فاضت من نوره جميع الأنوار.

“Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada seorang yang dengan cahayanya bunga-bunga bermekaran…Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada seorang yang dengan sisa wudlunya pepohonan berhijauan. Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada seorang yang dengan cahayanya seluruh cahaya meredup.”

Seluruh tata cara shalawat ini mengandung unsur ghuluw (berlebih-lebihan) dan melampaui batas, sesungguhnya Nabi Al Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan ridlo dengan hal tersebut. Beliaulah yang bersabda,

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم فإنما أنا عبده فقولوا عبد الله ورسوله

“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Ibnu Maryam. Sesunguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah bahwa aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Diriwayatkan Bukhari dalam Shahihnya.

Al Jazuli berkata di halaman 144-145,

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد ما سجعت الحمائم وحمت الحوائم وسرحت البهائم ونفعت التمائم وشدت العمائم ونمت النوائم.

“Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad beserta keluarga Muhammad sepanjang hewan-hewan ternak digembalakan, jimat-jimat masih memberi manfaat, surban diikatkan, dan mimpi-mimpi diceritakan.”

Dalam perkataannya, “ونفعت التمائم “ (jimat-jimat masih memberi manfaat) mengandung unsur dukungan dan dorongan terhadap penggunaan jimat, padahal nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkan hal tersebut, beliau bersabda,

“من تعلق تميمة فلا أتم الله له”.

“Barangsiapa yang memakai jimat, maka Allah akan menceraiberaikan segala urusannya.”[1]

Beberapa Hadits Palsu dalam Kitab Dalaa-ilul Khairaat

Pada sub bab ini, aku akan menyebutkan beberapa contoh hadits palsu yang tercantum dalam kitab Dalaa-ilul Khairaat disertai keterangan ulama terhadap hadits-hadits tersebut secara ringkas.

Al Jazuli menyebutkan sebuah riwayat pada halaman 15,

“من صل علي صلاة تعظيما لحقي خلق الله عز وجل من ذلك القول ملكا له جناح بالمشرق والآخر بالمغرب ورجلاه مقرورتان في الأرض السابعة السفلى وعنقه ملتوية تحت العرش يقول الله عز وجل له: صل على عبدي كما صلى على نبيي فهو يصلي عليه إلى يوم القيامة.

“Barangsiapa yang bershalawat sekali kepadaku dengan penuh pengagungan terhadap kedudukanku, maka dari perkataannya tersebut Allah ‘azza wa jalla akan menciptakan malaikat yang memiliki sayap yang membentang sepanjang Timur dan Barat, sedangkan kedua kakinya terkait di lapis bumi ketujuh dan lehernya bertengger di bawah ‘Arsy. Allah berfirman padanya, “Bershalawatlah kepada hamba-Ku sebagaimana dirinya bershalawat kepada nabi-Ku. Maka malaikat itupun bershalawat kepadanya hingga hari kiamat.”

Pada halaman 16 terdapat riwayat yang berbunyi,

ما من عبد صلى علي إلا خرجت الصلاة مسرعة من فيه فلا يبقى بر ولا بحر ولا شرق ولا غرب إلا وتمر به وتقول أنا صلاة فلان بن فلان صلى على محمد المختار خير خلق الله فلا يبقى شيء إلا وصلى عليه ويخلق من تلك الصلاة طائر له سبعون ألف جناح في كل جناح سبعون ألف ريشة في كل ريشة سبعون ألف وجه في كل وجه سبعون ألف فم في كل فم سبعون ألف لسان يسبح الله تعالى بسبعين ألف لغة ويكتب الله له ثواب ذلك كله

“Tidaklah seorang hamba yang bershalawat kepadaku melainkan shalawat tersebut akan bergegas keluar dari mulutnya. Tidak tersisa sebuah daratan, lautan, juga belahan bumi di Timur dan Barat melainkan dilaluinya sembari berujar, “Akulah shalawat yang diucapkan fulan bin fulan kepada Muhammad al Mukhtar, makhluk terbaik. Segala sesuatu bershalawat kepada orang tersebut dan dari shalawat tersebut tercipta seekor burung yang memiliki 70.000 sayap, di setiap sayap terdapat terdapat 70.000 bulu, di setiap bulu terdapat 70.000 wajah, di setiap wajah terdapat 70.000 mulut, di setiap mulut terdapat 70.000 lisan yang bertasbih kepada Allah dengan 70.000 bahasa yang berbeda, dan Allah pun menetapkan seluruh pahala tersebut baginya.”

Kedua hadits tersebut sesuai dengan perkataan al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Al Manar Al Munif. Beliau mengatakan, “Maka seluruh hadits yang palsu mesti terselimuti kegelapan, ungkapannya mengandung makna yang  rendah, serampangan dan sembrono dalam penataan kalimat, yang kesemuanya itu menunjukkan kepalsuan dan kebohongannya.” Kemudian beliau memberikan beberapa contoh hadits palsu dan melanjutkan perkataannya, “Pasal: “Dan kami ingin memberitahukan beberapa ciri global yang dapat dijadikan pegangan untuk mengenal hadits palsu. Diantaranya adalah hadits tersebut memuat berbagai kalimat nyleneh dan ganjil, yang tidak mungkin diucapkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contohnya banyak bertebaran, diantaranya adalah hadits palsu yang berbunyi,

من قال لا إله إلا الله خلق الله من تلك الكلمة طائراً له سبعون ألف لسان، لكل لسات سبعون ألف لغة يستغفرون الله له

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’, maka dari kalimat tersebut Allah akan menciptakan seekor burung yang memiliki 70.000 lisan, setiap lisan  beristighfar kepada Allah dengan 70.000 bahasa yang berbeda.”

Contoh lainnya adalah hadits palsu yang berbunyi,

ومن فعل كذا وكذا أعطي في الجنة سبعين ألف مدينة، في كل مدينة سبعون ألف قصر، في كل قصر سبعون ألف حوراء

“Barangsiapa yang melakukan demikian dan demikian, maka di surga kelak dirinya akan diberikan jannah dengan 70.000 kota di dalamnya, di setiap kota terdapat 70.000 istana, dan di setiap istana terdapat 70.000 bidadari.”

Demikianlah berbagai contoh keanehan yang luar biasa, dan pasti pelakunya tidak terlepas dari dua kemungkinan. Pertama, dirinya seorang yang paling pandir dan dungu di seantero jagat ini atau dirinya adalah seorang zindiq (munafik) yang berniat melecehkan pribadi rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menisbatkan berbagai perkataan nyleneh tersebut kepada beliau.”

Pada saat ini, diantara orang yang menyatakan kebatilan berbagai hadits tersebut adalah Abul Fadl Abdullah Ash Shiddiq Al Ghumari. Dia berkata dalam komentarnya terhadap kitab Bisyaratil Mahbub bi Takfiridz Dzunub karya Al Adzra’i di halaman 125, “Perhatian: Terdapat banyak riwayat yang berbunyi, “Barangsiapa yang melakukan perbuatan demikian, maka dari amalan tersebut Allah akan menciptakan malaikat yang senantiasa bertasbih dan memuji kepada Allah.” Seluruh hadits dengan redaksi tersebut merupakan hadits yang batil. Namun di sisi lain, dirinya (Al Ghumari, pent-) malah memuji kitab Dalaa-ilul Khairaat dengan pujian yang selangit dalam kitabnya Khawathir Diniyyah dan merekomendasikan kitab tersebut?!

Diterjemahkan oleh : Abu Umair

Artikel pada http://www.wahonot.wordpress.com

Kunjungi blog kami yang lain:

http://www.tokoherbalonline.wordpress.com

http://www.wahonot.wordpress.com

InsyaAlloh berlanjut……..


[1]HR. Ahmad nomor 17440. Dihasankan Syaikh Syu’aib Al Arnauth.

About wahonot

I a salafy man

Posted on Juli 31, 2009, in Adab, Aqidah, keluarga, Manhaj, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: