Sholawat Nabi (Bag. 4 dari 6 tulisan)

Oleh : Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al Badr

Keutamaan Bershalawat

Berbagai hadits telah menerangkan keutamaan bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al Hafidz Isma’il bin Ishaq Al Qadli telah mengumpulkan berbagai hadits tersebut dalam suatu kitab khusus. Tatkala menjelaskan hadits tata cara bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari telah menunjukkan berbagai hadits yang menceritakan keutamaan bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam pembahasan ini, saya cukup membawakan penjelasan beliau (Ibnu Hajar-pent), karena beliau tergolong peneliti yang memiliki wawasan luas, serta akurat dan cermat dalam meneliti berbagai kitab hadits nabi. Beliau rahimahullah berkata dalam kitab Al Fath (11/167): “Dan hadits yang menjelaskan tata cara shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat dijadikan dalil atas keutamaan bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari segi adanya perintah untuk melakukan hal tersebut dan tingginya semangat para sahabat untuk mengetahui tata cara bershalawat kepada beliau. Terdapat berbagai hadits yang kuat dan menegaskan keutamaan shalawat kepada beliau walau Bukhari tidak meriwayatkannya sedikit pun.

Diantara hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Abu Hurairah dengan status marfu’,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawat sekali kepadaku, maka niscaya Allah bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali.”[1] Hadits ini memiliki penguat yaitu hadits Anas yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An Nasaa’i serta dishahihkan Ibnu Hibban. Selain itu hadits tersebut juga memiliki penguat lain, yaitu hadits Abu Bardah bin Niyar dan Abu Thalhah, keduanya diriwayatkan oleh An Nasaa’i dan para perawinya tsiqah.

Lafadz yang diriwayatkan dari Abu Bardah adalah,

من صلى علي من أمتي صلاة مخلصا من قلبه صلى الله عليه بها عشر صلوات ورفعه بها عشر درجات وكتب له بها عشر حسنات ومحا عنه عشر سيئات

“Barangsiapa dari umatku yang bershalawat sekali kepadaku dengan ikhlas, maka niscaya Allah akan bershalawat padanya sebanyak sepuluh kali, meninggikan kedudukannya sebanyak sepuluh derajat, menetapkan sepuluh kebaikan baginya dan menghapus sepuluh keburukan darinya.”[2] Sedangkan lafadz yang diriwayatkan dari Abu Thalhah serupa dengan lafadz di atas dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

Diantara hadits yang menerangkan keutamaan shalawat adalah hadits Ibnu Mas’ud dengan status marfu’,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُ النَّاسِ عَلَيَّ صَلاةً

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kedudukannya denganku[3] pada hari kiamat kelak adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”[4] Hadits ini dihasankan Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban serta memiliki hadits penguat yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Abu Umamah dengan lafadz,

صلاة أمتي تعرض علي في كل يوم جمعة فمن كان أكثرهم علي صلاة كان أقربهم مني منزلة

“Shalawat yang diucapkan umatku akan dihadapkan padaku setiap hari Jum’at. Barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, maka dia adalah orang yang paling dekat kedudukannya denganku.”[5] Sanad hadits ini tidak mengapa.

Terdapat perintah untuk memperbanyak shalawat kepada beliau di hari Jum’at sebagaimana kandungan hadits Awas bin Awas yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan Ibnu Hibban dan Hakim.

Hadits lain yang menerangkan keutamaan bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadits yang berbunyi,

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang pelit adalah mereka yang tidak bershalawat kepadaku tatkala namaku disebutkan di hadapannya.”[6] Diriwayatkan oleh Tirmidzi, An Nasaa’i, Ibnu Hibban, Hakim dan Isma’il Al Qadli dan beliau secara panjang lebar memaparkan berbagai jalan periwayatan hadits tersebut serta menjelaskan perselisihan di dalamnya dari hadits yang diriwayatkan Ali dan anaknya Al Husain. Derajat hadits ini minimal hasan.

Diantara hadits tersebut adalah hadits,

مَنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ خَطِئَ طَرِيقَ الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang lupa bershalawat kepadaku, maka telah salah jalan untuk menuju surga.”[7] Diriwayatkan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas, Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari hadits Abu Hurairah, Ibnu Abi Hatim dari Jabir, Thabrani dari Husain bin ‘Ali dan berbagai jalur periwayatan tersebut saling menguatkan.

Dan hadits,

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Semoga Allah menghinakan seorang yang tidak bershalawat kepadaku tatkala namaku disebutkan di hadapannya.”[8] Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah dengan lafadz,

من ذكرت عنده فلم يصل علي فمات فدخل النار فأبعده الله

“Barangsiapa yang tidak bershalawat kepadaku ketika namaku disebutkan di hadapannya, kemudian meninggal, maka dirinya masuk neraka dan dijauhkan dari rahmat Allah.”

Hadits ini memiliki penguat dan dishahihkan Hakim serta memiliki beberapa penguat yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Abu Dzar, juga hadits Anas yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, dan hadits mursal dari Al Hasan yang diriwayatkan Sa’id bin Manshur.

Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Malik ibnul Huwairits, Thabrani meriwayatkan hadits dari Abdullah bin ‘Abbas dan terdapat hadits dari Abdullah bin Ja’far yang diriwayatkan Al Faryabi dan hadits Ka’ab bin ‘Ujrah yang diriwayatkan Hakim dengan lafadz,

بعد من ذكرت عنده فلم يصل علي

“Semoga dijauhkan dari rahmat Allah, orang yang tidak bershalawat kepadaku tatkala namaku disebutkan di hadapannya[9].”

Thabrani meriwayatkan dari Jabir secara marfu’,

شقي عبد ذكرت عنده فلم يصل علي

“Sungguh celaka seorang hamba yang tidak bershalawat kepadaku tatkala namaku disebutkan di hadapannya.”

Abdurrazzaq meriwayatkan hadits mursal dari Qatadah,

من الجفاء أن أذكر عند رجل فلا يصلي علي

“Termasuk perbuatan kurang ajar, namaku disebutkan di hadapan seseorang kemudian dia tidak bershalawat kepadaku.”[10]

Diantara hadits yang menerangkan keutamaan bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadits Ubay bin Ka’ab yang berbunyi,

“Seorang lelaki berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai rasulullah sesungguhnya aku adalah seorang yang sering berdoa, berapa bagiankah dari doaku itu aku peruntukkan untuk bershalawat kepadamu? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sekehendak hatimu.” Lelaki itu berujar, “Bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau menjawab, “Terserah anda, jika engkau menambahnya maka itu lebih baik.” Lelaki itu kembali berujar, “Bagaimana kalau aku jadikan seluruhnya bagimu?” Maka beliau menjawab, “Hal itu tidak mengapa jika engkau mampu melakukannya.” Diriwayatkan Ahmad dan selainnya dengan sanad hasan.[11]

Inilah beberapa hadits dengan sanad yang dapat dipertanggungjawabkan dalam permasalahan ini, sedangkan yang lain merupakan hadits yang lemah dan palsu. Adapun riwayat yang dipalsukan oleh para tukang cerita jumlahnya sangat banyak dan tak terhitung, dan cukuplah hadits-hadits yang shahih digunakan untuk memaparkan keutamaan bershalawat kepada beliau.” Selesai perkataan Ibnu Hajar rahimahullah.

Maksud dari ucapan الصَّلاَة dalam hadits Ubay bin Ka’ab, فَمَا أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِي adalah do’a.[12]

Beberapa Kitab yang Membicarakan Keutamaan Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para ulama telah mencurahkan perhatian dalam membahas keutamaan ibadah yang agung ini, mereka pun mengkhususkannya dalam tulisan mereka. Ulama yang kali pertama menyusun hal tersebut, sepanjang pengetahuanku adalah Isma’il bin Ishaq al Qadli, wafat tahun 282 H dalam kitabnya yang berjudul “Fadlush Shalati ‘alan Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Kitab ini telah dicetak dan diteliti oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani serta memuat 107 hadits yang kesemuanya bersanad.

Diantara kitab populer yang telah tercetak dan membicarakan tema ini adalah kitab “Jalaul Afham fish Shalati ‘alaa Khairil Anam” karya Al ‘Allamah Ibnul Qayyim, “Ash Shalatu wal Bisyr fish Shalati ‘alaa Khairil Anam” karya al Fairuz Abadi pengarang kitab al Qamus serta kitab “Al Qaulul Badi’ fish Shalati ‘alal Habibisy Syafi’” karya As Sakhawi yang wafat tahun 902 H. Dalam mengakhiri kitabnya tersebut, beliau (As Sakhawi-pent) membawakan penjelasan mengenai berbagai kitab yang membahas shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyebutkan berbagai kitab tersebut secara berurutan dan beliau meletakkan kitab Jalaul Afham karya Ibnul Qayyim pada urutan kelima. Selain itu, beliau menerangkan kualitas seluruh kitab tersebut dan mengatakan, “Secara global, kitab yang terbaik dan memuat banyak faedah adalah kitab Ibnul Qayim yang berada pada urutan kelima.”

Aku (Syaikh Abdul Muhsin) katakan, “Bahkan kitab tersebut sangat berharga. Dalam kitab tersebut, beliau telah menggabungkan antara penyebutan berbagai hadits dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan ibadah yang agung ini dengan berbagai penjelasan mengenai keabsahan hadits-hadits tersebut disertai faedah yang terkandung di dalamnya. Beliau telah memamaparkan hal tersebut dalam muqaddimah kitab ini, “Kitab ini tiada duanya, belum ada kitab yang menyamainya dalam kuantitas pemaparan faedah. (Di dalamnya) kami menjelaskan berbagai hadits yang bertemakan shalawat dan salam kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami juga menjelaskan keabsahan dan cacat seluruh hadits tersebut dengan penjelasan yang memuaskan. Kemudian kami menjelaskan berbagai rahasia, keutamaan, serta hukum dan faedah yang terkandung di dalamnya, berbagai situasi yang disyari’atkan untuk bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak luput, kami juga memperbincangkan hukum mengucapkan shalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam disertai pemaparan akan adanya perselisihan ulama atas hal tersebut, menegaskan pendapat yang kuat, mematahkan segala pendapat yang lemah dan memberitahukan keunggulan kitab ini. Wal hamdu lillahi rabbil ‘alamin.”

Di sisi lain, terdapat kitab yang membahas permasalahan ini namun tidak dilandasi ilmu, memuat berbagai keutamaan dan tata cara bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dibangun di atas ilmu, seperti kitab “Dalaa-ilul Khairaat” karya al Jazuli yang wafat tahun 854 H. Kitab ini telah tersiar dan tersebar di berbagai penjuru dunia, penulis kitab Kasyfuzh Zhunun (1/495) mengomentari kitab ini sebagai berikut, “Kitab ‘Dalaa-ilul Khairaat wa Syawariqul Anwar fii Dzikrish Shalati ‘alaan Nabiyyil Mukhtar-shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah kitab yang kali pertama menunjuki kami kepada hidayah, segala puji bagi Allah,”… hingga perkataannya, “karya Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr Al Jazuli As Simlali As Syarif Al Hasani yang wafat tahun 854 H. Kitab ini salah satu dari ayat Allah yang memperbincangkan permasalahan shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di belahan timur dan barat dunia manusia rutin membacanya, terlebih di negeri Roma.”

Kemudian dia (penulis kitab Kasyfuzh Zhunun) menyebutkan berbagai kitab yang mensyarah kitab tersebut.

Aku (Abdul Muhsin al ‘Abbad) katakan, “Namun diterimanya kitab tersebut dan dibaca oleh mayoritas manusia tidak didasari oleh alasan yang dapat dibenarkan, namun mereka melakukannya didasari sikap taklid (membebek-pent) yang bersumber dari ketidaktahuan diantara mereka. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad al Khidr bin Mayabi Asy Syinqithi dalam kitab beliau “Musytahil Kharifil Janni fii Raddi Zalaqaatit Tijanil Janni”. Beliau mengatakan tatkala sedang membantah kaum sufi Tijani, “Sesungguhnya mereka (kaum Tijani) gemar terhadap sesuatu yang asing(yang tidak berasal dari agama ini, pent-). Oleh karena itu anda dapat melihat mereka lebih senang untuk bershalawat dengan menggunakan lafadz-lafadz shalawat yang terdapat dalam kitab Dalaa-iul Khairaat dan yang semisalnya, padahal sebagian besar riwayat tersebut tidak memiliki sanad yang shahih. Anda pun dapat melihat mereka benci untuk menggunakan berbagai lafadz shalawat yang diriwayatkan secara shahih dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tercantum dalam Shahih Bukhari. Tidak akan anda temui seorang pun dari para ulama yang berwirid dengan lafadz-lafadz shalawat dari kitab tersebut (Dalaa-ilul Khairaat-pent).

Perbuatan yang mereka lakukan itu tidak lain disebabkan karena kegemaran mereka terhadap sesuatu yang asing. Adapun jika kebenaran itu terlihat, tentulah seorang yang berakal, terlebih seorang ulama, tidak akan berpaling dari lafadz shalawat yang shahih dan berasal dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dirinya malah beralih kepada lafadz shalawat yang tidak terdapat dalam hadits shahih, atau bahkan beralih pada lafadz shalawat yang bersumber dari mimpi-mimpi orang yang sekilas terlihat shalih.”

Telah menjadi aksioma bahwa segala ajaran yang sesuai dengan tuntunan nabi dan dipraktekkan oleh para sahabat yang mulia dan golongan yang mengikuti kebaikan mereka merupakan metode beragama yang lurus lagi kokoh, orang yang mengamalkannya pasti akan mendapatkan faedah dan terbebas dari segala hal yang membinasakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang telah disepakati akan keabsahannya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha,

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama kami ini, yang tidak berasal dari kami, maka dia tertolak.” [13]Dan dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunan dari kami, maka dia tertolak.”[14]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

عليكم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk setelahku. Gigitlah dengan geraham kalian, dan jauhilah berbagai perkara yang diada-adakan dalam agama. Karena sesungguhnya perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”[15].

Beliau telah memperingatkan umatnya untuk tidak berlebih-lebihan kepada beliau, beliau bersabda dalam sebuah hadits yang shahih,

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم فإنما أنا عبده فقولوا عبد الله ورسوله

“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Ibnu Maryam. Sesunguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah bahwa aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”[16]

Tatkala seseorang berkata pada beliau,

مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ

“Sesuai dengan kehendak Allah dan kehendakmu.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berujar,

أَجَعَلْتَنِي لِلَّهِ نِدّاً؟ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ

“Apakah anda hendak menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah?” Cukuplah anda katakan, “Sesuai dengan kehendak Allah.”[17]

Kitab Dalaa-ilul Khairaat mencampuradukkan berbagai perkataan. Memuat berbagai hadits palsu dan lemah serta berbagai riwayat yang melampaui batas dan tidak diridlai oleh Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal tersebut merupakan sesuatu yang ganjil dan bukan metode beragama para pendahulu kita yang shalih.

Diterjemahkan oleh Abu Umair

Artikel  pada http://www.wahonot.wordpress.com

Kunjungi blog kami yang lain:

http://www.pustakaalbayaty.wordpress.com

http://www.tokoherbalonline.wordpress.com


[1]HR. Muslim nomor 70; Ahmad nomor 10292; Ibnu Hibban nomor 906; Abu Ya’la dalam Musnadnya nomor 6495.

[2]Ash Shahihah nomor 3360.

[3]Dalam pemaknaan yang lain, maksudnya adalah yang paling berhak mendapatkan syafa’at beliau-pent, lihat Tuhfatul Ahwadzi 2/496.

[4]HR. Ibnu Hibban nomor 911; Abu Ya’la nomor 5011.

[5]HR. Al Baihaqi dalam Sunanul Kubra nomor 5791 dan dalam Syu’abul Iman nomor 3032.

[6]HR. Ibnu Hibban nomor  909; Hakim nomor 2015; Thabrani dalam Mu’jamul Kabir nomor 2885; Abu Ya’ala nomor 6776; Al Bazzar nomor 1342; Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman nomor 1565, 1567, 1568.

[7]HR. Ibnu Majah nomor 908; Thabrani nomor 12819.

[8]HR. Tirmidzi nomor 3545; Ibnu Hibban nomor 908; Hakim nomor 2016.

[9]HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman nomor 1572 dengan lafadz بعد من ذكرت عنده فلم يصل عليك.

[10]HR. Abdurrazzaq nomor 3121.

[11]HR. Hakim nomor 3578, Al Baihaqi nomor 1499.

[12]Sehingga makna perkataan beliau radliallahu ‘anhu adalah berapa bagiankah dari doaku yang kugunakan untuk bershalawat kepadamu, wahai rasulullah.pent-, wallahu a’lam

[13] HR. Bukhari nomor 2550.

[14]HR. Muslim nomor 3243.

[15]HR. Tirmidzi nomor 2676; Ibnu Majah nomor 42; Ahmad nomor 17184, 17185; Ad Darimi nomor 95; Ibnu Hibban nomor 5; Thabrani nomor 618, 624,642.

[16] HR. Bukhari nomor 3261.

[17] Lihat Ash Shahihah 1/266.

About wahonot

I a salafy man

Posted on Juli 29, 2009, in Adab, Aqidah, keluarga, Manhaj, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: