Sholawat Nabi (Bag. 3 dari 6 tulisan)

Oleh : Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al Badr

Tata Cara Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tatacara shalawat kepada para sahabat tatkala mereka bertanya akan hal itu. Tata cara tersebut telah diriwayatkan dari berbagai jalan dari beberapa sahabat Nabi radliallahu ‘anhum. Akan saya sebutkan beberapa diantaranya yang tercantum dalam Shahihain atau salah satu dari keduanya.

Bukhari meriwayatkan dalam kitab Al Anbiya’ dalam Shahihnya dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia berkata, “Ka’ab bin ‘Ujrah menemuiku kemudian berkata, “Bersiap-siaplah engkau menerima hadiah yang aku dengar dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Aku pernah bertanya pada beliau, “Wahai rasulullah, bagaimana tata cara bershalawat kepada engkau dan ahlu bait? Karena seseungguhnya Allah telah mengajari kami tata cara mengucapkan salam kepadamu?” Maka nabi pun menjawab, “Ucapkanlah,

الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرِاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ الَلَّهُمَّ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya, Allah berilah kemuliaan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberi kemuliaan kepada Ibrahim beserta keluarganya. Sesngguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berikanlah karunia kepada Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.”

Bukhari juga meriwayatkan hadits Ka’ab bin ‘Ujrah dalam Shahihnya pada bagian tafsir surat Al Ahzaab dengan lafadz,

“Dikatakan, wahai rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimanakah kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Sabdanya, “Ucapkanlah,

الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آل إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. الَلَّهُمَّ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آل إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ “

“Ya, Allah berilah kemuliaan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberi kemuliaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berikanlah karunia kepada Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Ad Dakwah dalam Shahihnya, dan hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dari Ka’ab bin Hujrah radliallahu ‘anhu dari beberapa jalan yang berbeda.

Bukhari meriwayatkan dalam kitab Ad  Dakwah dalam Shahihnya dari Abu Sa’id Al Khudri, kami bertanya pada rasulullah, “Wahai rasulullah ini adalah  tata cara mengucapkan salam kepadamu, bagaimana kami mengucapkan shalawat kepadamu?”

Rasulullah pun menjawab,“Ucapkanlah,

الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مَحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ

“Ya Allah, berilah kemuliaan kepada Muhammad, hamba-Mu sekaligus utusan-Mu sebagaimana Engkau memberi kemuliaan kepada Ibrahim. Berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga beliau, sebagaimana Engkau memberi karunia kepada Ibrahim beserta keluarganya.” Beliau (Bukhari-pent) meriwayatkan hadits yang sejenis dalam bab Tafsir surat Al Ahzaab.

Bukhari meriwayatkan dalam kitab Al Anbiya dari Abu Humaid As Sa’idi radliallahu ‘anhu, bahwa para sahabat bertanya, “Wahai rasulullah bagaimana kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ucapkanlah,

الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَتِهِ بَارَكْتَ عَلَى  آلِ إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

“Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada Muhammad, para istri beliau beserta keturunannya sebagaimana Engkau memberikan kemuliaan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah karunia kepada Muhammad, para istri beserta keturunan beliau sebagaimana Engkau memberi karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.” Bukhari juga meriwayatkan hadits dengan lafadz seperti ini dalam kitab Ad Dakwah dan Muslim juga meriwayatkan hadits ini dalam Shahihnya.

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya sebuah hadits dari Abu Mas’ud Al Anshari radliallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami tatkala kami sedang berada di majelis Sa’ad bin Ubadah. Maka Basyir bin Sa’ad bertanya kepada beliau, “Allah telah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadamu, bagaimanakah kami mengucapkan shalawat kepadamu?”

Abu Mas’ud berkata, “Kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam beberapa lama, sehingga kami berangan-angan seandainya Basyir tidak bertanya kepada beliau. Kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah,

الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آل إِبْرَاهِيْمَ في العَالمَِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَالسَّلاَمُ كَمَا عَلِمْتُمْ”

“Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberikan kemuliaan kepada Ibrahim. Dan berilah karunia kepada Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta ini, hanya Engau-lah yang Mahaterpuji lagi Mahamulia. Adapun mengucapkan salam, telah aku ajarkan kepada kalian.”

Inilah berbagai sumber hadits tersebut yang tercantum dalam Shahihain atau salah satu dari keduanya.

Hadits yang mengajarkan tata cara shalawat berasal dari empat sahabat, yaitu Ka’ab bin ‘Ujrah, Abu Sa’id Al Khudri, Abu Humaid As Sa’idi dan Abu Mas’ud Al Anshari.

Bukhari dan Muslim bersama-sama meriwayatkan hadits dari sahabat Ka’ab bin ‘Ujrah, namun beliau bersendirian dalam meriwayatkan hadits Abu Sa’id dan Muslim bersendirian dalam meriwayatkan hadits Abu Mas’ud Al Anshari.

Selain Bukhari dan Muslim, hadits yang diriwayatkan dari empat sahabat tersebut juga diriwayatkan oleh imam ahli hadits yang lain. Hadits Ka’ab bin Hujrah juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasaa’i, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad Darimi.

Hadits yang berasal dari Abu Sa’id Al Khudri juga diriwayatkan oleh An Nasaa’i dan Ibnu Majah.

Hadits Abu Humaid diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, An Nasaa’i dan Ibnu Majah.

Sedangkan hadits Abu Mas’ud Al Anshari diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, An Nasaa’i dan Ad Darimi.

Hadits yang turut membicarakan tata cara shalawat juga diriwayatkan dari sahabat lainnya selain keempat sahabat tadi, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Thalhah bin Abdillah, Abu Hurairah, Buraidah ibnul Hashib dan Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhum.

Tata Cara Shalawat Terbaik

Segala tata cara bershalawat yang diajarkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya, merupakan tata cara terbaik dalam bershalawat.

Bentuk terbaik dari kesemuanya adalah tata cara shalawat yang menggabungkan antara ucapan shalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga beliau dengan ucapan shalawat kepada Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya.

Diantara ulama yang berdalil akan keutamaan tata cara yang telah kami kemukakan di atas adalah al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, beliau berkata di dalamnya 11/166, “Aku (Ibnu Hajar) katakan, “Pengajaran yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada para sahabatnya mengenai tata cara bershalawat ketika mereka bertanya akan hal itu, dapat dijadikan dalil bahwa bahwa tata cara itulah yang terbaik dalam mengucapkan shalawat kepada beliau. Hal ini dikarenakan beliau tidaklah memilih sesuatu bagi dirinya melainkan hal tersebut sesuatu yang termulia dan terbaik. Konsekuensinya adalah seandainya seseorang berjanji untuk bershalawat kepada beliau dengan tata cara yang paling baik, maka yang sebaiknya dia lakukan dalam menunaikan janji tersebut adalah membaca shalawat dengan lafadz yang terbaik (yang mengandung shalawat kepada Muhammad beserta keluarga beliau dan shalawat kepada Ibrahim beserta keluarga beliau-pent).”

Kemudian beliau menandaskan bahwa An Nawawi turut membenarkan hal tersebut sebagaimana yang tertulis dalam kitab Ar Raudlah,dan beliau menyebutkan berbagai tata cara lain dalam menunaikan janji di atas. Kemudian beliau mengatakan, “Diantara tata cara shalawat yang ditunjukkan oleh dalil dan dapat menunaikan janji yang diucapkan tersebut adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكْتَالَ بِالْمِكْيَالِ الْأَوْفَى إِذَا صَلَّى عَلَيْنَا أَهْلَ الْبَيْتِ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ وَذُرِّيَّتِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Barangsiapa yang ingin mendapatkan balasan yang sempurna tatkala mengucapkan shalawat kepada kami, ahlul bait hendaklah ia mengucapkan, “Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada nabi Muhammad, para Ummahatul Mukminin istri beliau, keturunan beliau dan ahlu bait beliau sebagaimana Engkau memberikan kemuliaan kepada Ibrahim…” (Al Hadits). Wallahu a’lam.”[1]

Tata Cara Ringkas dalam Bershalawat

Salafush shalih -dan diantara mereka adalah ulama ahli hadits-, telah mempraktekkan tata cara pengucapan shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala nama beliau disebutkan dengan dua bentuk shalawat yang ringkas, yang pertama dengan lafadz, صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   dan bentuk kedua dengan lafadz عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ.

Kedua lafadz ini banyak ditemui dalam kitab-kitab hadits. Bahkan dalam berbagai karangan, para salafush shalih menulis wasiat untuk senantiasa mempraktekkan hal tersebut secara sempurna, yaitu dengan menggabungkan pengucapan shalawat dan salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Shalah dalam kitab beliau, ‘Ulumul Hadits mengatakan, “Selayaknya bagi seorang pencatat hadits senantiasa menulis shalawat dan salam kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala nama beliau tercantum dalam tulisannya, dan janganlah dirinya merasa bosan untuk melakukannya berulang kali. Sesungguhnya hal itu merupakan faedah terbesar yang selayaknya dikejar oleh mereka yang bergelut dalam ilmu hadits dan pencatatan hadits. Barangsiapa yang luput dari hal tersebut maka keuntungan yang besar telah luput darinya.” Hingga perkataan beliau, “Dan hendaknya menjauhi dua kekeliruan dalam menulis shalawat dan salam kepada beliau. Pertama, menulis shalawat dan salam kepada beliau secara tidak sempurna seperti menulis shalawat dan salam dengan simbol yang mengisyaratkan hal tersebut, atau dengan dua huruf atau yang semisalnya.

Kedua, menulisnya dengan makna yang tidak lengkap, seperti tidak menulis lafadz (وَسَلَّمَ), walaupun hal tersebut dapat ditemukan di beberapa kitab para ulama dahulu.”[2]

An Nawawi mengatakan dalam kitab Al Adzkar, “Apabila salah seorang diantara kalian mengucapkan shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaklah dirinya menggabungkan antara lafadz shalawat dan salam. Janganlah membatasi diri dengan hanya mengucapkan (( صَلَّى الله ُعَلَيْهِ)) atau hanya dengan ucapan ((عَلَيْهِ السَّلاَمُ)). “[3]

Ibnu Katsir menukil perkataan An Nawawi ini di akhir penafsiran beliau terhadap surat Al Ahzaab, dan berkomentar: “Apa yang beliau (An Nawawi-pent) katakan tersebut merupakan intisari dari firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٥٦)

Oleh karena itu, yang lebih utama adalah mengucapkan صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا (yaitu menggabungkan ucapan shalawat dan salam kepada beliau,tidak hanya salah satunya saja-pent).”[4]

Diterjemahkan oleh Abu umair

Artikel : http://www.wahonot.wordpress.com

Kunjungi blog kami yang lain:

http://www.pustakaalbayaty.wordpress.com

http://www.tokoherbalonline.wordpress.com


[1] HR. Abu Dawud nomor 832, Al Baihaqi dalam Sunanul Kubra 2/151.

[2] Muqaddimah Ibnish Shalah 1/105

[3] ِAl Adzkar 1/271.

[4] Tafsirul Qur’anil ‘Azhim 3/677.

About wahonot

I a salafy man

Posted on Juli 29, 2009, in Adab, Aqidah, keluarga, Manhaj, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: