Sholawat Nabi ( Bag. 1 dari 6 tulisan)

Oleh : Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al Badr

Mukaddimah

Untaian puji hanyalah milik Allah, Dzat yang Mahapenyayang lagi Mahapengasih, Raja semesta alam. Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberikan kemuliaan kepada Ibrahim beserta keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung. Ya Allah, berikanlah karunia kepada Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung.

Ya Allah, ridlailah para sahabat beliau yang mulia serta orang-orang yang berusaha mengikuti mereka di atas kebaikan. Amma ba’du:

Sesungguhnya nikmat Allah ta’ala terhadap para hamba-Nya sangat banyak, tak terhitung jumlahnya dan nikmat terbesar adalah pengutusan hamba-Nya,rasul-Nya, kekasih dan individu yang dicintai-Nya, sebaik-baik makhluk, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu bertujuan untuk mengeluarkan manusia dan jin dari jurang kegelapan menuju cahaya, mengentaskan mereka dari kehinaan peribadatan kepada makhluk menuju kemuliaan beribadah kepada sang Khaliq subhanahu wa ta’ala serta memberi petunjuk bagi mereka menuju jalan kebahagiaan dan memperingatkan mereka dari berbagai jalan kebinasaan dan kesengsaraan.

Allah telah memberitakan akan nikmat yang agung ini dalam kitab-Nya yang mulia. Allah berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (١٦٤)

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran: 164).

Dia berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (٢٨)

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Al Fath: 28).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah yang beliau emban, menunaikan amanah dan menyampaikan nasehat kepada umat ini dengan sempurna. Beliau telah memberikan kabar gembira dan peringatan pada umat ini, serta menunjukkan kepada mereka segala bentuk kebaikan dan memperingatkan umatnya dari segala bentuk keburukan. Tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri di Arafah, beberapa saat menjelang beliau wafat, Allah ta’ala pun menurunkan firman-Nya (yang menyatakan beliau telah menunaikan risalah dengan sempurna),

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ ٌ (٣)

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maaidah: 3).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menginginkan umat ini bahagia. Allah telah menceritakan sifat yang telah Dia berikan kepada beliau dalam firman-Nya,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٢٨)

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128).

Segala yang telah beliau lakukan tersebut merupakan hak umat ini sekaligus kewajiban beliau sebagaimana firman-Nya,

وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (٥٤)

“Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An Nuur: 24).

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (٣٥)

“Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An Nahl: 35).

Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan dari Az Zuhri bahwa dia berkata,

من الله الرسالة وعلى رسول الله صلى الله عليه وسلم البلاغ وعلينا التسليم

“Risalah kenabian berasal dari Allah, kewajiban rasul adalah menyampaikan, sedangkan kita berkewajiban untuk menerimanya.”[1]

Sesungguhnya tanda kebahagiaan seorang muslim adalah menerima dan melaksanakan berbagai ajaran yang telah dibawa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut sebagaimana firman-Nya,

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٦٥)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian di dalam hati mereka tidak ada keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa’: 65).

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا (٣٦)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al Ahzaab: 36).

Allah ta’ala berfirman pula,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٦٣)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An Nuur: 63).

Kapan Ibadah dapat Diterima?

Peribadatan kepada Allah akan diterima di sisi-Nya dan bermanfaat bagi pelakunya apabila mengandung dua perkara yang asasi.

Perkara pertama, peribadatan tersebut diperuntukkan hanya kepada Allah semata, tidak ada tujuan lain dalam pelaksanaan tersebut. Dia tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan, maka demikian pula diri-Nya tidak boleh disekutukan dalam segala bentuk peribadatan. Allah ta’ala berfirman,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا (١٨)

“Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Al Jin: 18).

Allah berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢)لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (١٦٣)

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berislam (kepada Allah)”. (Al An ‘aam: 162-163).

Perkara kedua, peribadatan tersebut sejalan dengan syari’at yang diemban rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٧)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al Hasyr: 7).

Allah ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣١)

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “، وفي رواية لمسلم مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama kami ini, yang tidak berasal dari kami, maka dia tertolak.” [2]Dan dalam riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunan dari kami, maka dia tertolak.”[3]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

عليكم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk setelahku. Gigitlah dengan geraham kalian, dan jauhilah berbagai perkara yang diada-adakan dalam agama. Karena sesungguhnya perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”[4]

Pengutusan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum mukminin merupakan nikmat Allah yang sangat besar, oleh sebab itu dalam kitab-Nya yang mulia, Allah memerintahkan umat Muhammad untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau setelah memberitakan bahwa Dia dan para malaikat-Nya juga bershalawat kepadanya. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٥٦)

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Al Ahzaab: 36).

Dalam sunnah yang suci, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan bershalawat kepadanya, tata cara dan berbagai hukum yang terkait dengan hal tersebut. Dalam risalah ini, saya akan menuturkan makna shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berbagai keutamaannya, menjelaskan berbagai tata cara shalawat serta akan saya sebutkan secara sekilas beberapa kitab karangan yang bertemakan ibadah yang mulia ini. Saya memohon kepada Allah ta’ala agar memberikan taufik dan petunjuk kepadaku.

InsyaAlloh berlanjut……

Diterjemahkan oleh Abu Umair Al Makassari

Diupload oleh :www.wahonot.wordpress.com

Silahkan Kunjungi blog kami yang lain:

http://www.pustakaalbayaty.wordpress.com

http://www.tokoherbalonline.wordpress.com


[1]Al Jami’ush Shahih Al Mukhtashar 6/2737, Daar Ibnu Katsir, Yamamah, Beirut.

[2] HR. Bukhari nomor 2550.

[3] HR. Muslim nomor 3243.

[4] HR. Tirmidzi nomor 2676; Ibnu Majah nomor 42; Ahmad nomor 17184, 17185; Ad Darimi nomor 95; Ibnu Hibban nomor 5; Thabrani nomor 618, 624,642.

About wahonot

I a salafy man

Posted on Juli 26, 2009, in Adab, Aqidah, keluarga, Manhaj, Muslimah, Renungan, Tazkiyatun nafs. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: