Selayang Pandang Hukum Murabahah BMT-Baitul Mal wa Tamwil (Bagian 3)

Oleh : Syaikh Bakr Abu Zaid hafizhahullah

Berbagai Bentuk Jual Beli Muwa’adah
Berdasarkan penelitian, model murabahah lil amir bisy syira’ yang dipraktekkan berbagai lembaga keuangan islam dapat dikategorikan sebagai bai’ al muwa’adah yang terdiri dari 3 jenis, yaitu:
• Bentuk pertama
Akad yang dilakukan bukanlah akad yang lazim (harus dipenuhi) diantara kedua belah pihak tanpa menyebutkan kadar keuntungan. Seperti seorang nasabah ingin membeli suatu barang kemudian dia mendatangi suatu lembaga keuangan dan berkata, “Belilah barang ini untukmu dan aku akan membelinya darimu dengan disertai tambahan harga, baik secara kontan maupun bertempo”.
• Bentuk kedua
Akad yang dilakukan adalah bukan akad yang lazim (harus dipenuhi) diantara kedua belah pihak, namun kadar keuntungan disebutkan. Semisal seseorang yang menginginkan suatu barang tertentu kemudian mendatangi suatu lembaga keuangan dan berkata, “Belilah barang ini untukmu! Aku akan membelinya darimu baik secara kontan atau bertempo dan aku akan memberi laba 1000 riyal”
• Bentuk ketiga
Akad yang dilakukan kedua belah pihak adalah akad lazim (harus dipenuhi) sesuai kesepakatan mereka dengan menyebutkan kadar keuntungan. Seperti seseorang yang menginginkan barang dengan karakteristik tertentu kemudian mendatangi suatu lembaga keuangan dan keduanya bersepakat bahwa lembaga keuangan tersebut berkomitmen membeli barang yang dimaksudkan -dapat berupa aktiva tetap, perkakas atau semisalnya-, setelah barang dibeli oleh lembaga keuangan, nasabah berkomitmen untuk membeli barang itu dari lembaga keuangan, dengan harga yang telah disepakati bersama baik secara kontan maupun bertempo.
Sebab Terjadi Jual Beli Muwa’adah
Negeri-negeri Islam mengerang disebabkan terjadinya berbagai bentuk mu’amalah ribawi yang menekan berbagai bank dan lembaga keuangan. Seluruh tempat tersebut merupakan tempat yang mengumandangkan perang terhadap Allah dan rasul-Nya, pusat terbesar yang mengguncangkan ekonomi, menghancurkan negeri, memisahkan rasa malu dari kehidupan serta menambah jumlah orang yang fakir dan yang berhutang.
Di masa permulaan, berbagai bentuk mu’amalah yang banyak dilakukan orang adalah mu’amalah ribawi yang dibesar-besarkan dengan nama dusta, yaitu ‘pinjaman berbunga’. Dan sesungguhnya di antara dampak gelombang semangat keislaman kontemporer adalah adanya gerakan dari bank-bank Islam. Telah menjadi kewajiban mereka, mewujudkan mu’amalah yang islami sehingga mengembalikan umat agar dapat menunaikan bentuk mu’amalat yang sesuai dengan agama dan syari’at Allah serta menepis segala bentuk infiltrasi yang ingin menyusup ke dalamnya.
Layaknya seorang muslim yang terlahir dari pernikahan yang islami maka dirinya wajib meniti hidup serta mempraktekkan segala usaha dan bentuk mu’amalah berdasarkan akad-akad syar’i yang terbebas dari bentuk riba.
Didorong keinginan untuk menolak mu’amalah ribawi yang disebut dengan ‘pinjaman berbunga’ tadi, maka berbagai lembaga keuangan islam mengadakan bentuk mu’amalah yang dinamakan ‘Bai’ul Murabahah’ atau ‘Bai’ul Murabahah lil Amir wasy Syira’, akan tetapi nama yang lebih tepat untuk bentuk mu’amalah ini adalah ‘Bai’ul Muwa’adah’, karena di dalam transaksi mu’amalah tersebut terdapat janji yang diadakan kedua belah pihak, yaitu janji yang berasal dari nasabah untuk membeli barang dari bank, dan janji dari bank untuk membeli barang yang dipesan nasabah kemudian menjual barang itu kepadanya.
Selain itu, perjanjian antara kedua belah pihak dalam bentuk jual beli ini,-apakah ditunaikan atau tidak- merupakan pokok perselisihan di antara ulama dalam menentukan hukumnya,-apakah haram atau tidak-. Sehingga penamaan transaksi ini dengan ‘Bai’ul Muwa’dah’ lebih tepat untuk digunakan karena nama merupakan wadah bagi makna yang terkandung di dalamnya.
Maka apakah bentuk mu’amalah ini hukumnya haram seperti pinjaman berbunga? Atau boleh secara mutlak atau perlu perincian? Silahkan menyimak pembahasan berikut? Wallahu a’lam.

Berlanjut InsyaAlloh………..

About wahonot

I a salafy man

Posted on Juni 3, 2009, in Fikh, keluarga, Muslimah. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum,
    Ahsan,
    JIka tidak keberatan, mhon dibuat dalam bentuk ebook pd, sebab sangat banyak yang membutuhkan informasi ini. Cuma jika harus terkoneksi internet untuk membacanya sangat sedikti yang bisa membaca.

    Wassalamu’alaikum
    Abu Luthfi

    wa’alaikumussalam …iya akhi ana juga rencana mau buat e-booknya semoga bisa lekas bisa didownload, doakan akh.jazakalloh atas masukannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: