Mewaspadai Penyimpangan Seks

Oleh : Al Ustadz Abu Umar Basyir

Ada rumus baku bagi kaum muslimin. Begini, rumusnya: apabila pribadi dan fisik kita dipandu dengan aturan Allah, baik saat bergerak atau diam, maka kita akan terbebas dari kesesatan. Sesat pun bermacam-macam. Bekerja tidak sesuai dengan kemampuan akademis atau keterampilan, konon juga bisa disebut sesat. Meski itu hanya soal kebahasaan, yang bisa jadi tak berpengaruh apa-apa terhadap kedudukan seorang hamba di hadapan Allah. Orang yang beribadah tidak dengan cara yang diajarkan dalam As-Sunnah, juga sesat. Kalo yang ini kesesatan sesungguhnya, di mana pelakunya diancam Neraka.
Orang yang meyakini rukun iman secara keliru, atau tidak meyakini salah satunya, atau menolak aqidah dan keyakinan yang sudah mufakat di kalangan para ulama kaum muslimin, juga dapat disebut sesat.
Banyak sekali kategori sesat yang bisa dipikul seseorang. Semuanya berpangkal dari konteks keluar dari petunjuk Allah. kecuali, ya sesat dalam makna kebahasaan, yang tak mengandung pelanggaran terhadap hukum Allah.
Seks bisa sesat? Bisa saja. Dan itu biasa disebut sebagai penyimpangan seks.
Seks adalah salah satu karunia Allah. Ia dapat disejajarkan dengan makan, minum, atau sejenis itu. Allah memberi kesempatan umat manusia untuk memuaskan diri dengan makan, minum, berhubungan seks, asalkan dalam koridor yang dihalalkan.
Pusingnya, dunia sekarang ini sudah terlalu banyak membuka lembar-lembar keharaman yang sebagian besar berkutat seputar pelampiasan seks. Media hiburan, media bacaan, media komunikasi, dan berbagai jenis media lain, sudah sangat sarat dengan bumbu-bumbu seks, yang bukan saja membuat banyak aktivitas kita sebagai muslim terganggu, namun juga mencetak peluang sebesar-besarnya bagi bani Adam, untuk semakin terjebak dalam dunia maksiat.
Penyimpangan Seks: Penyakit Kejiwaan?
Ada perbedaan sudut pandang antara kalangan seksolog umum, dengan seksologi Islam. Seksolog hanya mengacu pada studi ilmiah, penelitian dan telaah secara impiris, terhadap realitas, berdasarkan logika dan hukum sebab akibat secara umum. Padahal, dalam konteks ini, setiap kesimpulan bisa bersifat sangat relatif kebenarannya. Indera, akal, dan kecermatan manusia sangat terbatas.
Sebagai contoh, istimnaa atau onani dan masturbasi, menurut seksologi umum dianggap bukan penyimpangan seks , selama diyakini tidak berbahaya secara fisik. Hubungan seks suami isteri dengan fantasi haram, juga dipandang bukan apa-apa. Akan semakin payah, bila budaya umat manusia semakin menawarkan gaya-gaya baru dari kesesatan prilaku. Semakin banyak perbuatan yang jelas-jelas haram menurut agama Islam, namun dipandang bukan apa-apa dalam pandangan umumnya seksolog.
Contoh yang lain adalah homoseksualisme dan lesbianisme. Kaum homo, gay dan sejenisnya, dianggap sebagai orang-orang normal. Alasannya adalah humanisme alias kemanusiaan dan kesetaraan gender. Setiap manusia, pria, wanita, maupun banci, dianggap saja saja!
Islam tentu saja menghormati dan memuliakan setiap manusia. Haram bagi kita menyakiti siapapun, seperti ditegaskan dalam hadits,
“Muslim sejati adalah yang membuat orang lain selamat dari bahaya lisan dan tangannya. Mukmin sejati adalah yang membuat siapapun merasa aman terhadapnya.”
Wanita, pria, atau banci sekalipun, harus diperlakukan secara baik. Juga harus dicatat: tawanan perang, orang kafir dan kaum komunis sekalipun, dalam Islam harus diperlakukan secara baik. Maka, memperlakukan seseorang secara baik, bukan berarti menganggap bahwa orang itu benar.
Kita wajib memperlakukan kaum gay dan homo secara baik dalam soal keduniaan, itu tidak berarti kita menganggap mereka benar.
Dalam Islam, setiap seks atau pelampiasan seks, atau kecenderungan seksual yang dilarang dalam Islam berarti maksiat, dosa, dan penyimpangan. Orang yang melakukannya berarti telah menyimpang seksnya. Orang yang menyimpang seksnya, berarti mengalami penyakit secara kejiwaan, meskipun menurut psikologi umum dia dianggap sehat dan normal, meski berbeda dari keumuman.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Ruum : 21)
Wanita diciptakan untuk menjadi pasangan pria, demikian juga sebaliknya, pria adalah pasangan wanita. Itu adalah hukum dan sunnatullah.
“Mereka (isteri-isterimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu sekalian adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah : 187)
Kenapa Seks Bisa Menyimpang?
Intinya, ada dua sebab utama dari terjadinya penyimpangan seks:
Pertama, implementasi seks yang keliru dan membentur sesuatu yang diharamkan dalam syariat. Implementasi di sini mulai dari pendidikan tentang seks, pengenalan terhadap seks, hingga pelaksanaan seks tersebut dalam wadahnya yang disebut ‘hubungan intim’, yang halal dilakukan oleh pasangan suami isteri. Bila terjadi keharaman dan pelanggaran dalam salah satunya, maka dalam implementasi seks seseorang telah menyimpang, menurut ajaran Islam.
Kedua, kegagalan atau kekurangan dalam implementasi seks. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kekurangan dalam soal pendidikan dan pengenalan seks sesuai ajaran Islam, atau kekurangan dalam ‘hubungan intim’ antara pasutri, sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Jadi inti pada poin kedua ini bukanlah ‘kekeliruan’ dalam implementasi, namun kekurangan atau ketimpangan dalam pelaksanaannya.
Maka, amatlah berbahaya membiarkan anak-anak kecil, remaja atau anak-anak yang masih dalam usia labil, untuk mempelajari sendiri tentang seks, atau bahkan belajar tentang seks dari sumber yang keliru: seperti buku-buku pendidikan seks umum yang dikarang oleh orang-orang sekuler atau bahkan orang-orang kafir. Sebab, mereka bisa terjebak dalam pemahaman yang salah.
Juga amatlah berbahaya membiarkan anak-anak, kecil maupun remaja seperti kita, untuk bergaul tanpa batasan. Hal ini adalah awal dari munculnya berbagai penyimpangan seks. Saat bergaul dengan sesama jenis tanpa batasan, hingga seseorang misalnya sering tidur dengan teman, adik, atau kakaknya dalam satu selimut, ini akan berpotensi menggugah bibit maksiat dalam diri manusia, sehingga muncul kecenderungan menyukai sesama jenis. Bila ini dibiarkan, akan terus berkembang sehingga seseorang bisa beralih secara penuh menjadi seorang homoseks atau lesbian.
Demikian juga membiarkan anak bergaul dengan lawan jenisnya tanpa batasan, akan menciptakan peluang meledaknya gairah seks, sehinga mereka melakukan seks pra nikah, atau yang mendekati hal itu. Saat anak-anak terbiasa melampiaskan keinginan seks secara keliru, saat itulah terbentuk dalam dirinya berbagai jenis penyakit syahwat.
Yang menyakitkan, banyak orang tua yang justru berbangga dengan sebagian wujud penyimpangan seks pada anak-anaknya.
“Anakku itu perempuan, tapi gaya pakaian, prilaku dan powernya, sama dengan anak laki-laki!”
“Anakku itu masih kecil, tapi sudah bisa menyanyikan lagu-lagu orang dewasa!”
“Anakku itu masih sekolah SD, tapi kok sudah ngerti pacaran…”
Banyak orang tua yang justru menceritakan hal-hal seperti itu dengan penuh kebanggaan. Bahkan sebagian mereka, sengaja membelikan pakaian-pakaian pria untuk anak wanitanya. Akhirnya, anak-anak terus tumbuh dengan segala penyimpangan dalam dirinya.
Maka, semua persoalan itu hanya dapat diselesaikan dengan membentengi diri kita dan anak-anak kita dari berbagai dosa dan maksiat. Bila kita masih remaja, belum menikah, alangkah baiknya kita banyak menyibukkan diri dengan acara-acara keagamaan, mengaji, membantu orang tua, dan belajar segigih mungkin. Sehingga seluruh potensi kita berkembang secara positif, dan pikiran kita tervokus pada hal-hal yang bersifat membangun. Waspadai pergaulan. Hati-hati membaca buku, dan berkumpullah bersama orang-orang yang shalih.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari jenis lelaki dan wanita, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu sekalian adalah yang paling bertakwa.” (Al-Hujuraat : 17) (Al Ustadz Abu Umar Basyir)

About wahonot

I a salafy man

Posted on Oktober 10, 2008, in Fikh, keluarga, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: