Fatwa imam al Albany tentang bid’ah al muwaazanah

Oleh: Agung Riksana

Pendahuluan

Segala puji bagi alloh, kita harus selalu memuji Nya, meminta bantuan Nya, dan memohon ampunan Nya. Kita berlindung kepada Alloh dari keburukan dari jiwa kita dan keburukan dari tidakan kita. Siapapun yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan siapapun yang tidak diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk. Saya (Syaikh Al-Albany) bersaksi tiada satupun yang berhak diibadahi kecuali Alloh, dan hanya Alloh, tidak ada sekutu-sekutu Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh.

Imam Muhammad nashiruddin al-Albani, Ahli hadist abad ini, berfatwa:

“Apa yang terjadi sekarang ini ditengah tengah perdebatan antara banyak orang-orang berkaitan dengan apa yang di sebut dengan… atau berkenaan dengan bid’ah baru yang disebut “al-Muwaazanah” (penyeimbangan antara kebaikan dan keburukan) berkaitan dengan mengkritik seseorang.

Saya (al-Albany) berkata: kritik baik yang terjadi dalam biografi individu, yang merupakan biografi sejarah, yang dalam kasusnya, perlu memaparkan baik yang baik dan yang buruk berkaitan dengan individu. Bagaimanapun, pada saat maksud dibalik detil biografi dari individu, adalah peringatan kepada kaum muslimin, terutama orang-orang awam yang tidak memiliki wawasan akan individu dan keburukan-keburukan – malah mungkin dalam kasus ini (individu yang orang-orang diperingatkan terhadapnya) memiliki reputasi yang bagus dan dapat diterima orang awam – bagaimanapun, dia menyembunyikan akidah batil atau kebiasaan-kebiasaan batil, tapi orang-orang awam tidak tahu apa-apa mengenai orang ini… pada situasi khusus ini, Bid’ah ini yang telah diberi sebutan “al-Muwaazanah” pada saat ini tidak digunakan.  Ini dikarenakan maksud disini untuk memberikan nasihat (kepada kaum muslimin) dan maksudnya tidak untuk memberikan detil biografi yang rinci dan menyeluruh.  Bagaimanapun, dengan mempelajari sunnah dan sejarah rasul tidak akan memiliki keraguan, tentang sia-sianya membuat aturan moralitas yang bid’ah, yakni “al-muwaazanah” pada saat ini, dan pada situasi apapun. Ini dikarenakan kita akan menemukan maksud dari teks diantara hadits-hadits dari rasul (sallalahu alaihi wasallam), yang mana menyebutkan keburukan-keburukan dari seseorang dalam situasi yang memerlukan untuk member nasihat (kepada yang lain) tidak perlu untuk menampilkan detil biografi yang lengkap dari individu yang orang-orang diperingatkan atasnya. Dan hadits yang berkaitan dengan ini sangat banyak, untuk ditampilkan saat ini….(kemudian al-Albani menyebutkan beberapa hadits yang diantaranya terdapat kritik terhadap Abu Jahm dan Mu’aawiyah)….Bagaimanapun, yang penting berkaitan dengan pertanyaan ini adalah pada akhir jawaban, saya (al-Albani) harus berkata: tentu saja, mereka yang telah membuat Bid’ah “al-Muwaazanah”, tidak ada keraguan, bahwa mereka menentang al-qur’an dan as-sunnah, baik sunnah perkataan dan sunnah perbuatan, dan mereka menentang manhaj salafussoleh.

Untuk alasan ini, posisi kita berkaitan dengan pemahaman al-qur’an dan Sunnah nabi (salallahu alihi wasallam), kita menisbatkan diri kepada manhaj salafussaleh. Mengapa? Karena tidak ada keraguan pada kaum muslimin, dalam keyakinan saya (al-Albani), bahwa mereka (para salaf) lebih religius, takut kepada Alloh, dan berilmu…. Dan seterusnya yang datang setelah mereka. Alloh azza wa jalla, berfirman dalamal-Qur’an, (al-A’raaf 7:148), dan ini adalah bukti dari aspek pertama (dari artinya) yang dimaksudkan dengan memberikan contoh sebelumnya (dari hadits yang disebutkan al-Albani sebelumnya)

 Jadi pada saat seseorang yang telah keliru berkata, “hal ini dan hal ini telah membuatku salah”, kemudian apakah dikatakan kepadanya, “wahai saudaraku, sebutkanlah kebaikannya pula?”  kesalahan baru ini adalah salah satu yang teraneh yang terjadi pada saat ini. Dan keyakinanku (al-Albani) bahwa apa yang telah menjerumuskan anak-anak muda tersebut untuk memperkenalkan hal yang baru dan untuk mengikuti Bid’ah adalah cinta kepopuleran.

 Untuk alasan ini, singkatnya, saya (al-Albani) berkata bahwa pendapat ini adalah perkataan yang seimbang diantara pendapat-pendapat yang ada diantara kedua belah pihak. Pendapat ini membedakan antara ketika kita bermaksud untuk memberikan biografi lengkap, dari seseorang, maka kita menyebutkan kebaikan dan keburukannya, pada saat kita bermaksud member nasihat kepada ummat, atau pada saat situasi yang memerlukan informasi yang singkat dan padat, maka disini kita menyebutkan apa yang diperlukan untuk diperingatkan, atau menyatakan seseorang adalah ahli Bid’ah atau seseorang yang menyimpang, atau menyatakan seseorang itu tidak beriman, pada saat syarat-syarat untuk takfir telah terpenuhi untuk individu tertentu. Inilah yang saya (al-Albani) yakini benar berkaitan dengan perbedaan yang telah diperdebatkan.

 Pada intinya, saya (al-Albani) berkata: tentu saja, pembawa bendera al-Jarh wa Ta’dil pada masa ini, dan yang berkompeten – yakni saudara kita, Doktor Rabi. Dan untuk yang menentangnya, maka mereka tidak berlaku atas dasar keilmuan sama sekali. Dan tentunya keilmuan itu ada padanya (Syaikh Rabi). Meskipun saya (al-Albani) selalu berkata, dan saya (al-Albani) telah berkata berkaitan dengan hal ini pada telpon beberapa kali,  andai saja dia (syaikh rabi) lebih lembut dalam pendekatannya maka itu akan lebih menguntungkan untuk orang –orang – terlepas apakah mereka sependapat ataupun tidak. tetapi berkaitan dengan pendapat bahwa dia (Syaikh Rabi) tidak bertindak adil, maka ini adalah sebuah pendapat yang lemah. Tidak ada yang berkata demikian kecuali dua orang. Yakni orang yang acuh tak acuh, atau seorang penentang, dan kita tidak memiliki kendali kepada mereka, kecuali kita merendah dan mengharap kepada Alloh, supaya Alloh menuntunnya ke jalan yang lurus. Ini adalah jawaban dari pertanyaannya, mungkin ini cukup, dan segala puji bagi Alloh”

 Sumber: kaset: “Man Haamil Raayah al-Jarh wat-Ta’deel Fil-Asr al-Haadir”.

Dari: http://www.albani. co.uk/

Judul asli: Imaam al-Albaani on the Bid’ah of al-Muwaazanah

 

 

About wahonot

I a salafy man

Posted on Juli 9, 2008, in Fatwa, keluarga, Manhaj, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: