Tata-Cara Berwudhu Menurut Al Qur’an dan Sunnah Nabi (Bag. 2 habis)

Oleh : Abu Abdirrohman Albayaty

A.     Syarat-Syarat Sahnya Wudhu diantaranya adalah :

 1. Islam,

 2. Berakal, 

 3.Tamyiz (mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk), 

 4. Niat,

 5. Meneruskan niat dengan tidak berniat untuk menghentikannya sampai selesai wudhunya,

 6. Tidak  adanya  yang mewajibkan  wudhu,

 7. Istinja’ (bersuci dengan air)  atau  istijmar (bersuci dengan batu) sebelum wudhu  (bila setelah  buang hajat),

 8. Air yang  dipakai untuk berwudhu adalah air yang thohur  ( suci lagi mensucikan) atau  yang  mubah  (bukan  hasil curian misalnya),   

 9. Menghilangkan sesuatu yang menghalangi sampainya air ke kulit,

10. Tiba waktu sholat bagi orang yang hadastnya terus menerus (karena sakit).

B.     Hal – hal yang wajib dalam wudhu ada 6 (enam), Yaitu:

1.      Membasuh muka termasuk  berkumur  dan  menghirup air ke dalam hidung lalu dikeluarkan,

2.      Membasuh kedua tangan sampai kedua siku,

3.      Mengusap (menyapu) seluruh kepala (termasuk mengusap kedua daun telinga),

4.      Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki,

5.      Tertib (berurutan).

      Yang dimaksud dengan tertib (urut) adalah sebagaimana yang tertera dalam ayat yang mulia. Yaitu membasuh wajah, kemudian kedua tangan (sampai siku), kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki. Adapun dalilnya :

Pertama, adalah sebagaimana tersebut dalam ayat di atas (surat al-Maidah :6). Di dalam ayat tersebut telah dimasukkan kata mengusap diantara dua kata membasuh. Orang Arab tidak melakukan hal ini melainkan untuk suatu faedah tertentu yang tidak lain adalah tertib (urut).

Kedua, sabda Rasulullah:

       “Mulailah dengan apa yang Allah telah memulai dengannya.”

Ketiga, hadits yang diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Abasah. Dia berkata, “Wahai Rasulullah beritahukan kepadaku tentang wudhu?” Rasulullah berkata, “Tidaklah salah seorang dari kalian mendekati air wudhunya, kemudian berkumur-kumur, memasukkan air ke hidungnya lalu mengeluarkannya kembali, melainkan gugurlah dosa-dosa di (rongga) mulut dan rongga hidungnya bersama air wudhunya, kemudian (tidaklah) ia membasuh mukanya sebagaimana yang Allah perintahkan, melainkan gugurlah dosa-dosa wajahnya melalui ujung-ujung janggutnya bersama tetesan air wudhu, kemudian (tidaklah) ia membasuh kedua tangannya sampai ke siku, melainkan gugurlah dasa-dosa tangannya bersama air wudhu melalui jari-jari tangannya, kemudian (tidaklah) ia mengusap kepalanya, melainkan gugur dosa-dasa kepalanya bersama air melalui ujung-ujung rambutnya, kemudian (tidaklah) ia membasuh kedua kakinya, melainkan gugur dosa-dasa kakinya bersama air melalui ujung-ujung jari kakinya.” (H.R Muslim). Dan dalam riwayat Ahmad terdapat ungkapan, “Kemudian mengusap kepalanya (sebagaimana yang Allah perintahkan),….. kemudian membasuh kedua kakinya sampai mata kaki sebagaimana yang Allah perintahkan.”

     Dan di dalam riwayat Abdullah bin Shanaji terdapat apa yang menunjukkan akan hal itu. Wallahu A’lam.

1.     Muwalah ( langsung  antara  membasuh  anggota  wudhu  yang  satu  dengan  yang   lainnya, dengan tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain). Maksudnya adalah jangan mengakhirkan membasuh anggota wudhu sampai mengering anggota sebelumnya setelah beberapa saat. Dalilnya, hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dari Nabi,
bahwa beliau melihat seorang laki-laki di kakinya ada bagian sebesar mata uang logam yang tidak terkena air wudhu, maka beliau memerintahkan untuk mengulangi wudhunya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin al-Khathab bahwa seorang laki-laki berwudhu, tetapi meninggalkan satu bagian sebesar kuku di kakinya (tidak membasahinya dengan air wudhu). Rasulullah
_melihatnya_maka_beliau_berkata:
“Berwudhulah
_kembali,_kemudian_shalatlah.”
Sedangkan dalam riwayat Muslim tidak menyebutkan lafal, “Berwudhulah kembali.”

C.     Sunnah-sunnah wudhu diantaranya adalah:

1.    Disunnatkan   bagi   setiap   muslim  menggosok gigi (bersiwak) sebelum memulai wudhunya, karena Rasulullah bersabda :

     “Sekiranya  aku   tidak   memberatkan   umatku,   niscaya   aku   perintah    mereka   bersiwak (menggosok gigi) setiap  kali  akan  berwudhu”.(Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al Irwa’ (70))

2.    Disunnatkan pula  mencuci  kedua  telapak tangan  tiga  kali sebelum berwudhu,    berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Aus bin Aus ats-Tsaqafi ia  berkata,   “Aku melihat Nabi berwudhu, maka beliau mencuci dua telapak tangannya sebanyak tiga kali.” Mencuci kedua  telapak tangan  sebanyak tiga  kali  setelah  bangun   tidur,  maka    hukumnya wajib. Sebab, boleh jadi  kedua  tangannya   telah   menyentuh    kotoran di  waktu  tidurnya sedangkan ia tidak merasakannya. Rasulullah bersabda:

     “Apabila seorang  di  antara  kamu  bangun  tidur,  maka  hendaknya tidak mencelupkan kedua tangannya  di  dalam  bejana  air  sebelum   mencucinya   terlebih   dahulu   tiga   kali,  karena sesungguhnya ia tidak me-ngetahui di mana  tangannya  berada  ( ketika  ia  tidur ).  (Riwayat Muslim )

3.    Disunnatkan  menyempurnakan wudhu, menyela-nyela  antara jari jemari tangan maupun kaki dan  menghirup   air  ke  dalam  hidung  dilakukan   dengan   kuat kecuali bagi yang berpuasa.

      Hal  ini  berdasarkan   hadits  yang    diriwayatkan  oleh   Laqith   bin   Shabrah,  katanya, ‘Aku berkata,  ‘Wahai  Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang wudhu?’ Nabi berkata:
“Sempurnakan wudhu-mu, dan sela-selailah antara jari-jemarimu, dan bersungguh sungguhlah dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali jika kamu dalam keadaan berpuasa.” (Diriwayatkan oleh lima imam, di shahihkan oleh Tirmidzi).

4.    Disunnatkan  bagi  orang  muslim  mencelah-celahi  jenggot  jika tebal ketika membasuh muka. Sebagaimana penjelasan di muka.(Lihat gambar 4).Cara menyela-nyela jenggot ini dengan mengambil seraup air dan meletakkannya dari bawahnya dengan jari-jemarinya atau dari dua sisinya dan menggosokkan keduanya. Dan dalam riwayat Abu Dawud dari Anas, “Bahwa Nabi jika berwudhu mengambil seraup air, kemudian meletakkannya dibawah dagunya dan berkata, “Demikianlah yang diperintahkan oleh Tuhan kepadaku.”

5.    Mencuci anggota wudhu yang kanan terlebih dahulu sebelum mencuci anggota wudhu yang kiri. Mencuci  tangan  kanan  terlebih  dahulu  kemudian  tangan kiri, dan begitu  pula  mencuci kaki kanan sebelum mencuci kaki kiri. Hal ini berdasarkan hadist sebagai berikut :

       Dan dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi suka mengawali sesuatu dengan yang kanan, dalam memakai terompah, bersisir, bersuci dan dalam segala sesuatu.” (Mutafaq alaih).

6.    Mencuci anggota-anggota wudhu dua atau tiga kali dan tidak boleh lebih dari itu. Namun kepala cukup diusap satu kali saja. Mencuci anggota wudhu yang wajib adalah sekali, sedang_kedua kali_dan_ketiga_kalinya_adalah_sunnah. 

7.     Tidak berlebih-lebihan   dalam    pemakaian    air,   karena    Rasulullah berwudhu  dengan mencuci  tiga  kali, lalu  bersabda :

      “Barangsiapa   mencuci   lebih   ( dari  tiga   kali )   maka   ia   telah   berbuat   kesalahan   dan kezhaliman”.( Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al Irwa’ (117))

D.     Hal-hal Yang Membatalkan Wudhu diantaranya adalah :

1.    Keluarnya sesuatu dari qubul (kemaluan) atau dubur, baik berupa air kecil ataupun air besar.

2.    Keluar angin dari dubur (kentut).

3.    Hilang akalnya, baik karena gila, pingsan, mabuk atau karena tidur yang nyenyak hingga tidak menyadari apa yang keluar darinya. Adapun tidur ringan yang tidak menghilangkan perasaan, maka tidak membatalkan wudhu.

4.    Menyentuh kemaluan dengan tangan tanpa pembatas dengan syahwat, apakah yang disentuh tersebut kemaluannya sendiri atau milik orang lain, karena Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya hendaklah ia berwudhu”.(
Riwayat Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani)

5.    Memakan  daging  unta, karena  ketika  Rasulullah  ditanya: “Apakah  kami  harus berwudhu karena makan daging unta? Nabi menjawab : Ya.” (Riwayat Muslim)
Begitu pula memakan usus, hati, babat atau sumsumnya adalah membatalkan  wudhu,  karena hal tersebut sama dengan dagingnya.
Adapun air susu unta tidak membatalkan wudhu, karena Rasulullah  pernah menyuruh suatu kaum minum air susu unta dan tidak menyuruh mereka berwudlu sesudahnya. (Muttafaq ‘alaih) . Untuk lebih berhati-hati,  maka  sebaiknya  berwudhu sesudah minum atau makan kuah daging unta.

6.       Riddah / Murtad ( Keluar dari agama islam ), semoga Alloh menjaga kita dari dan seluruh kaum muslimin dari hal tersebut.

E.     Hal-hal yang haram dilakukan oleh yang tidak berwudhu:

      Apabila seorang muslim berhadats kecil (tidak berwudhu), maka haram melakukan hal-hal berikut ini:

1.     Menyentuh  mushaf  Al-Qur’an,   karena  Rasulullah    mengatakan  di  dalam suratnya yang beliau kirimkan kepada penduduk negeri Yaman :

     “Tidak  boleh  menyentuh  Al-Qur’an   selain   orang  yang  suci”. (Riwayat  Ad-Daruqutni  dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al Irwa’ (122))

      Adapun membaca  Al-Qur’an  dengan  tidak  menyentuhnya,  maka hal itu boleh dilakukan oleh orang yang berhadats kecil.

2.    Mengerjakan shalat. Orang   yang   berhadats  tidak   boleh   melakukan shalat kecuali setelah berwudhu terlebih dahulu, karena Rasulullah bersabda:

3.    “Allah tidak menerima shalat yang dilakukan tanpa wudhu”.( Riwayat Muslim)
 Boleh  bagi  orang  yang  tidak  berwudhu  melakukan sujud tilawah atau sujud syukur, karena keduanya  bukan  merupakan  shalat,  sekalipun   lebih  afdhalnya  adalah  berwudhu  sebelum melakukan sujud.

4.      Melakukan thawaf.  Orang  yang  berhadats  kecil   tidak  boleh  melakukan  thawaf  di  Ka`bah sebelum berwudhu, karena Rasulullah  telah bersabda :

     “Thawaf di Baitullah itu adalah shalat”. (Riwayat  Turmudzi  dan  dinilai  shahih  oleh   Al-Albani dalam Al- Irwa’ (121) )

      Dan  juga  karena  Nabi   berwudhu  terlebih  dahulu  sebelum melakukan thawaf. (Muttafaq ‘alaih)

      Wallahu a`lam, wa shallallahu `alaa nabiyyinaa Muhammad wa`alaa aalihi washahbihii wa sallam.

 

Maroji’

1.     Sifat wudhu Nabi, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.

2.     Beberapa pelajaran penting untuk segenap ummat, syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh Bin Baz.

3.     Dan beberapa sumber yang lain.

 Di ambil dari kurikulum TPQ Baitul Jannah karangan Abu Abdirrohman Albayaty

About wahonot

I a salafy man

Posted on Juni 11, 2008, in Fikh, keluarga, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: