Demonstrasi bukan Metode Salafush Shaleh (bag. 4-habis)

Oleh: Al-Ustadz Zuhair Syarif

BANTAHAN TERHADAP SYUBHAT ABDURRAHMAN ABDUL KHALIQ

 

Di awal sudah saya singgung masalah manhaj Abdurrahman Abdul Khaliq terhadap pemerintah Muslimin. Yaitu bolehnya memakai demonstrasi sebagai alat dakwah dengan berdalil riwayat Umar radliyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh seorang penanya di atas. Dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa beliau belum tahu shahih dan dlaifnya riwayat tersebut. Syaikh Abdul Aziz bin Bazz telah membantah syubhat Abdurrahman Abdul Khaliq dalam surat menyurat antara beliau dengan Abdurrahman Abdul Khaliq. Kata Syaikh bin Bazz: “Engkau menyebutkan pada kitab Fushul Minas Siyasah As Syar’iyyah halaman 31-32 bahwasanya termasuk dari uslub (metode) dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah demonstrasi.

 Aku belum pernah mengetahui nash yang sharih dalam masalah ini. Maka aku mengharap faidah dari siapa kamu mengambil dan dari kitab mana kamu dapatkan. Jika hal itu tidak ada sanadnya maka kamu wajib untuk rujuk (kembali/bertaubat) dari hal itu. Karena aku tidak tahu sama sekali nash-nash yang menunjukkan hal itu.

 

Dengan menggunakan demonstrasi atau unjuk rasa justru mengakibatkan banyak kerusakan. Jika nash (dalil) itu shahih maka kamu harus menerangkan dengan jelas dan sempurna sehingga orang-orang yang membuat kerusakan tidak berdalih dengannya dalam demonstrasi- demonstrasi mereka yang bathil.” (Tanbihat wa Ta’biqat halaman 41)

 

Jawaban Abdurrahman Abdul Khaliq: “Adapun ucapanku pada kitab Al Fushul Minas Siyasah As Syar’iyyah fi Da’wah Ilallah halaman 31-33 maka aku katakan: Aku telah menyebutkan demonstrasi- demonstrasi yang digelar itu sebagai wasilah (metode) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam menampakkan dakwah Islam, sebagaimana telah diriwayatkan bahwa setelah masuk Islamnya Umar radliyallahu ‘anhu, kaum Muslimin keluar karena perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada dua shaf (barisan) dalam rangka menampakkan kekuatan.

 

Dalam satu barisan terdapat Hamzah radliyallahu ‘anhu, sedang barisan yang lain ada Umar bin Al Khattab radliyallahu ‘anhu beserta kaum Muslimin.” (Kemudian Abdurrahman Abdul Khaliq membawakan riwayat dengan sanad-sanad yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah 1/40 dengan sanad sampai ke Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu, Ibnu Abi Syaibah dalam As Shahabah 2/512, dan di dalam Tarikh-nya serta Al Bazar).

 

Kemudian dia (Abdurrahman Abdul Khaliq) berkata: “Tetapi setelah kedatangan surat Anda (Syaikh bin Bazz) aku dapatkan bahwa pusat (poros) sanad hadits ini atas Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, dia mungkarul hadits.” Demikian pernyataan Abdurrahman Abdul Khaliq.

 

Tapi anehnya setelah itu dia mengatakan: “Aku berpandangan metode ini (demonstrasi) bisa untuk dijadikan metode yang benar dalam mendorong/menganjurkan manusia dalam shalat Jum’at dan jamaah … dalam rangka menampakkan banyaknya orang Islam.

 

Demikian juga memamerkan tentara-tentara Islam bersamaan dengan peralatan perang karena hal ini dapat menaklukan hati-hati musuh dan menakuti musuh-musuh Allah serta meninggikan syariat Islam.”

 

Demikian cara Ahlul Bid’ah. Setelah ditanya atau dibantah dari sisi pendalilan dan setelah ucapan atau perbuatannya diketahui tidak benar bahkan palsu maka mereka tidak mau merujuk kepada dalil yang shahih dan manhaj yang benar.

 

Bahkan dia berkelit: “Maksud saya demikian, maksud saya demikian”, “boleh saja hadits lemah –dalam hal ini palsu– dijadikan i’tibar”, dan berbagai silat lidah lainnya pun meluncur tajam.

 

Maka saya katakan, setelah atsarnya diketahui mungkar karena adanya rawi yang mungkarul hadits pada sanadnya, tentu saja demonstrasi tidak bisa dijadikan hujjah dan tidak bisa dijadikan manhaj amar ma’ruf nahi mungkar. Karena metode dakwah adalah tauqifiyah, yakni harus sesuai dengan metode Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya.

 

Jikalau kisah Umar itu shahih, maka penjelasannya adalah sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syaikh Al Albani. Dengan telah diketahui atsarnya dlaif bahkan mungkar, maka tidak bisa lagi dijadikan sebagai dalil bolehnya demonstrasi, sekalipun niatnya baik, sebagaimana telah diterangkan oleh Syaikh bin Bazz di atas. Wallahu A’lam.

 

KEMUNGKARAN- KEMUNGKARAN PADA ACARA UNJUK RASA

 

Di atas sudah diterangkan sebagian kemungkaran pada acara demo yaitu:

 

– Bentuk tasyabuh dengan orang-orang kafir.

 

– Termasuk khuruj (menentang pemerintah) yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam riwayat Muslim dan lain-lain. (Lihat Nasehati)

 

– Menceritakan aib pemerintah di depan umum dalam bentuk orasi-orasi yang ini pun dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. (Lihat Nasehati)

 

– Ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan) bahkan berdesak-desakan. (Lihat SALAFY rubrik Ahkam edisi 4 tahun pertama)

 

– Tindak anarkis yang seringkali timbul ke sana atau setelah demonstrasi dan orasi-orasi.

 

– Dan lain-lain.

 

SOLUSI DARI KRISIS

 

Pada situasi sekarang, masalah yang timbul bukan saja terjadi akibat satu aspek, misalnya ekonomi.

 

Tetapi juga terkait pada aspek lainnya, seperti sosial dan politik. Dan krisis ini tidak bisa sembuh total manakala dibasmi dengan kebathilan.

 

Suatu negara yang dipimpin oleh pemimpin yang dhalim yang di dalamnya ditaburi praktek-praktek kolusi, korupsi, dan nepotisme merupakan buah dari tindakan rakyatnya juga. Maka kalau rakyatnya baik, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan kepada mereka pemimpin yang arif dan bijaksana. Hal ini sudah dibuktikan oleh junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para Khulafaur Rasyidin. Situasi yang kacau balau ini solusinya bukan dengan demonstrasi tetapi dengan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang tepat dan benar. Kemudian menyebarkan ilmu yang haq di kalangan umat agar muncul generasi-generasi yang berbekal ilmu. Akhirnya diharapkan nanti setiap langkah yang mereka lakukan diukur dengan ilmu syar’i yang haq. Dengan demikian akan musnahlah virus kolusi, korupsi, dan virus-virus lainnya. Wallahu A’lam Bis Shawab.

 

Catatan Kaki:

 [1] Seperti pendapatnya Abdurrahman Abdul Khaliq dan konco-konconya.

 [2] Orang yang bergabung dengannya disebut golongan (firqah) Saba’iyah.

 [3] Mirdas bin Udayah adalah seorang Khawarij. Lihat Tahdzibul Kamal oleh Imam Al Mizzi 7/399.

 [4] Mukhtashar Shahih Muslim, ta’liq Syaikh Al Albani nomor 335.

 [5] Salah satu aliran dari aliran-aliran Khawarij.

 [6] Shahabat, ed.

 [7] Ini bukti bahwa para shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan seterusnya tidak mengambil kejadian itu sebagai sunnah dalam rangka mengingkari pemerintah.

 

(sumber: Tulisan Ustadz Zuhair Syarif, SALAFY XXVII/1419/1998/ MABHATS)

About wahonot

I a salafy man

Posted on Mei 27, 2008, in Aqidah, keluarga, Manhaj. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Kalau yang dimaksud demonstrasi adalah menunjukkan kekuatan atau jumlah yang banyak atau melihatkan contoh yang benar dan baik, saya rasa tidak bermasalah. Akan tetapi kalau dimaksudkan untuk menekan dengan cara merusak itu yang tidak boleh. Maka, niat dan cara harus baik.
    Saya tidak tahu bagaimana kondisi dan situasi ketika para sahabat mengepung rumah khalifah Usman bin Affan yang berakhir dengan kematian beliau, apakah itu juga termasuk demonstrasi ? Kalau ya, bagaimanakan kita menghukumi para sahabat pada waktu itu ?
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


    wassalamu’alaikumwarohmatullohiwabarokaatuh

    berhubungan dengan masalah ini silahkan baca artikel ini secara tuntas dan ana menyarankan antum membaca artikel yang ditulis ustadz ali hasyis dimajalah addzakiiroh alislamiyah vol. 5 no. 5 edisi 29-robi’uts Tsani 1429 H dengan judul Umar dan hamzah berdemo?. atau antum bisa download di halaman download di situs ini

    Assalamu’alaikumwarohmatullohiwabarokatuh

  2. “saya rasa tidak bermasalah”

    Kok pake perasaan ya akhi..? Bukankah ISlam tegak diatas hujjah dan dalil?

    Masalah Umar Berdemo, juga dibahas dalam Majalah As-Sunnah edisi terbaru..

  3. Abu Syamil Abdullah

    Assalamu’alaikum ya Ustadz

    Bagaimana Cara yg Syar’i dlm menasihati atawa menegur penguasa?
    Siapakah yang berhak melakukannya, tentunya di negara Indonesia ini.

    Cukupkah dgn nasihat, bila penguasa itu tetap melakukan kedzaliman… dan membuat rakyat sengsara dan menimpa keluarga kita juga…….
    Bukankah lisan itu adalah selemah2 iman……
    Terima kasih sebelumnya atas jawaban yg diberikan
    Wassalam.


    wa’alaikumussalam. afwan sebelumnya akhi tolong jangan panggil ana ustadz.
    berkenaan masalah menasehati ini ana sarankan antum membaca penjelasan ulama di sini dan di sini. Di sana antum akan dapatkan penjelasan para ulama yang bijak mengenai masalah tersebut. Berkenaan pernyataan antum bahwa lisan adalah selemah-lemahnya iman adalah tidak benar karena nabi menjelaskan bahwa selemah-lemahnya iman adalah hati.
    Wassalamu’alaikum…

  4. Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    ===
    Ali Nardi, Mei 28th, 2008 pada 12:10 am menulis:
    “Saya tidak tahu bagaimana kondisi dan situasi ketika para sahabat mengepung rumah khalifah Usman bin Affan yang berakhir dengan kematian beliau, apakah itu juga termasuk demonstrasi?”
    ===

    Tidak ada Shahabat yg mengepung rumah Imam Utsman bi Affan (apalagi membunuhnya?!). Yang mengepung rumah Khalifah Utsman adalah Orang-orang fasiq dan Khawarij yg ‘memakan’ hasutan Yahudi.

    Coba antum baca terjemah Al Bidayah wan Nihayah, Bab Khulafaur Rasyidin, yg diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ihsan.

    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: