Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari’at Islam (bag. 3 dari 4 tulisan)

Oleh :   Ustadz  Yazid bin Abdul Qadir Jawas

 Petunjuk Yang Dapat Diambil Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah

Dalil-dalil dari Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam yang tersebut diatas memberikan petunjuk yang sangat penting sekali kepada kita, secara umum sebagai berikut.

[1]. Tidak ada perbedaan antara hukum Allah dan hukum Rasul-Nya, karenanya tidak boleh seorang mu’min memilih-milih dengan maksud menyalahi, dan yang demikian termasuk durhaka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam, sebagaiman dia durhaka kepada Allah, perbuatan itu adalah kesesatan yang nyata.

[2]. Tidak boleh seseorang mendahului Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tidak boleh ia mendahului Allah, yakni tidak boleh menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam. Ibnu Qayyim berkata dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in tentang maksud surat Al-Hujurat : 1, yaitu : “Janganlah kalian berkata hingga ia berkata, janganlah kalian memerintah hingga ia memerintah, jangan berfatwa hingga ia berfatwa, dan jangan menetapkan satu urusan hingga ia yang meghukum”.

[3]. Taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah.

[4]. Orang yang berpaling taat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti termasuk orang kafir.

[5]. Bila terjadi perselisihan dalam urusan agama, maka wajib kita kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Qayyim berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan (manusia) untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya, Ia (Allah) mengulangi kalimat ‘Wa’atiiur Rasuula’ sebagai pemberitahuan bahwa taat kepada Rasul hukumnya wajib, tanpa pamrih dan tanpa membandingkan lagi dengan Kitabullah. Bahkan perintah beliau wajib ditaati secara mutlak, baik perintah itu ada dalam Al-Qur’an maupun tidak, karena beliau telah diberi kitab dan yang seperti itu bersamanya. Dan Allah tidak menggunakan kata taat untuk ulil amri, bahkan ia buang fi’il taat, karena kepada ulil amri sudah terkandung dalam taat kepada Rasul. Para ulama telah sepakat bahwa kembali kepada Allah berarti kembali kepada Kitab-Nya dan kembali kepada Rasul ketika beliau masih hidup, dan setelah beliau wafat kembali kepada Sunnahnya, yang demikian termasuk dari syarat-syarat keimanan”.

[6]. Jatuhnya kaum muslimin dan hilangnya kekuatan mereka disebabkan mereka terus berselisih dan tidak mau kembali kepada As-Sunnah.

[7]. Orang yang menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat fitnah di dunia dan azab yang pedih di akhirat.

[8]. Orang yang menyalahi perintah Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam akan mendapatkan akibat yang buruk di dunia dan akhirat.

[9]. Wajib memenuhi panggilan Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam (yakni memenuhi Sunnahnya), karena dengan yang demikian akan diperoleh kebahagian hidup di dunia dan akhirat.[10]. Taat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam penyebab utama masuknya seseorang ke dalam syurga dan memperoleh sukses yang besar. Sebaliknya orang yang durhaka kepadanya akan masuk ke dalam neraka dengan mendapat azab yang menghinakan.

 

[11]. Di antara ciri-ciri orang-orang munafik, apabila mereka diajak untuk berhukum kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnahnya, mereka menolak bahkan berusaha untuk menghalang-halangi orang yang ingin kembali kepadanya.

[12]. Orang-orang mu’min berbeda dengan orang-orang munafik, karena orang-orang mu’min bila diseru untuk berhukum dengan Sunnah Rasullullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam merka segera memenuhi seraya berkata “Sami’na wa atha’na”.

[13]. Setiap yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib kita mengikuti dan yang dilarang wajib kita menjauhinya.

[14]. Contoh teladan bagi umat Islam dalam semua urusan agama adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[15]. Setiap kalimat yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada hubungannya dengan agama dan urusan ghaib yang tidak dapat diketahui akal, maka hal itu merupakan wahyu dari Allah kepada beliau yang tidak ada kebathilan di dalamnya.[16]. As-Sunnah merupakan penjelasan Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau.

[17]. Al-Qur’an harus dijabarkan dengan As-Sunnah, bahkan As-Sunnah sama dengan Al-Qur’an dalam soal wajib taat mengikutinya.

 

[18]. Apa-apa yang diharamkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan apa-apa yang diharamkan Allah, demikian pula segala sesuatu yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, maka dia sama dengan Al-Qur’an berdasarkan keumuman hadits No. 5.

[19]. Manusia bisa selamat dari kesesatan dan penyelewengan hanyalah dengan berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang demikian itu merupakan hukum yang tetap berlaku terus sampai hari kiamat, dan tidak boleh memisahkan antara keduanya.[20]. Kewajiban mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup masalah aqidah maupun ahkam, dan meliputi seluruh perkara agama, serta tertuju kepada siapa saja yang sudah sampai kepadanya risalah da’wah hingga hari kiamat.

 

 

[Disalin dari Buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam oleh Yazid Abdul Qadir Jawas, terbitan Pustaka Al-Kautsar]

About wahonot

I a salafy man

Posted on Mei 22, 2008, in Aqidah, keluarga, Manhaj, Tazkiyatun nafs. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: