As-Sunnah Dan Bid’ah

Oleh: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sunnah dengan makna apa-apa yang disyari’atkan oleh Rasul-Nya adalah lawan dari bid’ah, yakni apa-apa yang baru yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Mafhum Ahlis Sunnah, hal 32, 35]

Bid’ah menurut bahasa ialah segala perkara yang baru diada-adakan. Kata Imam Asy-Syaatibi : “Lafadz bid’ah pada dasarnya bermakna apa saja yang belum ada contohnya”.

Diantara kata bid’ah yang dinamakan demikian, ialah kata bid’ah yang terdapat dalam firman Allah sebagai berikut.

“Badii’us-samawaati wal ardhi” [Al-Baqarah : 17]

“Artinya : Allah Pencipta langit dan bumi”.

Maksudnya badii’u ialah Allah yang mengadakan atau menciptakan langit dan bumi dengan bentuk yang belum ada contohnya.

Juga dalam firman-Nya lagi.

“Qul ma kuntu bid’an minarrusuli” [ Al-Ahqaaf :9]

“Artinya : Katakanlah : Aku bukanlah rasul yang baru pertama di antara rasul-rasul”

Maksud bid’an ialah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah seorang rasul yang pertama membawa risalah dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, bahkan telah ada rasul-rasul yang mendahuluinya. Apabila dikatakan bahwa si Fulan telah membuat satu bid’ah, maka artiya si Fulan telah mengadakan suatu jalan (cara) yang belum pernah ada orang yang melakukannya selain dia.

Bid’ah menurut syari’at ialah apa-apa yang diadakan oleh manusia baik perkataan maupun perbuatan di dalam agama dan syiar-syiarnya tidak ada keterangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yang mana maksud mengerjakannya adalah untuk ta’abbud.

Dari Aisyah Radhiallahu’anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perbuatan dalam agama kita ini, yang sama sekali tidak ada sumbernya, maka perbuatan itu ditolak”. [Hadits Riwayat Bukhari 2/166, Muslim 5/132, Abu Daud 4606, Ibnu Majah 14, Baihaqi 10/119]

Dari Aisyah Radhiallahu’anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

“Barangsiapa yang beramal dengan satu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak”. [Hadist Riwayat Muslim].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika mendenifisikan bid’ah, ia berkata. “Bid’ah itu apa-apa yang menyalahi Kitabullah, As-Sunnah, dan Ijma’ Salafus Shalih baik masalah-masalah aqidah maupun masalah-masalah ibadah, seperti perkataan orang-orang Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jahmiyah, dan juga orang-orang yang beribadah sambil menari-nari dan bernyanyi di masjid-masjid”.

As-Sunnah yang dimaksud dalam bahasan ini ialah arti sunnah menurut pengertian ulama Ushul, karena pengertian inilah yang digunakan dalam pembahasan dalil-dalil pokok, kedudukannya dalam pembinaan hukum, dan perbuatan hukum syara’. Kendatipun demikian dalam analisa historis akan di ketengahkan pula pengertian secara umum sebagaimana yang dipergunakan ahli Hadits.

[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam oleh Yazid Abdul Qadir Jawas, terbitan Pustaka Al-Kautsar]

About wahonot

I a salafy man

Posted on Mei 14, 2008, in Aqidah, keluarga, Manhaj. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: