Pengkaburan Syaiton & Strategi Syaiton

 Oleh : Abu Tilmidz

Strategi Gradual (Bertingkat)

Syaiton menggunakan strategi gradual (bertingkat) baik isi maupun metode dakwahnya. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah menyebutkan ada enam tahapan yang dilalui perjalanan dakwah syaiton.

 Tahap pertama

Pengkafiran atau pemusyrikan manusia. Jika yang didakwahi itu dari kalangan muslimin, maka syaiton akan melangkah ketahapan dakwah berikutnya.

Tahap kedua

Pembid’ahan. Yaitu menjadikan manusia sebagai Ahlul bid’ah. Seandainya yang diajak dari kalangan Ahli Sunnah, maka dimulailah tahap ketiga.

Tahap ketiga

Pemerangkapan manusia dengan dosa-dosa besar. Jika manusia dilindungi oleh Allah dari melakukan dosa-dosa besar, syaiton tidak putus asa, untuk terus menggoda.

Tahap keempat

Pemerangkapan manusia dengan dosa-dosa kecil. Jika manusia selamat dari dosa-dosa kecil syaiton melangkah ketahap yang lain.

Tahap kelima

Penyibukan manusia dalam masalah-masalah yang mubah (boleh), sehingga orang itu menghabiskan waktunya untuk hal yang mubah, tidak sibuk dalam hal yang berpahala, yang kita semua diperintahkan untuk mengamalkannya.

Tahap keenam

Penyibukan manusia dalam urusan-urusan sepele sehingga ia tinggalkan persoalan-persoalan yang lebih penting dan yang lebih baik. Misalnya, sibuk dengan amalan sunnah, meninggalkan amalan wajib .

Jerat-Jerat Syaiton

Jerat-jerat syaiton itu tidak terhitung jumlahnya. Diantaranya:

A.  Mengadu domba sesama muslim dan buruk sangka

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya iblis telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang sholeh, tetapi ia berusaha mengadu domba di antara mereka.”Yakni syaiton menyebarkan permusuhan, kebencian dan fitnah di antara mereka.Buruk sangka itu biasanya datangnya dari syaiton, sebagaimana hadits Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha [istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata : “Ketika Rasulullah sedang beri’tikaf di masjid, saya mendatanginya di suatu malam dan bercerita. Kemudian saya pulang di antar beliau. Ada dua orang anshor berjalan dan ketika keduanya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka mempercepat jalannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Pelan-pelanlah. Dia itu Safiyah binti Huyay”. Mereka berkata: Maha suci Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya syaiton berjalan di tubuh anak adam pada peredaran darah, aku khawatir syaiton itu melontarkan kejahatan di hati kamu berdua, sehingga timbul prasangka yang buruk.” (HR. Bukhori 4:240, Muslim 2174-2175)

Syaiton itu suka mengadu domba antar sesama kita sebagaimana dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan Sulaiman bin Sird, Ia berkata: “Saya pernah duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di sana ada dua orang yang sedang saling mencaci. Salah satu dari keduanya wajahnya merah dan ototnya mengeras karena marah. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Akan aku ajarkan satu kalimat yang dapat menghilangkan marah ketika diucapkan. Seandainya dia mengucapkan: “Aku berlindung kepada Allah dari syaiton yang terkutuk”, maka hilanglah marahnya.” (HR. Bukhori 10:431)

B.  Menghiasi Bid’ah bagi manusia

Syaiton mendatangi manusia dengan mengatakan bahwa bid’ah itu sesuatu yang indah seraya mengatakan: “Sesungguhnya manusia di zaman ini sudah meninggalkan ibadah dan sulit dikembalikan. Mengapa kita tidak mengerjakan sebagian peribadahan lalu kita bagus-baguskan dengan tambahan dari kita agar manusia mau kembali beribadah?“. Kadang-kadang syaiton mendatangi dengan cara penambahan terhadap ibadah yang ada dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu berkata, “tambahan kebaikan tentu merupakan kebaikan juga. Maka tambahlah dalam sunnah tersebut suatu bentuk ibadah yang mirip dengan sunnah, atau sandarkan ibadah baru pada sunnah tersebut.” Sebagian manusia lain didatangi dengan bujukan, “Sesungguhnya manusia sudah jauh dari Dien ini, mengapa tidak kita buat hadits-hadits yang dapat menakut-nakuti mereka ?”…Maka orang-orang mengarang hadits palsu yang disandarkan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berdalih, “kami memang berdusta, namun kami bukan berdusta menentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, melainkan berdusta dalam rangka membela beliau?!” Mereka berdusta membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam???!! Dikaranglah oleh mereka hadits untuk menakut-nakuti manusia dari neraka, memberikan manusia gambaran dengan cara-cara aneh. Demikian pula mereka menggambarkan surga dengan cara aneh pula!Kita menegetahui bahwa ibadah itu adalah taufiqiyah, yaitu mengambilnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana petunjuk Allah yang datang kepada beliau, tidak boleh kita tambahi atau kita kurangi. Kelakuan yang mereka lakukan itu adalah bid’ah dari karangan syaiton.

C.  Membesar-besarkan satu aspek atas aspek lainnya

Kadang seseorang terjatuh pada banyak dosa-dosa dan maksiat, namun dia tetap sholat sebagai alasan penutup kekurangannya itu. Dia berdalih bahwa shalat itu adalah ‘imaadud-dien (tiang agama), yang pertama kali di Hisab di Hari Perhitungan (Akhirat), maka tidak mengapa dirinya jatuh dalam sebagian maksiat.

Dia menjadikan sesuatu yang paling agung, untuk menghalalkan kekurangannya dalam ibadah-ibadah lain. Dibesar-besarkanya urusan shalat atas lainnya.!

Benar bahwa shalat adalah ‘imadud-dien, namun bukan keseluruhan kandungan Dien ini! Syaitonlah yang mendatangi orang ini untuk menghalalkan kekurangan dirinya!

Kadang syaiton pun mendatangi seorang manusia lain untuk mengatakan, “Dien ini adalah muamalah (pergaulan/akhlak yang baik)…. Yang paling penting kamu baik terhadap manusia jangan mendustai atau menipu mereka walaupun kamu tidak shalat, bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bahwa Dien ini adalah muamalah ‘?”Kadang didatanginya seorang lain dengan bujukan, “yang paling penting adalah berniat baik! Asal aku lalui waktu malamku tanpa menyimpan dengki dan kebencian pada manusia, cukuplah sudah.” Akhirnya orang tersebut meninggalkan banyak amalan-amalan shaleh, mencukupkan diri dengan niat baik saja!Demikian pula dalam tataran kelompok ketika kamu lihat segolongan orang berkata:

“Hal terpenting adalah kita harus mengenal keadaan riil kaum muslimin dan keadaan musuh-musuh mereka. Dengan demikian hal paling penting adalah masalah-masalah politis. Kita hidup di zaman orang-orang berdasi dan berdiplomasi bukan di zamannya onta arab padang pasir”Demikianlah pendukung kelompok ini mengetahui segala hal tentang Komunisme, sosialisme, kapitalisme, free masonry, bahaiah, qadiyaniah, dll. Kemudian kamu Tanya tentang Islam mereka tidak paham sedikitpun!Sebaliknya dari kelompok tadi, ada kelompok yang membesar-besarkan masalah peribadatan. Mereka berpendapat, “Hal terpenting adalah hubunganmu kepada Allah, yaitu shalat. Kamu pun harus zuhud dan bertaqwa, lemparkan urusan-urusan lain, selain aspek-aspek keruhanianmu!” Datang pula kelompok lain – yang benar-benar ada dalam medan dakwah Islam sekarang – dengan pendapat, “Hal paling pentinng adalah menyatukan barisan kaum muslimin. Allah Azza wajalla berfirman yang artinya; “Dan berpeganglah kepada tali (agama) Allah, secara bersama-sama, dan janganlah kalian bercerai-berai.”(Q.S. Ali ‘Imran : 103).

Mereka menjadikan persatuan hal paling penting walaupun dibandingkan masalah aqidah! Mereka berbicara kepada manusia yang beraqidah menyelisihi aqidah kita, mengklaim bahwa kita harus bersatu, karena kita sekarang berada di zaman berkuasanya musuh-musuh atas kita! Memang benar kita harus bersatu, namun persatuan di atas asas-asas, bersatu di atas Dien. Bukan bersatu dalam kekacauan dan perbedaan aqidah.

D.  Menunda-nunda dan tergesa-gesa

Imam Ibnul Jauzi dalam buku “Talbis Iblis” berkata, “betapa banyak orang yang bertekad teguh, dibuat menanti-nanti”, yaitu dibuat berkata “nanti saja” oleh syaiton. Ibnul Jauzi melanjutkan, “betapa banyak pula yang berusaha untuk berbuat baik dipengaruhi syaiton untuk menunda-nundanya.”

E.   Kesempurnaan semu

Syaiton mendatangi manusia untuk menjadikannya merasa sempurna, dengan berkata “kamu lebih baik dari orang lain. Kamu melakukan shalat, sementara orang lain banyak yang tidak shalat.” Kamu diarahkan syaiton agar memperhatikan orang-orang yang ada di bawahmu dalam beramal shaleh, untuk mencegahmu dari beramal lebih baik. Karena kamu sudah melihat dirimu sebagai manusia paling utama!

Padahal yang dituntut dari kita adalah sebaliknya, yaitu kamu perhatikan orang yang puasa sunat Senin dan Kamis ketika kamu tidak melakukannya, atau perhatikan Fulan yang melakukan amalan-amalan wajib yang disertai dengan sunnah ketika kamu belum melakukannya. Inilah yang dituntut darimu, yaitu melihat orang yang lebih darimu dalam amal shaleh.

F.   Tidak menilai diri dan kemampuannya secara tepat

Syaiton membuat seseorang tergelincir dalam menilai dirinya dengan dua jalan:

1. Pandangan ujub dan menipu diri

Syaiton berkata “Kamu sudah mengerjakan ini dan itu, lihatlah kamu, beramal dan beramal…“. Maka berubahlah orang itu menjadi takabur dan tertipu oleh dirinya, akibatnya dia merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Dia akan menolak pula untuk rujuk dari kesalahanya. Dia akan menolak pula untuk duduk di majelis ilmu untuk belajar dari orang lain.

2. Tawadhu dan memandang diri hina dan rendah

Di sini syaiton berkata, “Kamu harus tawadhu’. Siapa yang tawadhu karena Allah, niscaya akan ditinggikan-Nya. Kamu tidak sepadan untuk perkara ini! Urusan ini hanya untuk orang berilmu tinggi saja!“, padahal syaiton bermaksud untuk menjauhkan dirimu dari tugas dakwahmu. Ini dari bab tawadhu, kamu akhirnya merendahkan dirimu sampai derajat di mana kamu merasa tak berguna pada kemampuanmu yang seharusnya kamu tampilkan, karena kita akan di tanya atas segala kemampuan dan kekuatan kita. Kamu harus mengungkapkan kemampuanmu itu karena kalau tidak kamu gunakan kemampuanmu itu, niscaya kamu akan di hisab atasnya. Ini pada hakekatnya bukan tawadhu, tapi lari dari tanggung jawab, lari dari menunaikan kewajiban. Akan tetapi syaiton berkata kepadanya, “Tinggalkanlah bidang itu untuk orang lain yang lebih baik darimu! Dakwah adalah amal yang mulia, amal bagi oarng yang jenius yang amat langka dan yang mendalam ilmunya.”

Kadang-kadang syaitonpun mendorong manusia merendahkan dirinya dengan mengacaukan akalnya untuk terus-menerus berpikir, “Apa artinya diri saya di banding syaikh ini? Apalah artinya diriku dibandingkan dengan orang alim ini?” Dimandulkan akalnya sehingga tidak berfikir kecuali dengan fikiran Syaikhnya, dan hanya menerapkan perkataan Syaikhnya semata. Jadilah Syaikhnya yang paling benar, dan yang lain salah. Mulailah dia mengagungkan manusia dan mengkultuskannya.

Padahal yang pokok bagi kita mengembalikan semua perkara kepada syari’at Allah, dan orang yang didepanmu itu masih keliru. Karenanya semua perkataan manusia harus ditimbang dengan Kalamullah dan sabda RasulNya.

3. Tasyik (Menimbulkan keragu-raguan).

Diantara pintu masuk syaiton adalah membuat ragu dalam masalah niat, dia berkata kepada manusia, “Kamu riya’, kamu munafiq, kamu beramal karena manusia”, supaya orang ini meninggalkan amal.Contohnya, seseorang ingin bersedekah kemudian dilihat orang lain, dia berkata dalam hatinya, “Kalau aku bershadaqah terlihat olehnya, dia akan menyangka kau riya’. Lebih baik aku tidak memberikan shadaqah ini.” Sesungguhnya memperbaiki niat itu diperintahkan, namun jangan sampai kita meninggalkan amal. Perbaikan niat justru harus menjadikanmu beramal dan meningkatkannya.

G. Takhwif (Menakut-nakuti)

Syaiton mempunyai dua metode dalam menakut-nakuti manusia:

1.  Menakut-nakuti dari wali-wali syaiton

Di sini syaiton menakut-nakuti manusia dari tentara dan wali-walinya, yaitu para pelaku maksiat dan kejahatan. Syaiton berkata, waspadalah terhadap mereka, mereka punya kekuatan luar biasa.” Dengan ditakut-takuti, orang ini jadi meninggalkan amal.Padahal Allah telah berfirman: “Sesungguhnya itu tidak lain hanyalah syaiton yang menakut-nakuti dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetap takulah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang-orang beriman.” (QS. Ali ‘imran : 175).

2.  Menakut-nakuti dari kefaqiran

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ” Syaiton menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kefaqiran dan menyuruh kamu berbuat kejahatan..”(QS. Al-Baqarah : 268) Syaiton berkata kepada manusia: “kalau kamu tinggalkan pekerjaan ini, di mana kamu akan mendapatkan pekerjaan yang lainnya? Kamu akan menjadi sangat faqir.” Maka dia menjadikan takut akan kefaqiran. Akhirnya orang itu mengerjakan perbuatan yang haram. Contohnya seorang muslim yang berdagang khamar ditertawakan oleh syaiton karena sudah berhasil menipunya melalui pintu ini. Padahal Allah telah berfirman : “dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberikannya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3)Kita dapati para pemakan riba’ takut akan kefaqiran, berkata: “Bagaimana aku hidup? Orang-orang sudah pada kaya, aku masih faqir”!!Kadang-kadang syaiton pun menghiasi kebatilan pada juru dakwah, sehingga menghalalkan yang haram, dengan alasan untuk kemaslahatan dakwah kamu perlu berdusta!

Syaiton menghiasi kebatilan sebagai kebenaran dengan argumen bahwa perkara ini diperlukan untuk kemaslahatan dakwah.

Hal-Hal Yang Melancarkan Tugas Syaiton

1.  Kebodohan 

    Seorang yang berilmu lebih sulit di goda oleh syaiton daripada seribu ahli ibadah

2. Hawa nafsu, lemah keikhlasan, dan lemah keyakinan

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Iblis berkata, Demi keagunganMu aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka” (QS. Shaad : 82-83).  

  OBATNYA

1. Iman kepada Allah

Kita harus benar-benar beriman kepada Allah dan bertawakal kepadanya, sebagaimana firmanNya: “sesungguhnya syaiton itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan orang-orang yang bertawakal hanya kepada Rabb mereka saja.” (QS. An-Nahl : 99)

2.  Mencari ilmu syar’i dari sumber-sumbernya yang shahih

Dengan ilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah seorang hamba akan dapat mengenal batasan-batasan Allah sehingga dia tidak akan tertipu oleh bisikan syaiton.

3. Ikhas di jalan Dien ini

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Iblis berkata, Demi keagunganMu aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka” (QS. Shaad : 82-83).

4. Dzikir (ingat) kepada Allah Ta’ala dan berlindung dari godaan syaiton terkutuk

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaiton, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raaf : 200)
Demikian pula pembacaan Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) dijelaskan dalam hadits keutamaan keduanya untuk melindungi kita dan mencegah dari gangguan syaiton. Begitu pula pembacaan ayat kursi, karena ayat ini dapat menjaga dari syaiton. Wallahu a’lam

Maraji’ :

  • Ibnu Jauzi dalam Kitabnya Talbis Iblis

  • DR. Abdullah Al-Khatir dari bukunya “Madaakhilu As-Syaithan ‘Alash -Shalihin”

  • Rangkuman berbagai sumber

Iklan

About wahonot

I a salafy man

Posted on Februari 28, 2008, in Aqidah, keluarga, Manhaj, Muslimah, Tazkiyatun nafs. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. بسم اللّه

    السلام عليكم وُرحَمةاللّه وَبَْركاَتّه

    afwan ya akhi fillah..
    ana izin copy artikel antum..

    Jazakallahu khaeran wa Barakallahu fiik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: