Da’i Artis atau Artis Da’i ?

Oleh: Ustadz Abu Umar Basyir

Ditulis oleh Administrator elfata

Sebenarnya, kita tidak punya dalil secuil pun untuk mengatakan bahwa seorang artis tak boleh menjadi da’i. Justru setiap muslim dan muslimah, siapa pun dia, wajib meleburkan diri dalam tugas dakwah. Setiap kita wajib mengajak ke jalan Allah, biarpun ia seorang artis. Namun persoalannya, layakkah seseorang berdakwah, dan ia tetap memilih untuk menjadi artis? Memang, akan tergantung pada definisi apa yang disebut sebagai artis. Tapi mengacu pada komentar seorang produser film tanah air saat menyanggah pandangan AA Gim, yang menentang (mengkhawatirkan) kemunculan film Buruan Cium Gue, “Kalau dasar ajaran agama yang dijadikan pegangan, sebenarnya di Indonesia ini tidak ada filem yang halal…” maka mudah pula kita memahami apa arti artis, dalam pengertian yang umum dalam budaya masyarakat moderen kita.

Kewajiban Berdakwah

Kata dakwah, diambil dari da’wah yang memiliki arti mengajak atau memanggil. Da’wah ilallah, artinya adalah mengajak ke jalan Allah.
Da’i adalah subjek dari dakwah. Artinya, orang yang melakukan aktivitas dakwah. Dalam bahasa aplikatifnya, orang yang mengajak umat manusia menuju jalan Allah, melalui berbagai cara yang diajarkan syariat.

Amar ma’ruf nahi mungkar bisa berarti harfiyyah: memerintahkan perbuatan baik, mencegah perbuatan mungkar. Dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bila dakwah merupakan totalitas dari setiap ucapan dan perbuatan yang bernilai ajakan menuju jalan Allah, maka amar ma’ruf nahi mungkar adalah salah satu perwujudannya yang paling praktis. Setiap amar ma’ruf nahi munkar adalah dakwah, tapi tidak setiap dakwah itu amar ma’ruf nahi munkar.

Banyak ulama menjelaskan, bahwa dakwah dalam arti sejatinya hanya dapat dilakukan oleh para ulama. Yang dapat dilakukan oleh masyarakat awam hanyalah amar ma’ruf nahi munkar, yang dalam makna mikronya bisa juga disebut dakwah.

Meski dapat dilakukan orang awam, tetap saja amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan secara benar.

Ibnu Taimiyyah menegaskan,

Hendaknya amar ma’ruf yang kalian lakukan betul-betul dilakukan dengan ma’ruf, dan jangan sampai nahi munkar yang kalian lakukan justru menjadi kemunkaran . Amar Ma’ruuf Nahi Munkar oleh Ibnu Taimiyyah hal. 39

Kita juga tahu sebuah hadits yang amat populer, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, yang berbunyi,

Masing-masing kalian adalah penanggungjawab. Dan masing-masing akan bertanggungjawab atas apa yang menjadi tanggungjawabnya.

Maka, kita pun sadar bahwa dakwah itu adalah kewajiban kita bersama. Terlepas dari profesi apa yang kita geluti, di manapun kita berada, dalam masyarakat apapun kita hidup, kita tetap wajib berdakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Setiap ajaran Islam yang sudah kita amalkan, seperti shalat, wajib kita dakwahkan kepada orang lain yang belum melaksanakannya, atau kurang menyadari akan tingkat kewajibannya.

Dakwah dan Profesi

Yang menjadi persoalan, sekarang ini sudah demikian tipis garis pembeda antara dakwah dengan profesi. Karena di manapun ruang dakwah dibangun, dan kegiatan dakwah digelar, selalu saja ada kesempatan untuk mencari uang. Di luar soal kontroversi apakah seorang juru dakwah boleh mengambil upah dari dakwah yang dia sampaikan dalam bentuk buku, ceramah, vcd dan sejenisnya, dan kalaupun kita sepakat bahwa dalam batas-batas tertentu itu diperbolehkan, jelas, kehadiran fulus di berbagai lini dakwah, semakin memperluas ruang untuk menipisnya nilai-nilai keikhlasan. Kesimpulan ini mungkin mudah dibantah secara logika atau pendalilan, tapi akan sangat sulit dibantah dengan catatan realitas dalam dunia dakwah. Ibarat bahaya kebanyakan makan cabai, bisa dibantah secara teori, tapi realitas banyaknya orang sakit perut karena kebanyakan makan cabai, akhirnya akan menghentikan perdebatan itu.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan,

Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seyogyanya dia cari untuk mengharap dapat melihat wajah Allah, namun ia justru mencarinya untuk mengejar sebagian kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan ‘arf atau baunya Surga di Hari Kiamat nanti. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3667), dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (II : 412).

  Ini sungguh merupakan peringatan yang hebat, yang mungkin akhir-akhir ini semakin jelas makna dan kandungannya, setelah berbagai realitas membantu menggambarkannya. Betapa banyak orang yang mendalami ilmu, hanya untuk mengejar gelar akademis, titel, untuk kemudian pengakuan publik, dan ujung-ujungnya mudah mencari fulus, atau yang dekat-dekat ke arah itu.

Di luar soal halal atau haramnya mengais duit dari ilmu-ilmu akhirat, realitas seringkali membuktikan, bahwa banyak konflik terjadi di dunia dakwah, karena soal uang. Banyak para juru dakwah yang matanya ‘tertutup’ oleh godaan dunia, sehingga hidupnya selalu dipenuhi dengan kesulitan, dan kerepotan habis-habisan mengejar keping demi keping keduniaan.

Barangsiapa yang cita-citanya adalah dunia, pasti segala urusannya akan Allah cerai-beraikan, dan kemiskinan akan selalu terbayang di hadapan matanya. Sementara dunia yang dia dapatkan sebatas yang Allah tetapkan saja. Sedangkan orang yang cita-citanya adalah akhirat, pasti segala urusannya akan Allah lengkapi, dan kekayaan akan selalu terbayang dalam hatinya. Sementara dunia sendiri akan datang kepadanya dengan tertunduk . Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (4105). Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (II : 393). Sementara dalam Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah (950)

Siapa Tertarik Jadi Da’i?

Di akhir zaman, memang banyak ilmu akhirat yang bisa diuangkan. Maka, wajar bila banyak pihak akhirnya tertarik menjadi da’I, bukan karena dorongan naluri berdakwah dan tuntutan iman, tapi lebih karena peluang mengais rupiah dari ilmu-ilmu akhirat, yang betapapun sederhananya, meski hanya sekadar mampu membaca beberapa potong ayat dan hadits berikut arti-artinya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu diriwayatkan bahwa ia pernah bertutur, “Apa yang akan kalian lakukan bila pelbagai bencana menyelimuti kalian? Saat itu, anak-anak bayi beranjak dewasa, dan kaum tua sudah mulai pikun, yang bukan sunnah dijadikan ajaran. Kalau ajaran itu diubah, akan dianggap sebuah kemungkaran.”
Ada seorang lelaki bertanya, “Kapan itu terjadi?” Beliau menjawab, 

Yakni bila orang-orang yang menjaga amanah semakin jarang, para pemimpin semakin banyak, sementara ahli fiqih semakin sedikit, qari semakin banyak, namun ilmu dipelajari bukan karena tuntutan agama, bahkan dunia pun dicari dengan ilmu-ilmu akhirat . Diriwayatkan oleh Ad-Daarimi (I : 75-76), dinyatakan shahih oleh Al-Albani dengan sanad Ad-Daarimi dalam Shahih At-Targhieb wat Tarhieb (I : 48). Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf (II : 359), secara mauquf pada Abdullah dengan sanad terputus.

Maka, kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, “Layakkah seorang artis menjadi da’i?”
Jawabannya akan singkat saja: bukan hanya pantas, tapi harus dan wajib. Namun setelah menjadi da’i, hendaknya ia memikirkan ulang tentang professinya sebagai artis. Dalam blantika dunia hiburan di tanah air, profesi artis sungguh bukan lahan bagus untuk mengembangkan keimanan, tapi justru merusakan sarang-sarang kemaksiatan yang harus dihindari seorang da’i.

Sebab, setelah menjadi juru dakwah, seseorang harus bisa menjadi teladan bagi orang yang dia dakwahi, siapa pun adanya orang tersebut.

Muhammad bin Nauh mengatakan kepada Abu Abillah,

Wahai Abu Abdillah! Allah, Allah, engkau tidaklah sepertiku. Engkau orang yang dijadikan teladan. Banyak umat manusia yang berupaya melihatmu, karena apa yang engkau miliki. Bertakwalah kepada Allah, dan teguhkan dalam perintah-Nya.

Selain itu, saat sudah berada di jalur dakwah, seseorang harus selalu mengembangkan kwalitas ilmunya dengan belajar dari para penuntut ilmu senior atau para ulama yang punya kredibilitas bagus dalam ketaatan kepada Allah.

Adz-Dzahabi pernah berkata,

Kaum As-Salaf dahulu menuntut ilmu, dan karena itu mereka mendapatkan kemuliaan dan menjadi para imam yang patut dijadikan tauladan. Datang pula sebagian di antara mereka untuk menuntut ilmu, dan mereka pun berhasil dan mencapai prestasi hebat. Namun mereka mulai menghisab diri mereka. Ilmu itu berhasil menggiring mereka menuju keikhlasan di tengah perjalanan menuntut ilmu tersebut.

Seperti diungkapkan oleh Mujahid dan ulama lainnya, “Kami menuntut ilmu ini di awali dengan tanpa ambisi besar. Namun kemudian Allah mengaruniai ambisi hebat itu di tengah perjalanan.” Salah seorang di antara mereka juga mengungkapkan, “Kami menuntut ilmu ini untuk selain Allah, tapi ilmu ini hanya ingin diniatkan karena Allah.”

Wallahu A’lam.

sumber :http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&task=view&id=114&Itemid=1

About wahonot

I a salafy man

Posted on Februari 11, 2008, in Aqidah, Fikh, Manhaj, Muamalah. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Telah jelas mana yang baik dan mana yang mungkar. Setiap manusia akan mendapatkan paha apa yang telah dikerjakannya. semoga senantiasa Allah membukan pintu hidayah bagi umatnya.

  2. salam
    tulisannya bagus…

    (pindahan)

  3. kayak punyaku ni..
    selebritis blog ato blog selebritis..

    (pindahan)

  4. Dua ‘kalimat’ (istilah ilmu nahwu) Da’i Artis atau Artis Da’i; tergantung empunya yang membuat judul, karena 2 kalimat yang pertama bisa berarti Da’i nya para artis atau Da’i yang suka di undang dan disukai para artis, Da’i yang bisa di ajak kompromi dengan masalah syariat hukum atau….banyak deh.

    Sementara 2 kalimat yang kedua (Idlofatus Shifat ‘alal Maushuf) menyandarkan kalimat pertama kepada makna yang disifati pada kalimat kedua; artinya profesi dia artis tetapi memiliki kecendrungan mengajak (bisa kebaikan juga bisa kejelekan); maka tentu saja tidak bisa disalahkan bila orang mengambil makna kesimpulan sendiri-sendiri. Bagi kita cukup ‘Maqoosidul Lafdzi ‘ala niatil laafidzi” yaitu maksud pengucapan sebuah lafad tergantung niat orang yang mengucapkan lafadnya itu.

    Sebagai contoh yang sama, wajah baru atau baru wajah…
    Mana yang Anda akan Ambil, kalimat yang pertama atau kedua???

    Mudah-mudahan ini bisa menjadi jembatan ilmu bahasa yang kaya ternyata semuanya tidak ada kecuali dalam alQur’an semata.

    Demikian akhirul kalam
    wassalam

    (pindahan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: