Bulan Muharram bukan bulan sial

Oleh : Tim Buletin Al Ilmu jember

http://assalafy.org

 “Bulan muharram telah tiba, jangan mengadakan hajatan pada bulan ini, nanti bisa sial.”begitulah kata sebagian orang dinegeri ini. ketika hendak mengadakan hajatan, mereka memilih hari/bulan yang dianggap sebagai hari/bulan baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau berkah.Dan sebaliknya, mereka menghindari hari/bulan yang dianggap sebagai hari-hari buruk yang bisa mendatangkan kesialan  atau bencana.Seperti bulan Muharrom( suro) yang memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. bahkan mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama islam. Apakah memang benar hal ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama? Lebih lengkap download disini     

Iklan

About wahonot

I a salafy man

Posted on Desember 29, 2007, in Aqidah. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. itu kan tradisi jawa yang tertuang dalam kitab primbon itu..

    jawa ada sebelum masuknya islam ke sini, kalo misalkan tradisi tersebut salah, lalu apa upaya yang harus dilakukan orang yang benar seperti Anda ini? apa sekedar mengatakan salah? sekedar mengatakan bid’ah? atau malah mengatakan mereka kafir?

    orang jawa percaya hal tersebut tentu tidak asal ngawur. sangat mungkin kesimpulan itu diambil setelah melakukan pengamatan dalam jangka waktu yang lama

    menyadarkan masyarakat (kalau itu memang salah) harus dengan cara yang tepat dan istiqomah seperti yang dilakukan para nabi..

    wallahu a’lam!

    wahai saudaraku, andai ana (saya) sampaikan bahwa Nabi juga pernah menegur dan menyampaikan kesalahan yang dilakukan orang-orang kafir quroisy sehingga beliau dikatakan sebagai orang gila, tukang sihir dsb dan sampai beliau sempat mau dibunuh apakah yang dilakukan nabi salah? Wahai saudaraku tingkat memperbaiki masyarakat berbeda-beda. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran hendaknya ia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hati. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ana menggunakan media ini karena ana rasa media ini lebih gampang dan bisa dipahami terutama kalangan terpelajar. Mengatakan salah, bid’ah apalagi kafir tidak boleh sembarangan, harus dengan dalil yang jelas yang bersumber dari alqur’an dan hadist Nabi yang shohih untuk menghukuminya. Banyak orang yang tidak bisa memahami antara menghukumi seseorang dengan menghukumi perbuatannya. Kita tidak boleh sembarangan menghukumi orang mubtadi’ ataupun musyrik Para ulama telah menjelaskan, bukan hak kita menghukumi seseorang itu kafir atau musyrik sampai benar2 telah tegak hujjah padanya dan tidak ada penghalang lagi. Jangan sampai kita salah memahami penjelasan ulama sebagaimana yang terjadi pada amrozi dan kawan-kawannya. Gara-gara salah paham tentang ayat -ayat dan hadist-hadist Nabi tentang jihad dan bersikap dengan orang -orang kafir sehingga mereka melakukan tindakan yang bertentangan dengan syari’at islam seperti ngebom sana sini. Maka tolonglah saudaraku pahami penjelasan para ulama dengan seksama dan jangan tergesa-gesa menghukumi sesuatu dan jangan mudah bersu’udzon dengan saudara muslim yang lain. Semoga Alloh menjaga dan membimbing kita di atas jalan yang hak, yaitu jalannya para Nabi, sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in hingga hari kiamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: