Intisari Aqidah Salafus Shalih (bag.2)

Oleh:Syaikh Sholeh Bin Fauzan Alu Fauzan

Makna Iman Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Iman kepada Allah, yaitu meyakini dengan pasti tentang ke-Esaan pencipta, Pemilik dan pengatur alam (rububiyah), sesembahan, dan nama-nama, serta sifat-sifat bagi Allah Yang Maha Suci. Maksudnya adalah tiga macam tauhid:
1. Tauhid Rububiyah
2. Tauhid Uluhiyah
3. Tauhid Asma wa Sifat (nama-nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala)

1. Tauhid Rububiyah Hal itu telah terpatri dalam fitrah dan tidak ada makhluk yang menentangnya, meskipun Iblis yang menjadi kepala kekufuran. Dia (Iblis) berkata:“Ya Tuhanku! Oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat.” (QS. Al Hijr: 39)

Dia (Iblis) juga berkata:“Maka demi kekuasaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semua”. (QS. Shad: 82)

Jadi, sesungguhnya Iblis telah menetapkan rububiyatullah, dan dia telah bersumpah dengan kemuliaan Allah subhanahu wa ta’ala.Demikian pula, seluruh kaum kafir menetapkan hal ini, seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, serta seluruh pemimpin kekufuran menetapkan tauhid rububiyah di atas kekurufan dan kesesatan yang ada pada mereka. Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?”, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Az Zukhrud: 87)

Dia ‘Azza wa Jalla berfirman:“Katakanlah: Siapkah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Asry yang agung? Mereka akan menjawab: “Kepunyan Allah” (QS. Az Zukhruf: 87)

Dia yang memiliki urusan yang agung berfirman:“Katakanlah: “Siapkah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui”? Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. (QS. AL Mukminum: 88-89).

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan”? Maka mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Yunus: 31)

Lihatah! Mereka menetapkan ini semua dan ketika mendapati berbagai kesempatan mereka memurnikan doa kepada Allah karena mereka mengetahui sesungguhnya tidak ada yang menyelamatkan dari berbagai kesulitan kecuali Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, serta mengetahui bahwa tuhan-tuhan dan berhala-berhala mereka tidak mampu menyelamatkan dari kebinasaan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih”. (QS. Al Isra: 67).

Sesungguhnya, orang yang telah mempunyai (baca: meyakini) tauhid (rububiyah) ini, belumlah masuk Islam dan tidak selamat dari neraka. Sebagai contoh adalah orang-orang kafir yang telah menetapkan tauhid rububiyah, tetapi penetapan mereka itu tidak memasukkan mereka ke dalam Islam dan Allah ‘Azza wa Jalla tetap menemukan mereka dengan orang musyrik dan kafir, serta menetapkan mereka sebagai orang-orang yang kekal dalam mereka, Padahal mereka telah menetapkan tauhid rububiyah ini.Dari sini, nampaklah kesalahan sebagian para Penulis tentang Aqidah di atas Metode ahli kalam, ketika mereka menafsirkan tauhid dengan: Pengikraran wujud Allah dan sesungguhnya Dia adalah Pencipta, Pemberi Rezeki dan selain itu.Maka, kita katakan kepada mereka bahwa ini bukanlah Aqidah yang dibawa para nabi sebagai utusan Allah ‘Azza wa Jalla karena orang-orang kafir dan musyrik, bahkan Iblispun mengikrarkan tauhid rubbubiyah in.Jadi, semuanya telah mengikrarkan dan mengetahui macam tauhid ini. Sedangkan, diutusnya para rasul tidaklah menuntut manusia untuk mengikrarkan sesungguhnya Allah adalah Maha Pencipta, Maha Pemberi Rezeki, yang menghidupkan dan mematikan. Karena, pengikraran tauhid ini tidak cukup dan tidak bisa menyelamatkan mereka dari adzab Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Tauhid Uluhiyah Tauhid Uluhiyah adalah tauhid ibadah, tauhid Al Iradah dan Al Qasdu (keinginan dan tujuan). Jenis tauhid ini merupakan tujuan Perjalanan dan tempat persengkatan antara para rasul dan umat mereka. Setiap rasul datang dan berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! karena tidak ada Tuhan selain-Nya untuk kalian”.Mereka tidak berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku ! Ikrarkanlah sesungguhnya Allah adalah Rabb (Pencipta, Pemilik, dan Pengatur) kalian”, sebab mereka telah mengikrarkannya.Tetapi, para rasul menuntut mereka agar beribadah kepada Tuhan yang telah mereka ikrarkan rububiyah-Nya, yakni sesungguhnya hanya Dia saja sebagai pencipta, pemberi rezeki, serta mengatur segala sesuatu. Demikianlah, para rasul menuntut mereka mengesakan peribadatan kepada-Nya saja, sebagaimana mereka telah mengesakan-Nya sebagai pencipta dan pengatur. Jadi, para rasul itu (menuntut) hujjah pada mereka atas apa yang telah mereka ikrarkan.Al Qur’an yang mulai menyebutkan tauhid rububiyah dalam rangka membantah orang-orang kafir dan menuntut mereka dengan sesuatu yang mengharuskan mereka. Wahai orang-orang kafir! Selama kalian mengakui bahwa hanya Allahlah yang mencipta, yang memberi rezeki, dan yang menyelamatkan dari kebinasaan, serta yang menyelamatkan dari berbagai macam kesulitan, lalu mengapa kalian berpaling kepada selain-Nya yang tidak bisa mencipta, memberi rezeki, dan sedikitpun tidak memiliki kemampuan mengurusi perkara, serta tidak memiliki kemampuan mengurusi ciptaan.“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil Pelajaran?”(QS. An Nahl: 17)

Oleh karenanya, tauhid uluhiyah adalah tauhid yang telah diserukan oleh para rasul dan mereka menuntut kaumnya untuk menegakkan tauhid itu. Senantiasa terjadi permusuhan antara ahli tauhid dengan kaum yang menyimpang dari dulu hingga sekarang disebabkan jenis tauhid ini. Orang-orang yang berAqidah yang selamat menuntut kepada orang-orang yang menyimpang dari tauhid uluhiyah yang kembali kepada agama musyrikin dengan melakukan peribadatan kepada kubur-kubur dan mensucikan orang-orang, serta Memberikan kekhususan rubbubiyah kepada mereka agar kembali kepada Aqidah yang selamat dan mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam melakukan ibadah, serta meninggalkan perkara yang membahayakan yang ada pada diri mereka. Ini adalah agama jahiliyah, bahkan penyimpangan mereka lebih dari agama jahiliyah itu karena kaum jahiliyah memurnikan doa untuk Allah dalam kesempatan dan menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan lapang.Adapun kaum yang menyimpang, mereka selalu dalam kesyirikan baik ketika lapang maupun sempit, bahkan kesyirikan mereka dalam keadaan sempit lebih parah lagi tatkala merasakan kesempatan kamu akan mendengar mereka meminta bantuan kepada para wali, orang-orang yang dikubur, dan orang-orang yang mati. Sedangkan kaum musyrikin (dahulu) tatkala ditimpa suatu bahaya, mereka memurnikan doa kepada Allah.Inilah macam tauhid kedua, yaitu tauhid yang diserukan oleh para rasul kepada semua umat agar mereka mengikhlaskan agama bagi Allah dan itulah yang menjadi tempat perselisihan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam memerangi kaum musyrikin sehingga mereka meninggalkan (kesyirikannya)nya.

Demikianlah makna “La ilaha illallahu”. Karena “Al Ilah” maknanya “yang disembah”, jadi “La ilaha illallahu” maknanya adalah “tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi”.Al llah tidak memiliki makna sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang-orang yang sesat tatkala mereka berkata: “Sesungguhnya makna Al llah adalah yang mampu membuat dan mencipta” Ini tidak benar, sebaliknya Al llah bermakna “yang disembah” (Al Ma’bud) karena ia dari kalimat “Alaha yaklahu” yang berarti dicintai dan disembah.

3. Tauhid Asma dan Sifat Artinya, kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah menetapkan untuk diri-Nya, serta meniadakan sifat-sifat cacat dan kurang yang telah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tiadakan dari diri-Nya, dengan tanpa mengubah, meniadakan, menanyakan hakekatnya, dan menyamakan dengan makhluk-Nya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura: 11)

Dalam ayat yang lain:“Maka janganlah kalian membuat permisalan-permisalan untuk Allah, sesungguhnya Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui”. (QS. An Nahl: 114)Demikian pula, firman-Nya yang terdapat dalam Kursi, surat Al Ikhlas, dan keumuman surat-surat Makiyah dan Madaniyah menyebutkan nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla dan sifat-sifatNya bahkan hal itu terkandung dalam mayoritas surat-surat dalam Al Qur’an.Ayat-ayat Al Qur’an yang mulai tidak meninggalkan penyebutan nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla dan sifat-sifatNya, seperti pada permulaan setiap surat: “Bismillahirrahmannirrahim” maknanya adalah menetapkan nama untuk Allah ‘Azza wa Jalla, dan menetapkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki rahmat yang luas (Ar Rahman) lagi pemurah (Ar Rahim), demikian pula sifat-sifat Allah yang lain.Allah ‘Azza wa Jalla telah mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat dan menamakan diri-Nya dengan nama-nama. Maka, kita wajib menetapkan itu semua dan meyakininya sesuai dengan apa yang terdapat dalam kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak memasukkan akal-akal kita, mena’wilkan dengan pemahaman-pemahaman dan pengertian-pengertian kita, serta tidak menetapkan hukum atas Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, karena Allah ‘Azza wa Jalla lebih tahu tentang diri-Nya daripada selain-Nya. Allah berfirman:“Dia mengetahui apa yang ada dihadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”. (QS. Thaha: 110)Dia berfirman lagi:“Allah, tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus [mahluk-Nya]; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang dilangit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dihendaki-Nya”. (QS. Al Baqarah: 255)

Allah ‘Azza wa Jalla melarang kita membuat permisalan-permisalan dan menjadikan tandingan-tandingan, pembantu-pembantu, dan penyerupa-penyerupa bagi-Nya. Karena tidak ada yang menyerupai, menyamai, sekutu, dan sebanding dengan-Nya. Dia Maha Suci dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.Sesungguhnya, kita beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dia ‘Azza wa Jalla berfirman:“Hanya milik Allah asmaul husna [nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah], maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al A’raf: 180).

Allah Yang Maha Suci telah menjelaskan kepada kita suatu perkara sebagai berikut:
1. Dia ‘Azza wa Jalla telah menetapkan nama-nama bagi dirinya (hanya milik Allah asmaul husna).

2. Dia ‘Azza wa Jalla telah mensifati nama-nama tersebut dengan keagungan (husna), maka semua nama-nama Allah adalah agung.

3. Dia ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita agar memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-namaNya.

4. Dia ‘Azza wa Jalla melarang kita menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya.Makna “Ilhad”, yakni menyimpang/miring. Jadi, menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut nama-namaNya) adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifatNya dari apa yang telah ditunjukkan-Nya, dengan mengubah dan menakwikannya kepada sesuatu yang tida dikandungnya dan tidak diinginkan oleh Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Sebagaimana dilakukan oleh Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan golongan-golongan sesat yang berjalan di atas kesalahan mereka.Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka berjalan di atas garis yang lurus dalam perkara ini dan semua perkara agama mereka, -alhamdulillah-. Tetapi dalam bab Aqidah, mereka Memberikan perhatian yang lebih karena kesesatan dalam perkara ini merupakan kesesatan yang nyata dan kesalahan yang sangat besar. Ketergilinciran langkah, kesesatan dan kesalahan pemahaman dalam perkara Aqidah tidak seperti kesalahan dalam perkara agama yang lainnya. Sebab, jika terjadi kesalahan dalam Aqidah, maka dikhawatirkan pelakunya akan terseret dalam kekufuran, penyimpangan yang besar, dan kesesatan yang jauh.Adapun orang yang salah dalam perkara selain itu maka kesalahannya lebih ringan. Meskipun demikian, kesalahan dalam semua perkara tidaklah diperbolehkan. Seseorang tidak boleh terus menerus berada dalam kesalahan atau taklid terhadap orang yang salah, akan tetapi sebagian kesalahan itu lebih berat atas sebagian yang lainnya.Kesalahan dan penyimpangan dalam perkara Aqidah merupakan kesalahan dan penyimpangan yang sangat berat karena kesalahan dalam perkara tersebut tidak ada tambalnya. Adapun kesalahan dalam perkara yang lainnya maka hal itu di bawah kehendak (masyiah)-Nya.“Sesungguhnya, Allah tidak mengampungi dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan-Nya dan Dia mengampuni dosa-dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiap yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS. An Nisa: 116).

Dalam ayat lain:“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah akan sungguh itu telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An Nisa: 48).

BERIMAN TERHADAP POKOK-POKOK AGAMA YANG LAIN

Adapun beriman terhadap pokok-pokok agama yang lain, yakni beriman kepada para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir serta terhadap taqdir baik dan buruk, maka ini semua mengikuti keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan semua itu merupakan cabang dari keimanan kepada-Nya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, karena Dia ‘Azza wa Jalla telah mengabarkan kepada kita tentang Wujud para malaikat, perkara-perkara ghaib yang telah berlalu, pengutusan para rasul, dan tentang hari akhir serta Kejadian didalamnya.Kita wajib mengimani semua itu dan keumumannya menjadi bagian dari keimanan terhadap perkara yang ghaib.– Kita beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan para malaikatNya dan ini menjadi bagian dari keimanan yang paling agung terhadap perkara ghaib.– Kita juga beriman kepada para rasul meskipun tidak pernah melihat mereka, tetapi kita mengimaninya karena Allah ‘Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa Dia ‘Azza wa Jalla mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan Peringatan. Rasul yang pertama adalah Nuh dan terakhir adalah Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam shallallahu’alaihi wa sallam.– Kita beriman kepada para malaikat dalam keadaan kita tidak melihat mereka, tetapi kita beriman terhadap kabar Allah Yang Maha Suci dan kabar Rasul-Nya.– Seperti itu juga kita beriman kepada hari akhir dan tidak datang dari setelahnya. Keimanan kita dalam hal ini bersandar atas kabar Allah dan RasulNya dan itulah keimanan yang benar.

diambil dari e-book akh Ahmad Al Makassari “Mengapa Islam membenci Syirik?” di http://ashthy.wordpress.com 

Iklan

About wahonot

I a salafy man

Posted on November 22, 2007, in Aqidah. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. artikelnya bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: