Empat Kaidah Memahami Tauhid (bag.2)

Oleh:Syaikh Sholeh Bin Fauzan Alu Fauzan

Berkata Syaikh rahimahullah : “dan menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada.”
Bila Allah subhanahu wa ta’ala menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, maka ini adalah puncak yang dicari. Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan barokah pada usia, rezeki, ilmu, amal, serta keturunanmu. Dimanapun kamu berada dan menghadap, barokah senantiasa menyertaimu, maka ini adalah kebaikan yang besar dan keutamaan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Berkata Syaikh rahimahullah : “Dan menjadikanmu termasuk orang-orang yang jika diberi bersyukur”
Ini berbeda dengan orang yang jika diberi mengingkari nikmat dan menolaknya. Sesungguhnya, mayoritas manusia jika diberi nikmat mereka mengkufuri, mengingkari dan memalingkan pada selain ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, sehingga hal itu menjadi sebab kesengsaraannya. Adapun orang yang bersyukur, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menambahnya :
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu menyatakan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” (Ibrohim : 7)Allah subhanahu wa ta’ala akan menambah keutamaan serta kebaikanNya kepada orang yang bersyukur, jika ingin bertambah kenikmatan, dan jika ingin hilang kenikmatanmu maka kufurilah.

Berkata Syaikh rahimahullah : “Dan jika mendapat ujian bersabar”
Allah subhanahu wa ta’ala menguji hambaNya, menguji mereka dengan musibah, tipu daya, serta dengan musuh-musuh dari golongan orang-orang kafir dan munafiqin. Mereka membutuhkan kesabaran, tidak putus asa serta tidak putus harapan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tetap diatas agamanya dan tidak menjauh bersama fitnah, atau menerima fitnah. Bahkan mereka tetap diatas agamanya dan bersabar atas apa yang dijalani dari kesusahan-kesusahan didalamnya. Berbeda dengan mereka yang diuji mengeluh dan marah-marah serta putus asa dari Rahmat Allah ‘azza wa jalla, maka orang yang demikian akan ditambah dengan cobaan demi cobaan, musibah demi musibah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“sesungguhnya jika Allah subhanahu wa ta’ala mencintai suatu kaum, (maka Dia akan) menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan, dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan”. “Dan manusia yang paling besar ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisalnya, setelah itu orang yang semisalnya.

Para Rasul, siddiqin, dan syuhada’ serta hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mu’min diuji, akan tetapi mereka bersabar. Adapun orang-orang munafiq, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan tentang mereka :“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada ditepi” (Al Hajj : 11)

Yang dimaksud tepi artinya ujung.“Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia kebelakang. Rugilah ia didunia dan diakherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Al Hajj : 11)

Dunia itu tidak selamanya nikmat, mewah, lezat, bahagia dan mendapat pertolongan. Allah subhanahu wa ta’ala menggilirkannya diantara para hambaNya. Para sahabat –yang merupakan ummat yang paling mulia- apa yang terjadi pada mereka dari ujian dan cobaan? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (Ali Imran : 140)

Maka, hendaknya seorang hamba menenangkan jiwanya. Jika dia diuji, sesungguhnya hal ini tidak khusus baginya. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala telah mendahului dengan hal tersebut. Hendaknya ia tenangkan jiwanya dan bersabar, serta menunggu jalan keluar dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan akhir yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.

Berkata Syaikh rahimahullah : “Dan jika berdosa meminta ampun”
Adapun orang yang jika berdosa tidak meminta ampun dan bertambah dosanya, maka celakalah dia –wal iyya’udzu billah-, akan tetapi seorang hamba yang beriman, setiap kali dia berbuat dosa maka dia akan segera bertaubat.
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?” (Ali Imran : 135)

“Sesungguhnya taubat disisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera” (An Nisaa’ : 17)

Arti jahalah itu bukanlah orang yang tidak berilmu, karena orang yang jahil (bodoh) tidak disiksa. Akan tetapi jahalah disini adalah lawan dari hilm (santun). Maka setiap orang yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dia adalah jahil, artinya kurang santunnya, kurang akalnya, dan kurang kemanusiaannya. Kadang-kadang ada orang yang alim (berilmu) akan tetapi jahil (bodoh) disisi yang lain, yaitu tidak memiliki kesantunan dan tidak benar dalam perkara tersebut.“Kemudian mereka bertaubat dengan segera” artinya, setiap kali berbuat dosa mereka minta ampun. Tidak ada seorangpun yang maksum (terjaga) dari dosa, akan tetapi –alhamdulillah- Allah subhanahu wa ta’ala membuka pintu taubat. Maka jika seorang hamba berdosa wajib baginya untuk segera bertaubat. Jika dia tidak bertaubat meminta ampun, mka ini adalah tanda-tanda kesengsaraan, bahkan kadang-kadang ada yang putus asa dari Rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, lalu setan mendatanginya dan berkata kepadanya “Tidak ada taubat bagimu”Tiga perkara tersebut diatas yakni, jika diberi bersyukur, jika diuji bersabar dan jika berdosa meminta ampun merupakan tanda-tanda kebahagiaan. Barangsiapa yang mencocokinya dia akan mendapatkan kebahagiaan, dan barangsiapa yang terhalang darinya atau sebagiannya, maka dia akan sengsara (celaka).

Berkata Syaikh (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) rahimahullah :
Ketahuilah! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbingmu untuk taat kepadaNya. Sesungguhnya al hanifiyyah millah ibrahim itu adalah kamu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengikhlaskan agama untukNya, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz Dzariyat : 56)

SYARAH :
“Ketahuilah! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbingmu”. Ini adalah do’a dari syaikh rahimahullah, demikianlah hendaknya seorang pengajar itu mendo’akan murid-muridnya.
Dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala itu artinya mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.“Sesungguhnya al hanifiyyah millah Ibrohim”
Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi kita untuk mengikuti millah Ibrahim ‘alaihis salam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (An Nahl : 23)

Al Hanifiyyah adalah agamanya al hanif yaitu Ibrahim ‘Alaihis salam. Sedangkan al hanif adalah menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan hatinya, amalan-amalannya, niat, serta tujuannya, semuanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, dan berpaling dari yang selainNya. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti millah Ibrahim ‘alahis salam“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.” (Al Hajj : 78)

Dan millahnya Ibahim adalah kamu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala mengikhlaskan agama untukNya.Ini adalah al Hanifiyyah. Syaikh rahimahullah tidak hanya berkata “Kamu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala” saja, bahkan menyatakan, “Mengikhlaskan agama untukNya” yaitu jauhilah syirik, karena ibadah itu jika dicapuri kesyirikan, maka akan batal. Tidak akan menjadi ibadah, kecuali jika selamat dari syirik baik besar maupun kecil. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (Al Bayyinah : 5)

Hunafaa’ adalah bentuk jamak dari hanif yaitu ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan seluruh mahluk dengan ibadah ini, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku” (Adz Dzariyat : 56)

Makna “menyembahku” adalah “mengesakanKu dalam ibadah”. Dan hikmah dari penciptaan mahluk adalah, bahwasanya mereka beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikhlaskan agama untukNya. Diantara mereka ada yang mengerjakannya, dan adapula yang tidak mengerjakannya, akan tetapi hikmah dari penciptaan mereka adalah ini. Sehingga orang yang beribadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala adalah menyelisihi hikmah penciptaan mahluk, menyelisihi perintah dan syariat.Ibrahim ‘alaihissalam adalah bapaknya para Nabi yang datang setelahnya, maka seluruh (para nabi) berasal dari keturunannya. Oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman“Dan Kami jadikan kenabian dan alKitab pada keturunannya.” (al ankabut : 27)

Mereka seluruhnya berasal dari bani Israel, anak cucu Ibrahim ‘alaihissalam, kecuali Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, beliau berasal dari keturunan Ismail ‘alaihissalam. Maka seluruh para Nabi berasal dari anak-anaknya Ibrahim’alaihissalam, sebagai penghormatan baginya dan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya sebagai “Imam” bagi manusia yaitu “contoh” (bagi mereka). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman“sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia” (Al baqarah : 124), maknanya yaitu panutan.“Sesungguhny Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan” (An Nahl : 120)

Yaitu imam yang diteladani, dengan hal itu pula allah subhanahu wa ta’ala perintahkan seluruh mahluk, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Adz Dzariyat : 56)

Maka Ibrahim ‘alaihissalam mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana Nabi-Nabi selainnya. Seluruh Nabi mengejak manusia untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu” (An Nahl : 36)

Adapun syariat-syariat yang berupa perintah-perintah, larangan-larangan, halam dan haram, maka hal itu berbeda pada masing-masing ummat sesuai dengan berbedanya kebutuhan. Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan suatu syariat lalu menghapuskannya dengan syariat yang lain sampai datangnya syariat Islam. Kemudian syariat Islam itu menghapus seluruh syariat (sebelumnya), dan tetaplah syariat Islam itu sampai hari kiamat.Sedangkan inti agamanya para nabi yakni tauhid, maka ini belum dihapus dan tidak akan dihapus. Agama mereka satu yaitu agama Islam dengan makna “Ikhlas untuk Allah dengan Tauhid”. Adapun Syariat-syariat (lain) yang berbeda-beda dihapus, akan tetapi tauhid dan aqidah dari Adam ‘alaihissalam sampai Nabi yang terakhir, semuanya mengajak kepada tauhid dan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah mentaatiNya pada setiap waktu dengan perkara yang diperintahkan dari syariat-syariat. Maka beramal dengan syariat yang menghapus adalah ibadah dan beramal dengan syariat yang telah dihapus bukanlah termasuk ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

diambil darie-book akh Ahmad Al Makassari “Mengapa islam membenci Syirik?” di http://ashthy.wordpress.com 

Iklan

About wahonot

I a salafy man

Posted on Oktober 31, 2007, in Aqidah, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: