<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Al Ghuroba' meniti jejak generasi terbaik</title>
	<atom:link href="http://wahonot.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wahonot.wordpress.com</link>
	<description>Hilangkan Syirik Tegakkan Tauhid</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2009 06:38:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wahonot.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/77db437b186e30e4efce090a46e1ac13?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Al Ghuroba' meniti jejak generasi terbaik</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kalau Mau Pacaran, yang “Islami” Saja !!!</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/11/04/kalau-mau-pacaran-yang-%e2%80%9cislami%e2%80%9d-saja/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/11/04/kalau-mau-pacaran-yang-%e2%80%9cislami%e2%80%9d-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 06:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambangwahono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fikh]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun nafs]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran islami]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatunnafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1325</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

Kata sebagian orang : “Sulit untuk menjelaskan sesuatu yang sudah jelas”. Istilah pacaran adalah sebuah istilah yang sudah sangat akrab ditelinga serta lengket dalam pandangan mata. Namun saya masih agak kesulitan untuk mendefinisikannya. Mudahan-mudahan tidak salah kalau saya katakan bahwa setiap kali istilah ini disebut maka yang terlintas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1325&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh: Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kata sebagian orang : <strong>“Sulit untuk menjelaskan sesuatu yang sudah jelas</strong>”. Istilah pacaran adalah sebuah istilah yang sudah sangat akrab ditelinga serta lengket dalam pandangan mata. Namun saya masih agak kesulitan untuk mendefinisikannya. Mudahan-mudahan tidak salah kalau saya katakan bahwa setiap kali istilah ini disebut maka yang terlintas dibenak kita adalah sepasang anak manusia –tertama kawula muda dan para remaja- yang tengah dilanda cinta dan dimabuk asmara, saling mengungkapkan rasa sayang, cinta dan rindu, yang kemudian akhirnya biduk ini akan menuju pada pantai pernikahan. Inilah paling tidak anggapan dan harapan sebagian pelakunya. Namun ada satu hal yang banyak luput dari banyak kalangan bahwa segala sesuatu itu ada etika dan aturannya, kalau masuk terminal saja ada aturannya, akankah masalah cinta yang kata sebagian orang “suci” ini tanpa aturan ???<span id="more-1325"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cinta Tabiat Anak Manusia: Jangan Dibunuh, Jangan pula Diumbar!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Alloh Ta’ala berfirman :</p>
<p style="text-align:justify;">زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang dia ingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia. Dan disisi Alloh lah tempat kembali yang baik.”</p>
<p style="text-align:justify;">(QS. Ali Imron  : 14)</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah tabiat dan fithroh kita sebagai anak Adam. Anak cinta orang tua, orang tua cinta anak, kita cinta pada uang, kaum hawa cinta pada perhiasan  de el el. Begitu pula cinta pada lawan jenis, semua diantara kita yang laki-laki mencintai wanita dan yang wanita cinta laki-laki, barang siapa yang tidak memilikinya maka dipertanyakan kejantanan dan kefemininannya. <strong><em>Setuju nggak ???</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bila si Cinta dengan Gaun Merah Jambu itu Hadir!!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak tahu persis sejak kapan warna merah jambu dan daun waru dinobatkan sebagai lambang cinta, apapun jawabannya, itu tidak terlalu penting bagi kita. Namun yang sangat penting adalah bahwasannya bila masa kanak-kanak itu telah beranjak pergi meninggalkan kehidupan kita, lalu kitapun menyandang predikat baru sebagai remaja untuk menyongsong kehidupan manusia dewasa yang mandiri. Ada sesuatu yang terasa hadir mengisi indahnya hidup ini. Itulah cinta. Yang jelas cinta ini bukan lagi cinta pada mainan atau jajan bungkusan anak-anak, namun cinta pada sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Saat itu tersenyumlah seraya berucap : “<strong>Selamat datang cinta</strong>.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kasihan si Cinta: Sering Dijadikan kambing Hitam!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Cinta adalah sesuatu yang agung, Dengan cinta seorang yang pengecut menjadi pemberani, orang yang bakhil menjadi dermawan, yang bodoh menjadi pintar, menjadikan orang pandai merangkai kata dan tulisan. Begitulah kira-kira yang diungkapkan para dokter cinta. Oleh karena jangan salahkan cinta, kasihan dia. Bukankah karena cinta seseorang bisa masuk sorga. Suatu hari ada seseorang bertanya kepada Rosululloh tentang kapan terjadi hari kiamat, namun beliau malah balik bertanya : “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?” Dia menjawab : .”Cinta Alloh dan Rosul Nya.” maka beliaupun menjawab : “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Maka Anas bin Malik perowi hadits ini pun berseru gembira : “Demi Alloh, Saya mencintai Rosululloh, Mencintai Abu Bakr dan Umar, maka saya berharap untuk bisa bersama mereka disurga,” (Bukhori Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Cinta itu akan menjadi sangat agung kalau diletakkan pada tempatnya, namun bisa menjadi bencana kalau disalah gunakan. Oleh karena itu berhati-hatilah.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cinta kepada Alloh: Rabb Semesta Alam</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Cukuplah bagi kita merenungi ayat berikut :</p>
<h3 style="text-align:justify;">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ</h3>
<p style="text-align:justify;">“Sesunguhnya orang-orang yang beriman yaitu adalah orang-orang yang ketika disebut nama Alloh maka bergetarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya maka bertambahlah iman mereka karenanya. Dan kepada Robbnya mereka bertawakkal.”</p>
<p style="text-align:justify;">(Al Anfal : 2)</p>
<p style="text-align:justify;">Bertanyalah pada diri kita masing-masing, hatimu bergetar saat disebut nama-Nya ataukah nama nya ???  “Mintalah fatwa pada dirimu sendiri” begitulah kata Rosululloh.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah cinta ini yang menjadikan Handlolah meninggalkan malam pertamanya untuk pergi perang lalu meninggal dalam keadaan masih junub ? Bukankah cinta ini yang menjadikan Bilal bin Robah mampu menahan derita yang tak terkira ? begitu pulalah Ammar bin Yasir, Kholid bin Walid dan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cinta Kepada Rasululloh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Lelaki agung itu, yang meskipun beliau sudah meninggal 14 abad yang lalu , namun masih kita rasakan cinta dan kasihnya. Lihatlah gambaran Al Qur’an ini :</p>
<h3 style="text-align:justify;">لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</h3>
<p style="text-align:justify;">“Sungguh telah datang pada kalian, seorang rosul dari kalangan kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keselamatan bagi kalian, amat belas kasihan, lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”</p>
<p style="text-align:justify;">(At Taubah : 128)</p>
<p style="text-align:justify;">oleh karena itu tidak mengherankan kalau beliau bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sehingga saya lebih dia cintai dari pada cintanya pada orang tuanya, anak-anaknya dan semua manusia.”(Bukhori Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Cinta pada sunnahnya, itulah bentuk cinta pada beliau. Sangat ironis sekali ummat islam sekarang yang mana setiap kali disebut sunnah beliau, maka mereka dengan langsung memprotes : “Kan Cuma sunnah ???” lalu kalau tidak sunnah beliau mau sunnah siapa ???</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Alloh :</p>
<p style="text-align:justify;">“Sungguh ada bagi kalian pada diri Rosululloh suri tauladan yang baik.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cinta karena Alloh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akhi, Ukhti, saya mencintaimu karena Alloh.” Begitulah Rosululloh mengajarkan ummatnya untuk cinta ada orang lain karena Alloh, dalam artian kalau orang itu semakin membuat kita dekat pada Nya maka cintailah dia, dan begitu pula sebaliknya kalau ada orang yang semakin menjauhkan kita dari Nya, maka jauhilah dia. Bukankah orang yang melakukannya akan merasakan manisnya iman dan akan mendapatkan mimbar cahaya yang diingingkan oleh para Nabi dan Syuhada’ ???</p>
<p style="text-align:justify;">Mencintai tokoh idola anda, juga lakukan atas dasar cinta pada Alloh dan Rosulnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Itulah Agungnya Cinta: Jangan Diperkosa!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Pemerkosaan arti cinta” -maaf kalau kalimat ini kedengaran kasar- namun itulah kenyataannya. Betapa banyak wanita yang menyerahkan mahkota hidupnya kepada orang yang belum berhak lalu dia berucap ini sebagai tanda cintaku padanya, sebaliknya betapa banyak kaum laki-laki yang harus melakukan kemaksiatan atas nama cinta. Subhanalloh !!! akankah cinta kita pada Alloh Dzat yang Maha Agung dikalahkan oleh cinta pada seseorang yang berasal dari air mani yang kotor, saat hidupnya selalu membawa kotoran, dan saat meninggal pun akan berubah menjadi sesuatu yang sangat menjijikkan ??? Malulah pada Nabiyulloh Yusuf Alaihis Salam, yang mampu mempertahankan kehormatannya dihadapan seorang wanita cantik, kaya raya, bangsawan lagi. Jangan engkau berkata : “Diakan seorang Nabi ?.” karena kisah serupa pun dialami oleh  Abdur Rohman bin Abu Bakr, Muhammad al Miski dan lainnya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>TIDAK!!! Islam Tidak Mengharamkan Cinta, Islam Hanya Mengaturnya!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Islam sebagai agama paripurna, tidak membiarkan satupun masalah tanpa aturan. Lha wong cara berpakaian, mandi, buang air dan hal-hal kecil lainnya ada aturanya, maka bagaimana mungkin urusan cinta yang menjadi keharusan hidup manusia normal akan tanpa aturan. Itu mustahil. Benarlah Salman Al Farisi tatkala ditanya : “Apakah nabimu sudah mengajarkan segala sesuatu sampai masalah adab buang air besar ? maka beliau menjawab : Ya, Rosululloh sudah mengajarkannya, beliau melarang kami untuk menghadap dan membelakangi kiblat dan memerintahkan kami untuk beristinjak dengan tiga batu dan melarang kami untuk beristinjak dengan kotorang dan tulang.”</p>
<p style="text-align:justify;">Alloh Berfirman :</p>
<h3 style="text-align:justify;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</h3>
<p style="text-align:justify;">“Pada Hari ini telah kusempurnakan agama kalian, dan telah Ku sempurnakan nikmatku kepadamu dan Aku rela islam sebagai agamamu.”</p>
<p style="text-align:justify;">(Al Maidah : 3)</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu kalau mau bercinta alias pacaran, saya tawarkan sebuah ‘pacaran islami’ biar berpahala. Setuju nggak ??? selamat mencoba !!!</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa aturan yang harus dipenuhi kalau mau berpacaran yang ‘islami’ yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.Menutup aurot</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote><p>يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا</p>
<p>Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min “Hendaknya mereka <strong>menjulurkan pakaiannya keseluruh tubuh mereka</strong>” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu.”</p>
<p>(QS. Al Ahzab : 59)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bahkan saking pentingnya masalah ini, Rosululloh juga mengaturnya walaupun antar jenis.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Said Al Khudri berkata  : “Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote><p>“Janganlah seorang laki-laki itu melihat aurat laki-laki dan jangan seorang wania melihat aurat wanita.”</p>
<p>(H.R. Muslim)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.Menundukkan pandangan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote><p>قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>“Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka serta menjaga kemaluan mereka.”</p>
<p>“Dan katakan kepada para wanita mu’minah, agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka dan menjaga farji mereka.”</p>
<p>(QS. An Nur : 30,31)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dari Jarir bin Abdillah berkata : “Saya bertanya pada Rosululloh tentang<strong> pandangan yang mendadak tak sengaja</strong>, maka beliau memerintahkanku untuk <strong>memalingkan pandangan</strong> itu.” (Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.Tidak bersolek ala jahiliyah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Firman Alloh Ta’ala :</p>
<h3 style="text-align:justify;">وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى</h3>
<p style="text-align:justify;">“Dan <strong>menetaplah kalian dalam rumah-rumah kalian</strong>, dan janganlah bersolek seperti bersoleknya orang-orang jahiliyah yang dahulu.”</p>
<p style="text-align:justify;">QS. Al Ahzab : 33)</p>
<blockquote><p>Dari Abu Huroiroh berkata : “Rosululloh bersabda : “Ada dua golongan manusia ahli neraka yang saya belum pernah melihatnya, yang pertama : orang-orang yang memegang cambuk untuk memukul orang lian, yang kedua : Para<strong> wanita yang berpakaian tapi telanjang</strong>, mereka berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak akan pernah masuk surga dan tidak akan mendapatkan bau surga, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.”</p>
<p>(Muslim)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Alangkah meruginya orang yang semacam ini !!!</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.Ada pembatas antara laki-laki dan wanita</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Firman Alloh Ta’ala :</p>
<h3 style="text-align:justify;">وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ</h3>
<p style="text-align:justify;">Dan apabila kalian meminta sesuatu pada mereka (para istri Rosululloh ) maka<strong> mintalah dari balik hijab</strong>. Karena yang demikan itu lebih suci bagi hati kalian serta bagi hati mereka.”</p>
<p style="text-align:justify;">(QS.Al Ahzab : 53)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.Jangan berdua-duaan, karena yang ketiganya adalah setan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah kira-kira bunyi hadits Rosululloh riwayat imam Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Huroiroh dengan sanad hasan</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.Jangan lembutkan ucapan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Firman Alloh Ta’ala :</p>
<h3 style="text-align:justify;">يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا</h3>
<p style="text-align:justify;">“<strong>Janganlah kalian (Para wanita) melembutkan ucapan</strong>, sehingga akan rakus orang-orang yang punya penyakit hati, namun ucapkanlah yang baik.” (QS. Al Ahzab : 32)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7.Kulitmu masih haram bagiku</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ma’qil bin Yasar berkata : Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote><p>“Seandainya <strong>ditusuk</strong> pada <strong>kepala</strong> salah seorang <strong>kalian</strong> dengan <strong>jarum besi panas</strong>, maka itu<strong> lebih baik</strong> dari pada <strong>menyentuh wanita</strong> yang tidak halal baginya.”</p>
<p>(HR. Thobroni, Lihat As Shohihah : 226)</p></blockquote>
<blockquote>
<ul>
<li>Saudaraku, k<strong>alau anda mampu memenuhi syarat ini</strong>, <strong>teruskan pacaran anda</strong>.</li>
<li>Namun kalau tidak, maka pilihlah engkau lebih mencintai dia ataukah Alloh yang telah menciptakanmu, memberimu rizqi, melimpahkan kasih sayangNya padamu  dan memberimu hidayah menjadi orang islam ???</li>
<li>Segera tinggalkan transaksi harammu itu, sebelum kemurkaan Alloh benar-benar datang. Atau saya punya usul , bagaimana kalau engkau cepat-cepat menikah, itupun kalau engkau sudah siap. Bagaimana ???</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>STOP!! Ini Bukan Area Anda! Jangan Berzina!!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jangan ada yang berfikir bahwasannya yang terlarang dalam islam hanyalah zina dalam pengertian masuknya timba dalam sumur sebagaimana bahasa hadits Rosululloh. Namun yang terlarang adalah semua hal yang mendekati pada perzinaan tersebut. Perhatikanlah firman Alloh :</p>
<blockquote><p><em>“Janganlah kalian <strong>mendekati</strong> zina”</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Juga Sabda Rosululloh saw :</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya Alloh telah menetapkan pada setiap anak adam bagianya dari zina yang pasti akan menemuinya, zinanya mata adalah memandang, zinanya lisan adalah berucap, jiwa dengan berharap dan berkhayal, yang semua itu dibenarkan atau didustakan oleh kemaluan.”</p>
<p>(Bukhori Muslim)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hamil dulu baru nikah atau nikah dulu baru hamil?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hamil setelah pernikahan yang sah adalah sebuah kebanggaan dan keagungan, semua orang yang memasuki biduk pernikahan pasti menginginkan kehamilan istrinya. Banyak klinik yang  mengaku bisa mengobati kemandulan adalah salah satu buktinya.</p>
<blockquote><p>Di sisi lain, wanita yang hamil<strong> tanpa tahu harus kemana dia harus memanggil “Suamiku”</strong> akan sangat gelisah.</p>
<p>Masyarakat yang terkadang <strong><em>dholim</em></strong> akan bisa dengan segera memaafkan<strong> laki-laki </strong>yang berbuat <strong>kurang ajar itu</strong>, namun<strong> tidak terhadap wanita</strong>. Dia akan <strong>menanggung aib</strong> itu sepanjang zaman dan akan terkenallah ia sebagai <strong>wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya</strong>.</p>
<p>Begitulah yang dikatakan oleh Syaikh Ali Ath Thonthowi.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau dia menikah kelak, bukankah suaminya akan dengan mudah mengatakan : “Sudah berapa laki-laki yang tidur denganmu sebelum menikah denganku ?</p>
<p style="text-align:justify;">Anak yang terlahir, dia akan terlahir sebagai anak yang tidak di harapkan kehadirannya, Tidak ada sentuhan kasih dan sayang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sisi Fiqh, Imam Ahmad bin Hambal dan lainnya mengatakan bahwa wanita hamil dari hasil perzinaan tidak boleh dinikahi selama hamil, dan kalau sudah terlanjur dinikahi maka harus diadakan pernikahan ulang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Peringatan Penting Bagi yang masih Punya hati…</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anda kepingin mendapatkan seorang pasangan hidup yang baik, setia, sholih dan sholihah ??? perhatikanlah resep Ilahi ini :</p>
<p style="text-align:justify;">لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ</p>
<p style="text-align:justify;">“Wanita yang jelek untuk laki-laki yang jelek, lelaki yang jelek untuk wanita yang jelek, begitu pula dengan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.”</p>
<p style="text-align:justify;">(QS. An Nur : 26)</p>
<p style="text-align:justify;">Kata para ulama’ : “Balasan itu sejenis dengan amal perbuatannya.”</p>
<blockquote>
<ul>
<li>Akan menjadi sebuah <strong>mimpi disiang bolong</strong> kalau anda menginginkan <strong>istri seperti Fathimah binti Abdul Malik</strong> kalau anda <strong>tidak bisa menjadi Umar bin Abdul Aziz</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jangan pula <strong>mimpi bersuamikan Ali bin Abi Tholib</strong> kalau engkau <strong>tidak menjadi Fathimah binti Muhammad</strong>. Perbaikilah dirimu dahulu sebelum engkau berharap mendapatkan pasangan hidup yang engkau idamkan !!!</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan Katakan ini!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jangan engkau berkata padaku :</p>
<blockquote><p>“Aku berpacaran <em>kan</em> untuk <strong>tahap penjajagan</strong>, biar saling memahami karakter masing-masing, sehingga tidak akan terjadi penyesalan setelah memasuki maghligai pernikahan, karena bagaimanapun juga kegagalan dalan berpacaran jauh lebih ringan daripada kegagalan dalam pernikahan.”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jangan engkau katakan itu padaku, karena itu hanyalah <strong>topengmu belaka</strong>.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Tanyalah pada dirimu sendiri apakah engkau selama pacaran, mencoba untuk memahami masing-masing dan belajar untuk menjadi suami istri yang baik?</li>
<li>Ataukah yang engkau lakukan adalah berusaha menjadi baik saat berada dekat sang pacar? Bukankah ini sebuah <strong>penipuan kepribadian</strong> ??? <strong>persis <em>kayak</em> penjual yang takut ditinggal pembeli</strong>, yang mana ia harus berusaha untuk tampil lebih baik dari yang sebenarnya.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Lalu apa yang engkau sisakan nanti kalau memasuki dunia pernikahan, bukankah semuanya sudah engkau rasakan ? saling memadu rasa kasih sayang, mengungkapkan rasa cinta, berjalan bareng, nonton bareng, rekreasi bareng, bahkan mungkin hubungan suami istripun sudah dilakukan. Lalu apa yang akan engkau sisakan setelah menikah ??? malam pertamamu akan terasa hambar, tidak ada yang beda pada malam itu karena semua sudah dilakukan, bahkan mungkin akan terasa pahit, karena selama ini engkau berhubungan bukan cuma berdua, tapi bertiga, Yah …. Engkau bersama setan yang selalu membumbui semua kemaksiatan menjadi kenikmatan.</li>
</ul>
<blockquote><p><em><strong>Bandingkan dengan yang malam pertamanya adalah benar-benar malam pertama. Dan bulan madunya benar benar semanis madu. Ah !!! saya tidak mau terlalu jauh mengenang masa-masa indah itu ….. kasihan yang belum nikah, he… he …</strong></em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan Anggap Ini Keras!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada diantara kalian yang berkata : “<strong>ustadznya terlalu keras</strong>.”</p>
<p style="text-align:justify;">Wahai saudaraku seiman !!! cobalah renungkan kembali ayat-ayat dan hadits diatas dengan pikiran jernih, kepala dingin dan penuh rasionalitas, lalu ambilah kesimpulan, manakah yang keras ??? <strong>bukankah itu semua tuntutan syariat agama yang kita anut bersama </strong>?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau jangan-jangan engkau sedang kena penyakit <em>mag</em> sehingga <strong>nasi yang lembek pun terasa keras</strong>, itulah kemungkinan yang paling dekat. Hatimu sedang berpenyakit, sehingga engkau merasa sakit dan keras dengan sesuatu yang sebenarnya lembek. Bukankah Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote><p>“Saya diutus untuk membawa syariat yang lurus dan mudah.”</p>
<p>(Bukhori Muslim)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dipenghujung tulisan ini, saya teringat bahwa beberapa hari lagi kita memasuki bulan Romadlon. Belajar dari orang yang berpuasa yang dia menahan lapar dahaga sehari penuh, namun saat berbuka, akan terasa sangat nikmat air putih meskipun tanpa gula.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah puasa panjang syahwat kita, yang akan engkau rasakan nikmatnya tatkala engkau berbuka dimaghligai pernikahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat melalui puasa panjang ini laluilah dengan :</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak berdzikir, menyebut kebesaran Ilahi</p>
<p style="text-align:justify;">Sabar dan sholatlah</p>
<p style="text-align:justify;">Ikutilah kajian-kajian keagamaan</p>
<p style="text-align:justify;">Bertemanlah dengan orang-orang sholih yang akan menolongmu tegar dalam jalan Nya</p>
<p style="text-align:justify;">Sibukkan diri dengan aktivitas surgawi</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau masih kebelet juga, perbanyaklah puasa karena sesunguhnya puasa adalah benteng yang kokoh.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya Alloh, tunjukkanlah kepada kami sebuah kebenaran itu sebagai sesuatu yang benar dan berilah kami kekuatan untuk menjalankannya. Dan tunjukkanlah kepada kami sebuah kesalahan itu sebagai sesuatu yang salah dan berilah kami kekuatan untuk meninggalkannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wa akhiru da’wana ‘anil Hamdi lillahi Robbil Alamin.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: www.ahmadsabiq.com</p>
<p style="text-align:justify;">Diupload oleh www.wahonot.wordpress.com</p>
<p style="text-align:justify;">Kunjungi blog kami yang lain;</p>
<p style="text-align:justify;">www.tokoherbalonline.wordpress.com</p>
<p style="text-align:justify;">www.pustakaalbayaty.wordpress.com</p>
Posted in Adab, Fikh, keluarga, Muamalah, Muslimah, Renungan, Tazkiyatun nafs Tagged: Adab, akhlak, keluarga, Muslimah, nasehat, Pacaran, pacaran islami, Renungan, tazkiyatunnafs <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1325/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1325&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/11/04/kalau-mau-pacaran-yang-%e2%80%9cislami%e2%80%9d-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bambangwahono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Haji untuk Diri Sendiri Dulu, Baru Melakukan Haji untuk Orang Lain</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/11/04/haji-untuk-diri-sendiri-dulu-baru-melakukan-haji-untuk-orang-lain/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/11/04/haji-untuk-diri-sendiri-dulu-baru-melakukan-haji-untuk-orang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 06:29:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambangwahono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikh]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji badal]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1323</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Pertanyaan ke 212: Kami ingin sekali mengetahui apa saja syarat-syarat seseorang agar boleh menghajikan orang lain?
Jawaban:
Orang yang mengganti atau mewakili haji orang lain harus telah melakukan ibadah haji untuk dirinya sendiri jika ia telah berkewajiban menunaikannya. Sebab ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan, “Labbaik ‘an Syubrumah (Aku memenuhi panggilanmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1323&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#008000;">Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertanyaan ke 212</strong>: Kami ingin sekali mengetahui apa saja syarat-syarat seseorang agar boleh menghajikan orang lain?<span id="more-1323"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawaban</strong>:</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang mengganti atau mewakili haji orang lain harus telah melakukan ibadah haji untuk dirinya sendiri jika ia telah berkewajiban menunaikannya. Sebab ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendengar seseorang mengucapkan, “Labbaik ‘an Syubrumah (Aku memenuhi panggilanmu atas nama Syubrumah), maka beliau bersabda, “Siapa Syubrumah itu?” Lelaki itu menjawab, “Dia saudaraku –atau kerabatku-”. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>lantas bertanya, “Apakah engkau sudah menunaikan haji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab, ”Belum.” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>lalu mengatakan, “Berhajilah untuk dirimu sendiri, lalu hajikanlah untuk Syubrumah.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2755-haji-untuk-diri-sendiri-dulu-baru-melakukan-haji-untuk-orang-lain.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">ابْدَأْ بِنَفْسِكَ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Mulailah dari dirimu sendiri</em>.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2755-haji-untuk-diri-sendiri-dulu-baru-melakukan-haji-untuk-orang-lain.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga bukanlah merupakan cara pandang yang benar bila seseorang melakukan haji untuk orang lain, sementara dirinya sendiri belum menunaikan haji yang wajib.</p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama mengatakan, “Kalau seseorang melakukan haji untuk orang lain, sedangkan ia sendiri belum menunaikan haji untuk dirinya, maka ibadah haji yang ia kerjakan untuk orang lain akan jatuh pada dirinya sendiri yang bertindak sebagai pengganti haji orang lain. Ia pun harus mengembalikan semua biaya dan perbekalan haji kepada orang yang ia wakili.”</p>
<p style="text-align:justify;">Syarat-syarat lainnya telah dikemukakan sebelumnya, yaitu harus seorang muslim, berakal dan <em>mumayyiz</em> (dapat membedakan yang baik dan buruk) dan itu merupakan syarat wajib untuk setiap ibadah.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2755-haji-untuk-diri-sendiri-dulu-baru-melakukan-haji-untuk-orang-lain.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>–Demikian fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin </em><em>rahimahullah-</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat yang mengatakan tidak boleh seseorang menghajikan orang lain sampai ia berhaji untuk dirinya sendiri adalah pendapat yang dipilih oleh ulama Syafi’iyyah, ulama Hambali dan kebanyakan para ulama. Pendapat ini juga termasuk pendapat Ibnu ‘Abbas dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat beliau. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Abbas tentang Syubrumah yang dikemukakan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun sebagian ulama lainnya yaitu Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa boleh saja menghajikan orang lain walaupun belum menunaikan haji untuk diri sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat kedua ini dinilai kurang tepat. Yang lebih tepat, hendaklah seseorang menunaikan haji untuk dirinya sendiri setelah itu baru menghajikan orang lain agar terlepas dari perselisihan ulama yang ada. Dan juga pendapat pertama dinilai lebih tepat karena pendapat sahabat Ibnu ‘Abbas lebih utama diikuti dari pendapat lainnya lebih-lebih tidak ada sahabat lainnya yang menyelisihi pendapat beliau. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi nasehat pada kita, “<em>Mulailah dari dirimu sendiri</em>”, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2755-haji-untuk-diri-sendiri-dulu-baru-melakukan-haji-untuk-orang-lain.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu a’lam bish showab.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>sumber:rumaysho.com</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Diupload oleh : www.wahonot.wordpress.com</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kunjungi blog kami yang lain: www.pustakaalbayaty.wordpress.com</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>www.tokoherbalonline.wordpress.com</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
Posted in Fikh, keluarga, Muamalah, Muslimah Tagged: Haji, haji badal, ibadah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1323/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1323&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/11/04/haji-untuk-diri-sendiri-dulu-baru-melakukan-haji-untuk-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bambangwahono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Anak Tidak Menjadi TERORIS</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/11/03/agar-anak-tidak-menjadi-teroris/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/11/03/agar-anak-tidak-menjadi-teroris/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 03:54:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambangwahono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun nafs]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1320</guid>
		<description><![CDATA[Betapa hancur hati kedua orang tua, tatkala dikabarkan kepada mereka ternyata anaknya &#8211; yang selama ini dikenal sebagai anak baik-baik dan pendiam &#8211; terciduk oleh aparat kepolisian karena terlibat jaringan terorisme. Orang tua yang lain pun shock begitu mendengar anaknya tewas dalam aksi peledakan. Sementara itu, teman-temannya serasa tidak percaya mendengar berita bahwa anak yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1320&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Betapa hancur hati kedua orang tua, tatkala dikabarkan kepada mereka ternyata anaknya &#8211; yang selama ini dikenal sebagai anak baik-baik dan pendiam &#8211; terciduk oleh aparat kepolisian karena terlibat jaringan terorisme. Orang tua yang lain pun <em>shock </em>begitu mendengar anaknya tewas dalam aksi peledakan. Sementara itu, teman-temannya serasa tidak percaya mendengar berita bahwa anak yang selama ini mereka kenal sebagai anak baik, supel, dan ramah, ternyata terlibat aksi terorisme!!<span id="more-1320"></span></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Demikianlah, betapa menyedihkan, ternyata jaringan terorisme telah berhasil menyeret anak-anak baik dari putra-putra kaum muslimin dalam aksi biadab yang bertentangan dengan agama dan akal sehat tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Tentunya, kita bertanya-tanya bagaimana anak-anak muslimin bisa terseret jaringan terorisme? Melalui pintu apa terorisme bisa masuk ke alam pikiran mereka sehingga mereka tertarik dan mau mengikutinya?</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Pembaca, kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah …</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Akar munculnya terorisme adalah dari paham sempalan <em>khawarij</em>. Suatu paham ekstrim dalam beragama, yang membuahkan sikap merasa benar sendiri, kemudian serampangan dalam memahami dan mengamalkan dalil-dalil syari’at lepas dari bimbingan para ‘ulama, yang berujung kepada pengkafiran semua pihak yang bertentangan dengan pendapatnya, termasuk mengkafirkan pemerintah kaum muslimin.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Gerakan terorisme yang pertama kali muncul dalam sejarah Islam adalah di akhir masa Khilafah ‘Utsman bin ‘Affan <em>Radhiyallah ‘anhu</em><em>, </em>yang diprakarsai oleh seorang Yahudi, Abdullah bin Saba`, dengan menampilkan slogan keadilan dan benci kezhaliman. Sebagai korban pertama kali adalah sang khalifah Utsman bin ‘Affan sendiri! Kemudian semakin gencar pada masa Kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib <em>Radhiyallah ‘anhu</em>, yang beliau sendiri pun menjadi korban aksi terorisme tersebut. Merekalah kelompok sempalan <em>khawarij</em>, yang tumbuh menggerogoti dan menghancurkan Islam. Di atas paham mengkafirkan orang-orang yang bertentangan dengan mereka, dan berlanjut menghalalkan darah mereka. Terutama pemerintah muslimin, yang telah mereka vonis sebagai pemerintah kafir. Itu semua mereka lakukan atas nama agama.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em> </em>jauh-jauh hari telah memberitakan kemunculan kelompok sesat ini, lengkap dengan ciri-ciri dan sifat-sifatnya. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em> </em>bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>سَيَخْرُجُ فيِ آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ البَرِيَّةِ يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em>Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda-muda umurnya, pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al Qur’an, tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah menembus binatang buruannya</em>. <strong>[HR. Al Bukhari </strong>3611, 5057, 6930;<strong> Muslim</strong> 1066<strong>]</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em> </em>menyifati mereka sebagai:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَ الْخَلِيْقَةِ</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em>Mereka adalah sejahat-jahat makhluk. </em><strong>[HR. Muslim </strong>1067<strong>]</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Maka apabila pada anak-anak kaum muslimin ada kecenderungan mengkritisi pemerintah muslimin, selalu menentang kebijakan pemerintah muslimin, bahkan berani memvonis kafir terhadap pemerintah muslimin tanpa bimbingan para ‘ulama, maka hati-hati dan waspadalah! Ini merupakan bibit paham <em>takfir</em> (mudah mengkafirkan kaum muslimin), yang merupakan benih awal untuk seseorang berani menghalalkan darah pemerintah muslimin dan siapapun yang mereka anggap membela dan mendukung pemerintah. Pada ujungnya, mengantarkan mereka untuk berani melakukan aksi kekerasan yang dilabeli sebelumnya sebagai jihad. Inilah awal mula seorang terseret dalam aksi terorisme.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em>…</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Kesalahfatalan berikutnya, yang pada ujungnya menghantarkan anak-anak kaum muslimin untuk tertarik dengan gerakan terorisme adalah semangat berjihad yang besar dan kebencian yang besar terhadap orang-orang kafir, namun tidak disertai dengan pemahaman yang benar tentang apa itu jihad, bagaimana aturan Islam tentang masalah jihad, serta orang kafir manakah yang boleh untuk diperangi?</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Tidak diragukan lagi, bahwa jihad merupakan puncak Islam yang tertinggi. Orang-orang kafir adalah musuh-musuh Islam yang harus dibenci dan diperangi oleh kaum muslimin. Namun, dalam agama Islam ada aturan dan tuntunan yang harus dipahami dengan benar dan tidak boleh dilanggar. Hal inilah yang tidak dipahami dengan baik oleh mereka yang terlibat dalam aksi terorisme tersebut. Karena memang di antara sifat dan ciri-ciri mereka adalah pendek akalnya dan <em>cupet</em> (Bhs. Jawa: dangkal) cara pandangnya. Tak heran bila aksi terorisme (baca: kebodohan) yang mereka lakukan tersebut merusak citra Islam dan mencemarkan nama baik kaum muslimin, terkhusus lagi nama baik orang-orang yang istiqamah di atas agamanya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Sebagai contoh, bahwa dalam syari’at Islam tidak semua orang kafir boleh dibunuh.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Kafir <em>Dzimmi</em>, Kafir <em>Mu’ahad</em>, Kafir <em>Musta’min</em> dalam Islam jiwanya terlindungi tidak boleh dibunuh. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em> </em>bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em>Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad</em>, <em>maka dia tidak akan mencium aroma wangi al Jannah (surga). (Padahal) sesungguhnya aroma wangi al jannah itu didapati (tercium) sejauh perjalanan 40 tahun.</em> <strong>[HR. Al-Bukhari </strong>3166, 6914;<strong> An-Nasa`i </strong>4764;<strong> Ibnu Majah </strong>2736;<strong> Ahmad </strong>V/36<strong>]</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Adapun orang kafir yang boleh diperangi dan dibunuh adalah <em>kafir harby</em>, yaitu orang-orang kafir yang memerangi muslimin, tidak ada antara muslimin dengan mereka perjanjian, <em>dzimmah</em>, tidak pula jaminan keamanan.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Kita perlu waspada pula, apabila seorang mulai kagum dan mengidolakan tokoh-tokoh teroris semacam Usamah bin Laden, Aiman Azh-Zhawahiri, seraya menganggapnya sebagai tokoh ‘ulama besar yang diikuti ucapan dan fatwa-fatwanya. Sebagai contoh, pelaku peledakan bom Bali yang bernama Imam Samudra. Dia menganggap tokoh-tokoh teroris panutannya diatas sebagai ‘ulama dan menyejajarkannya dengan para ‘ulama besar Ahlus Sunnah. Padahal sifat dasar para <em>khawarij </em>pelaku aksi teror tersebut adalah sama sekali lepas dari bimbingan para ‘ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil syari’at.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Lebih rumit lagi, orang-orang yang terlibat dalam jaringan terorisme, ternyata bukanlah orang-orang yang jauh dari agama. Sebaliknya mereka adalah orang yang zhahirnya sangat dekat kepada agama, menampakkan syi’ar-syi’ar Islam dalam penampilan dan pakaian mereka, dan sangat rajin beribadah. Bahkan aksi teror yang mereka lakukan tersebut diyakini dalam rangka memperjuangkan Islam dan merupakan bagian dari ajaran Islam!!</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em>…</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Sikap komitmen terhadap ajaran agama, berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah merupakan sikap yang harus kita jalankan. Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menjauh atau apriori terhadap Islam dan bimbingan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em>. Namun sikap berpegang teguh terhadap agama tersebut harus berdasarkan manhaj (metode pemahaman) yang benar, dengan bimbingan para ‘ulama sejati dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. <em>Alhamdulillah </em>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em> </em>telah meninggalkan umatnya di atas petunjuk yang sangat jelas. Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em> </em>menegaskan:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>وَايْمُ اللهِ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em>Demi Allah, aku tinggalkan kalian di atas (agama) yang terang benderang. Kondisi malam dan siangnya sama. </em><strong>(HR. Ibnu Majah </strong>no.5.<strong> </strong><em>Ash-Shahihah </em>no.688<strong>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em> </em>juga telah menggariskan manhaj yang benar dalam memahami dan mengaplikasikan agama ini, yaitu dengan sabda beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em>:</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتَلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em>Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), dia akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah para khulafa’ rasyidin sepeninggalku. </em><em>Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.</em> <strong>(Abu Dawud </strong>4607, <strong>At-</strong>Tirmidzi 2676. <em>Ash-Shahihah </em>no. 937<strong>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em> </em>juga bersabda tentang jalan yang benar dalam memahami Islam:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em>Jalan/Prinsip yang Aku (Rasulullah) berada di atasnya dan juga para shahabatku. </em><strong>(At-Tirmidzi </strong>2641, <strong>Ath-Thabarani </strong>I/256. <em>Ash-Shahihah </em>203, 204<strong>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Jika kita tidak memperhatikan prinsip di atas, akan menyebabkan salah dalam memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil agama yang membuahkan sikap ekstrim dan menyimpang dalam beragama.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em><em> </em>telah mencela sikap ekstrim tersebut dalam sabda beliau:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em>Binasalah orang-orang yang ekstrim, binasalah orang-orang yang ekstrim, binasalah orang-orang yang ekstrim.</em> <strong>(Muslim </strong>2670)</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Sumber:http://www.assalafy.org</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Duopload oleh www.wahonot.wordpress.com</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Kunjungi blog kami yang lain:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">www.tokoherbalonline.wordpress.com</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">www.pustakaalbayaty.wordpress.com</p>
Posted in Aqidah, keluarga, Manhaj, Muamalah, Muslimah, Renungan, Tazkiyatun nafs  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1320/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1320&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/11/03/agar-anak-tidak-menjadi-teroris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bambangwahono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Percaya Ramalan Bintang</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/25/jangan-percaya-ramalan-bintang/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/25/jangan-percaya-ramalan-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 03:47:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambangwahono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadist]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan bintang]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1318</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah
Horoskop atau mudahnya kita sebut ramalan nasib seseorang dengan melihat bintang kelahirannya, termasuk satu kolom atau rubrik yang laris manis di surat kabar, tabloid, ataupun majalah. Bahkan bisa ditanyakan lewat sms ke paranormal tertentu yang memasang iklan di sejumlah media. Yang berbintang pisces, pantasnya berjodoh dengan yang berbintang A. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1318&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#008000;">Oleh: Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Horoskop</em> atau mudahnya kita sebut ramalan nasib seseorang dengan melihat bintang kelahirannya, termasuk satu kolom atau rubrik yang laris manis di surat kabar, tabloid, ataupun majalah. Bahkan bisa ditanyakan lewat sms ke paranormal tertentu yang memasang iklan di sejumlah media. Yang berbintang <em>pisces</em>, pantasnya berjodoh dengan yang berbintang A. Keberuntungan di tahun ini demikian dan demikian… Dalam waktu-waktu dekat ini ia jangan bepergian keluar kota karena bahaya besar mengancamnya di perjalanan. Untuk yang berbintang <em>sagitarius</em>, tahun ini lagi apes… Tapi di penghujung tahun akan untung besar, maka bagusnya ia usaha begini dan begitu… Cocoknya ia mencari pasangan <em>gemini</em>. Demikian contoh ramalan yang ada!<span id="more-1318"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Anehnya, ramalan dusta seperti ini banyak yang percaya. Bahkan di antara mereka bila melihat surat kabar atau majalah, rubrik dusta ini yang pertama kali mereka baca. Khususnya yang menyangkut bintang kelahiran mereka atau bintang kelahiran kerabat dan sahabat mereka. Ada yang menggantungkan usaha mereka dengan ramalan bintang, untuk mencari jodoh lihat apa bintangnya dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Meyakini bahwa bintang-bintang memiliki pengaruh terhadap kejadian di alam ini hukumnya haram. Kejadian seperti ini bukan muncul belakangan behkan merupakan keyakinan kuno, keyakinan kaum Namrud, raja yang kafir zalim, yang kepada mereka Nabiullah Ibrahim<em> ‘alaihissalam</em> diutus. Mereka dinamakan kaum Shabi`ah, para penyembah bintang-bintang. Mereka membangun haikal dan rumah-rumah ibadah untuk menyembah bintang-bintang tersebut. Mengakar dalam keyakinan mereka bahwa bintang-bintang mengatur perkara di alam ini. <em>Wallahul musta’an</em> (Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> sajalah yang dimintai pertolongan-Nya), keyakinan syirik tersebut telah diwarisi oleh umat yang datang setelah mereka. (<strong>I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid</strong>, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>, 2/19)</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>menciptakan bintang-bintang bukan untuk dijadikan tandingan-Nya sebagai pengatur alam semesta ini, atau sekadar memberi pengaruh terhadap kejadian di muka bumi. Sungguh, bintang-bintang tidak ada hubungannya dengan nasib dan keberuntungan seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">Qatadah ibnu Di’amah As-Sadusi<em> rahimahullahu</em>, seorang imam yang mulia dalam masalah tafsir, hadits, dan ilmu yang lainnya mengatakan, “Allah<em> ‘Azza wa Jalla </em>menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah atau faedah, Pertama: sebagai penghias langit. Kedua: sebagai pelempar setan. Ketiga: sebagai tanda-tanda dijadikan petunjuk. Siapa yang menafsirkan dengan selain tiga faedah tersebut, sungguh ia telah salah dan menyia-nyiakan bagiannya[1]. Ia juga telah membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak memiliki ilmu tentangnya.” (Diriwayatkan oleh Al Imam Al-Bukhari <em>rahimahullahu</em> dalam <strong>Shahih</strong>-nya, <em>Kitab Bad`ul Khalqi, bab Fin Nujum</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Faedah pertama dari penciptaan bintang-bintang ditunjukkan seperti dalam firman Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em>:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya Kami menghiasi langit dunia dengan perhiasan bintang-bintang</em>.” <strong>(Ash Shaffat: 6)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Faedah kedua sebagai pelempar setan, seperti dalam ayat:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia dengan pelita-pelita dan Kami jadikan pelita-pelita tersebut sebagai pelempar para setan….</em>” <strong>(Al-Mulk: 5)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa setan-setan itu dilempar? Karena mereka berupaya mencuri berita dari para malaikat di langit untuk kemudian disampaikan kepada dukun/tukang ramal, kekasih mereka dari kalangan manusia. Lalu dukun ini mencampurinya dengan seratus kedustaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>diutus, para setan ini bebas mencuri berita dari langit. Namun ketika beliau telah diangkat sebagai nabi dan rasul, Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em> menjaga langit dengan panah-panah api yang dilepaskan dari bintang-bintang sehingga membakar dan membinasakan setan yang jahat tersebut. Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em> menyampaikan kepada kita pengabaran para jin tentang diri mereka dalam ayat-Nya yang mulia:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui rahasia langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan berita-beritanya. Tetapi sekarang barangsiapa yang mencoba mendengar-dengarkan seperti itu tentu akan menjumpai panah api yang mengintai untuk membakarnya. Dan sungguh dengan adanya penjagaan tersebut kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.</em>” <strong>(Al-Jin: 8-10)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Faedah ketiga, bintang-bintang dijadikan sebagai tanda/petunjuk arah dan semisalnya. Sebagaimana Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kalian dan Dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kalian mendapatkan petunjuk. Dan Dia ciptakan tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.</em>“<strong> (An-Nahl: 15)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em> menjadikan tanda-tanda di bumi dan di langit bagi musafir sebagai penunjuk arah bagi mereka. Tanda-tanda di bumi seperti jalan-jalan dan gang-gang, demikian pula gunung-gunung. Tanda-tanda di langit berupa bintang, matahari dan bulan. Orang-orang menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk/tanda bagi mereka ketika mereka melakukan perjalanan. Terlebih lagi di tengah lautan yang tidak bergunung dan tidak ada rambu-rambu. Demikian pula perjalanan di malam hari, dengan melihat bintang tertentu mereka jadi mengerti arah sehingga mereka bisa menuju arah yang mereka inginkan. (<strong>I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid</strong>, 2/21)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang untuk kalian agar kalian menjadikannya sebagai petunjuk dalam kegelapan di daratan dan di lautan.</em>” <strong>(Al-An’am: 97)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya, dengan bintang-bintang tersebut kalian dapat mengetahui arah tujuan kalian (dalam perjalanan). Bukankah yang dimaksudkan di sini bahwa bintang-bintang itu dijadikan petunjuk dalam ilmu gain, sebagaimana diyakini oleh para ahli nujum. (<strong>Fathul Majid</strong>, 2/529)</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa yang ingin menambah lebih dari tiga perkara ini seperti meyakini bintang-bintang itu menunjukkan kejadian di muka bumi, turunnya hujan, berhembusnya angin, kematian atau kehidupan seseorang, maka semuanya itu mengada-ada dan mengaku-aku tahu ilmu gaib. Padahal tidak ada yang tahu tentang perkara gaib kecuali hanya Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Dia Yang Maha Suci berfirman:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Katakanlah (ya Muhammad) tidak ada seorang pun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara gaib kecuali Allah saja</em>.”<strong> (An-Naml: 65)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh <em>rahimahullahu </em>berkata mengomentari ucapan Qatadah di atas, “Perhatikanlah kemungkaran yang diingkari oleh Imam ini yang terjadi di masa tabi’in hingga sampai pada puncaknya di masa-masa ini. Bala merata di seluruh penjuru negeri, baik sedikit maupun banyak. Namun jarang didapatkan orang yang mengingkarinya dalam agama. <em>Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un</em>.” (<strong>Fathul Majid</strong>, 2/528-529)</p>
<p style="text-align:justify;">Meramal nasib dengan gerakan-gerakan bintang dan bentuknya termasuk dalam apa yang diistilahkan dengan ilmu<em> ta`tsir</em>, yaitu keyakinan bahwa bintang-bintang memberi pengaruh di alam ini. Ilmu ini haram hukumnya. Ilmu ini terbagi tiga macam, sebagiannya lebih haram daripada yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Pertama:</em></strong> meyakini bahwa bintang-bintang itulah yang menjadikan peristiwa-peristiwa di alam ini baik berupa kebaikan ataupun kejelekan, sakit ataupun sehat, paceklik ataupun panen raya, dan selainnya. Sumber kejadian di alam ini adalah gerakan-gerakan dan bentuk-bentuk bintang. Keyakinan kaum Shabi`ah ini merupakan penentangan kepada Sang Pencipta<em> ‘Azza wa Jalla</em>, karena menganggap adanya pencipta selain Dia, dan merupakan kekufuran yang nyata berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kedua: </em></strong>seseorang tidak meyakini bahwa bintang-bintang itu yang menjadikan peristiwa di alam ini. Tapi menurutnya bintang-bintang itu hanya sebab yang memberi pengaruh. Adapun yang menciptakan adalah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Keyakinan ini pun batil, karena Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>tidak pernah menjadikan bintang-bintang itu sebagai sebab, dan bintang tersebut tidak ada hubungannya dengan apa yang berlangsung di alam ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ketiga: </em></strong>menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk atas kejadian yang akan datang. Ini merupakan bentuk pengakuan terhadap ilmu gaib, masuk dalam katagori perdukunan serta sihir. Hukumnya kafir menurut kesepakatan kaum muslimin. (<strong>Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid</strong>, Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin<em> rahimahullah</em> 2/5,6)</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga macam ilmu <em>ta`tsir</em> ini batil, kata Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>. Namun sayangnya, perkara batil ini disebarkan di kolom khusus pada sebagian majalah yang tidak berpegang dengan ajaran Islam. Disebutkan bahwa pada bintang A akan diperoleh ini dan itu bagi siapa yang melangsungkan pernikahan, atau siapa yang berjual beli akan beroleh laba. Sementara bintang B nahas/sial. Semua itu termasuk keyakinan jahiliah. (<strong>I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid</strong>, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan<em> hafizhahullah</em>, 2/25)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Khaththabi<em> rahimahullah</em> berkata, “Ilmu nujum (perbintangan) yang terlarang adalah ilmu yang diaku-akui oleh ahli nujum bahwa mereka punya pengetahuan tentang alam dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa datang. Seperti, kapan waktu berhembusnya angin dan datangnya hujan, dan kapan terjadi perubahan harga, ataupun yang semakna dengannya berupa perkara-perkara–menurut pengakuan dusta mereka– yang dapat diketahui dari perjalanan bintang-bintang di garis edarnya dan dari berkumpul atau berpisahnya bintang-bintang tersebut. Mereka mengaku-aku bahwa bintang-bintang tersebut punya pengaruh terhadap alam bawah (bumi).” (<strong>Ma’alimus Sunan </strong>4/230, sebagaimana dinukil dalam <strong>Fathul Majid</strong> 2/527)</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah. Maka jangan percaya dengan bualan si tukang ramal, apapun sebutan untuknya. Jangan pula percaya dengan omong kosong ramalan bintang. Jangan korbankan akidah dan jangan rusak tauhid anda! <em>Wallahu a’lam bish-shawab.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Catatan kaki</span>:<br />
[1] Karena ia telah menyibukkan dirinya dengan perkara yang memudharatkannya dan tidak memberikan manfaat kepadanya. (<strong>Fathul Majid</strong>, 2/530)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Sumber: Majalah Asy Syariah No. 42/IV/1429 H/2008, halaman 92 s.d.94. Judul: Jangan Percaya Ramalan Bintang. Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah. katagori: Mutiara Kata)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dipload oleh www.wahonot.wordpress.com</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kunjungi blog kami yang lain: </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>www.pustakaalbayaty.wordpress.com</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>www.tokoherbalonline.wordpress.com<br />
</em></p>
Posted in Aqidah, Hadist, keluarga, Manhaj, Muamalah, Muslimah, Renungan Tagged: Aqidah, ramalan bintang, syirik <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1318&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/25/jangan-percaya-ramalan-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bambangwahono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati dari Teman yang Buruk!</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/24/hati-hati-dari-teman-yang-buruk/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/24/hati-hati-dari-teman-yang-buruk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 23:28:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambangwahono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun nafs]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1315</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah
Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:
مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً
 
“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1315&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh : Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-2424"> </span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.</em>” <strong>(HR. Al-Bukhari dan Muslim)<span id="more-1315"></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menerangkan bahwa teman dapat memberikan pengaruh negatif ataupun positif sesuai dengan kebaikan atau kejelekannya. Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyerupakan teman bergaul atau teman duduk yang baik dengan penjual minyak wangi.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila duduk dengan penjual minyak wangi, engkau akan dapati satu dari tiga perkara sebagaimana tersebut dalam hadits. Paling minimnya engkau dapati darinya bau yang harum yang akan memberi pengaruh pada jiwamu, tubuh dan pakaianmu. Sementara kawan yang jelek diserupakan dengan duduk di dekat pandai besi. Bisa jadi beterbangan percikan apinya hingga membakar pakaianmu, atau paling tidak engkau mencium bau tak sedap darinya yang akan mengenai tubuh dan pakaianmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian jelaslah, teman pasti akan memberi pengaruh kepada seseorang. Dengarkanlah berita dari Al-Qur`an yang mulia tentang penyesalan orang zalim pada hari kiamat nanti karena dulunya ketika di dunia berteman dengan orang yang sesat dan menyimpang, hingga ia terpengaruh ikut sesat dan menyimpang.</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.</em>” <strong>(Al-Furqan: 27-29)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">‘Adi bin Zaid, seorang penyair Arab, berkata:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْـمُقَارَنِ يَقْتَدِي<br />
إِذَا كُنْتَ فِي قَوْمٍ فَصَاحِبْ خِيَارَهُمْ وَلاَ تُصَاحِبِ الْأَرْدَى فَتَرْدَى مَعَ الرَّدِي<em><br />
</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidak perlu engkau bertanya tentang (siapa) seseorang itu, namun tanyalah siapa temannya<br />
Karena setiap teman meniru temannya<br />
Bila engkau berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan orang yang terbaik dari mereka<br />
Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rendah/hina niscaya engkau akan hina bersama orang yang hina<br />
Karenanya lihat-lihat dan timbang-timbanglah dengan siapa engkau berkawan.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dampak Teman yang Jelek</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ingatlah, berteman dengan orang yang tidak baik agamanya, akhlak, sifat, dan perilakunya akan memberikan banyak dampak yang jelek. Di antara yang dapat kita sebutkan di sini:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Memberikan keraguan pada keyakinan kita yang sudah benar, bahkan dapat memalingkan kita dari kebenaran. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;"> فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ. قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ. يَقُولُ أَئِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ. أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَدِينُونَ. قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ. فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ. قَالَ تَاللهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ. وَلَوْلاَ نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Lalu sebagian mereka (penghuni surga) menghadap sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) memiliki seorang teman. Temanku itu pernah berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang membenarkan hari berbangkit? Apakah bila kita telah meninggal dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan.” Berkata pulalah ia, “Maukah kalian meninjau temanku itu?” Maka ia meninjaunya, ternyata ia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Ia pun berucap, “Demi Allah! Sungguh kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka</em>.” <strong>(Ash-Shaffat: 50-57)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dengarkanlah kisah wafatnya Abu Thalib di atas kekafiran karena pengaruh teman yang buruk. Tersebut dalam hadits Al-Musayyab bin Hazn, ia berkata, “Tatkala Abu Thalib menjelang wafatnya, datanglah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau dapati di sisi pamannya ada Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah ibnil Mughirah. Berkatalah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ‘Wahai pamanku, ucapkanlah<em> Laa ilaaha illallah</em>, kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah.’ Namun kata dua teman Abu Thalib kepadanya, ‘Apakah engkau benci dengan agama Abdul Muththalib?’ Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>terus menerus meminta pamannya mengucapkan kalimat tauhid. Namun dua teman Abu Thalib terus pula mengulangi ucapan mereka, hingga pada akhirnya Abu Thalib tetap memilih agama nenek moyangnya dan enggan mengucapkan <em>Laa ilaaha illallah</em>. <strong>(HR. Al-Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">2. Teman yang jelek akan mengajak orang yang berteman dengannya agar mau melakukan perbuatan yang haram dan mungkar seperti dirinya. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman tentang munafikin:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Mereka menginginkan andai kalian kafir sebagaimana mereka kafir hingga kalian menjadi sama.</em>” <strong>(An-Nisa`: 89)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">3. Tabiat manusia, ia akan terpengaruh dengan kebiasaan, akhlak, dan perilaku teman dekatnya. Karenanya Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat</em>1.” (<strong>HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi.</strong> Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam <strong>Ash-Shahihah</strong> no. 927)</p>
<p style="text-align:justify;">4. Melihat teman yang buruk akan mengingatkan kepada maksiat sehingga terlintas maksiat dalam benak seseorang. Padahal sebelumnya ia tidak terpikir tentang maksiat tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Teman yang buruk akan menghubungkanmu dengan orang-orang yang jelek, yang akan memudaratkanmu.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Teman yang buruk akan menggampangkan maksiat yang engkau lakukan sehingga maksiat itu menjadi remeh/ringan dalam hatimu dan engkau akan menganggap tidak apa-apa mengurangi-ngurangi dalam ketaatan.</p>
<p style="text-align:justify;">7. Karena berteman dengan orang yang jelek, engkau akan terhalang untuk berteman dengan orang-orang yang baik/shalih sehingga terluputkan kebaikan darimu sesuai dengan jauhnya engkau dari mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">8. Duduk bersama teman yang jelek tidaklah lepas dari perbuatan haram dan maksiat seperti <em>ghibah, namimah</em>, dusta, melaknat, dan semisalnya. Bagaimana tidak, sementara majelis orang-orang yang jelek umumnya jauh dari dzikrullah, yang mana hal ini akan menjadi penyesalan dan kerugian bagi pelakunya pada hari kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="line-height:350%;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-large;">مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ تَعَالَى فِيْهِ، إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Tidak ada satu kaum pun yang bangkit dari sebuah majelis yang mereka tidak berzikir kepada Allah ta’ala dalam majelis tersebut melainkan mereka bangkit dari semisal bangkai keledai2 dan majelis tersebut akan menjadi penyesalan bagi mereka</em>.” (<strong>HR. Abu Dawud</strong>. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullahu</em> dalam <strong>Ash-Shahihah</strong> no. 77)</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian… Semoga ini menjadi peringatan!</p>
<p style="text-align:justify;">(Dinukil secara ringkas dengan perubahan dan tambahan oleh Ummu Ishaq Al-Atsariyah dari kitab <strong>Al-Mukhtar lil Hadits fi Syahri Ramadhan</strong>, hal. 95-99)</p>
<p style="text-align:justify;">Catatan kaki:</p>
<p style="text-align:justify;">1 Seseorang akan berperilaku seperti kebiasaan temannya dan juga menurut jalan serta perilaku temannya. Maka hendaknya setiap kita merenungkan dan memikirkan dengan siapa kita bersahabat. Siapa yang kita senangi agama dan akhlaknya maka kita jadikan ia sebagai teman, dan yang sebaliknya kita jauhi. Karena yang namanya tabiat akan saling meniru dan persahabatan itu akan berpengaruh baik ataupun buruk. (<strong>Tuhfatul Ahwadzi, kitab Az-Zuhd</strong>, bab 45)<br />
2 Sama dengan bangkai keledai dalam bau busuk dan kotornya. (<strong>‘Aunul Ma’bud</strong>, kitab <strong>Al-Adab</strong>, bab <strong>Karahiyah An Yaqumar Rajulu min Majlisihi wala Yadzkurullah</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Sumber: Majalah Asy Syariah no. 43/IV/1429 H/2008, halaman 91 s.d. 93, judul: Hati-Hati dari Teman yang Buruk!, penulis: Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah, katagori: Mutiara Kata, URL Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=717)</em></p>
Posted in Adab, Aqidah, berita, keluarga, Manhaj, Muamalah, Muslimah, Renungan, Tazkiyatun nafs  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1315/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1315&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/24/hati-hati-dari-teman-yang-buruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bambangwahono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Menghubungkan Waktu Kejadian Gempa dengan Ayat-ayat al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/11/hukum-menghubungkan-waktu-kejadian-gempa-dengan-ayat-ayat-al-quran/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/11/hukum-menghubungkan-waktu-kejadian-gempa-dengan-ayat-ayat-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 04:07:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambangwahono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1312</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: al-Ustadz Hammad bin Amir Abu Muawiyah al-Makassari
Tanya:
Bismillah. Ana mendapatkan selebaran di masjid yang berisi hubungan antara gempa di Sumatra dengan beberapa ayat dalam Al-Qur`an. Disebutkan di situ: Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam. 8.52. Lalu kita disuruh melihat ke Al-Qur`an surah 17 (Al-Isra`) ayat 16, ayat ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1312&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh: al-Ustadz Hammad bin Amir Abu Muawiyah al-Makassari</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanya:</strong><br />
Bismillah. Ana mendapatkan selebaran di masjid yang berisi hubungan antara gempa di Sumatra dengan beberapa ayat dalam Al-Qur`an. Disebutkan di situ: Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam. 8.52. Lalu kita disuruh melihat ke Al-Qur`an surah 17 (Al-Isra`) ayat 16, ayat ke 58 dan surah 8 (Al-Anfal) ayat 52, yang ketiga ayat ini berisi keterangan tentang siksaan Allah kepada kaum yang bermaksiat.</p>
<p>Bagaimana hukumnya mempercayai hal ini dan hukum menyebarkan berita ini, apalagi sebagian teman mengatakan kalau berita ini juga tersebar lewat sms.</p>
<p>yahya (yahya.vila@yahoo.com)<span id="more-1312"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab:</strong><br />
Sebelumnya, pemastian bahwa kejadian ini adalah siksaan atau azab secara mutlak kepada semua korban adalah hal yang kurang tepat, apalagi mengarahkan makna ayat-ayat di atas kepada peristiwa di Sumatra. Hal itu karena yang meninggal banyak di antaranya kaum muslimin yang insya Allah bagus keislamannya. Dan jika ada musibah yang menimpa seorang muslim maka itu merupakan ujian baginya dan merupakan penghapus dosanya. Karenanya siksaan kepada orang kafir dikatakan azab sementara siksaan kepada kaum muslimin dikatakan cobaan. Jadi musibah gempa di Sumatra ini adalah azab bagi orang-orang kafir yang pantas menerimanya dan penghapus dosa bagi kaum muslimin yang meninggal, serta penghapus dosa dan peringatan bagi korban yang masih hidup dan bagi selainnya yang tidak mengalaminya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ala kulli hal, menghukumi secara mutlak kejadian ini adalah azab yang diperuntukkan untuk mereka semua, adalah hukum yang perlu ditinjau ulang, karena pada zaman para nabi sebelumnya, yang dijatuhkan azab kepada mereka adalah murni orang-orang kafir dan membinasakan mereka semuanya, wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang kedua, anggaplah kita katakan itu adalah azab, akan tetapi kita tidak menerima kalau makna ayat-ayat di atas diarahkan kepada kejadian ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah mengingatkan dalam Muqaddimah at-Tafsir mengenai salah satu kesalahan dalam tafsir yaitu: <em>Menafsirkan sebuah ayat dengan kejadian yang datang belakangan, yang mana kejadian tersebut tidak ditunjukkan oleh lafazh dan makna ayat tersebut.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sementara di sini, mana hubungan antara ketiga ayat ini dengan kejadiannya? Betul di dalam ayat-ayat tersebut disebutkan siksaan dan azab, akan tetapi apakah kejadian ini adalah azab secara mutlak untuk mereka semua? Kalaupun azab, kenapa membatasi hubungan kejadian ini hanya pada tiga ayat, bukankan banyak sekali ayat dalam Al-Qur`an yang menyebutkan tentang azab?</p>
<p style="text-align:justify;">Kami jawab: Hubungan erat antara ayat-ayat ini dengan kejadian di Sumatra -di mata orang yang pertama kali memunculkan hal ini- adalah dalam hal no surah dan ayatnya dengan jam terjadinya gempa. Bukankah ini lebih dekat kepada bentuk dugaan dan ramalan dibandingan tafsiran ayat? Orang ini berusaha menunjukkan kebenaran isi Al-Qur`an dengan cara-cara seperti ini, padahal apa yang dia sebutkan tidak ada hubungannya dengan Al-Qur`an kecuali sekedar angkanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Intinya, kami tidak mengingkari penyebutan ayat-ayat ini sebagai peringatan kepada kaum muslimin sekalian akan apa yang terjadi di Sumatra, akan tetapi yang kami ingkari adalah menghubungkan antara keduanya dengan hubungan yang tidak teranggap dalam ilmu tafsir Al-Qur`an, yaitu angka-angka. Kalau mau mengingatkan kaum muslimin maka ingatkan mereka dengan semua ayat yang berisi ancaman kepada pelaku maksiat, jangan hanya terbatas pada ayat-ayat ini dan jangan pula menonjolkan korelasi di antara ayat dan sebuah peritiwa (baik/jelek) dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya. Karena membiarkan hal-hal seperti ini berkembang akan membuka pintu-pintu ramalan dan penafsiran Al-Qur`an dengan penafsiran yang tidak diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali kepada pertanyaan:<br />
1. Hukum mempercayainya? Berhubung tidak ada korelasi sama sekali antara ketiga ayat ini dengan peristiwa di Sumatra, maka tentunya kita tidak mempercayai kalau ayat yang diturunkan 15 abad yang lalu ini merupakan peringatan bagi orang-orang yang hidup 15 abad setelahnya bahwa akan terjadi peristiwa pada jam sekian lewat sekian. Karena sama sekali tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu, dan menghubungkannya (melalui angka-angka) adalah perbuatan berkata atas nama Allah tanpa ilmu dan itu diharamkan.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Hukum menyebarkannya? Tidak boleh menyebarkannya dengan alasan di atas, yaitu membuka pintu dugaan, ramalan, dan penafsiran Al-Qur`an dengan penafsiran yang salah. Ditambah lagi dia adalah perbuatan membuang-buang harta (pulsa dan selainnya) pada hal-hal yang tidak ada manfaatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai nasehat, hendaknya setiap muslim tidak sibuk dengan hal-hal semacam ini, akan tetapi hendaknya dia mengambil pelajaran dan peringatan dari apa yang terjadi di sana dan berusaha memberikan bantuan kepada para korban sesuai dengan kemampuannya. Insya Allah ini jauh lebih bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: al-atsariyyah.com</p>
<p style="text-align:justify;">Diupload oleh www.wahonot.wordpress.com</p>
<p style="text-align:justify;">Kunjungi blog kami yang lain:</p>
<p style="text-align:justify;">www.pustakaalbayaty.wordpress.com</p>
<p style="text-align:justify;">www.tokoherbalonline.wordpress.com</p>
Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1312&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/11/hukum-menghubungkan-waktu-kejadian-gempa-dengan-ayat-ayat-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bambangwahono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Tahun yang Penuh Gempa Bumi dan Bencana</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/04/menyikapi-tahun-yang-penuh-gempa-bumi-dan-bencana/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/04/menyikapi-tahun-yang-penuh-gempa-bumi-dan-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 01:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wahonot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun nafs]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1310</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Baz
Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam tetap terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, shahabat-shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du:
Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dengan semua perkara yang telah Allah tetapkan dan takdirkan. Sebagaimana pula Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1310&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="direction:rtl;text-align:center;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Baz</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam tetap terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, shahabat-shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du:</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dengan semua perkara yang telah Allah tetapkan dan takdirkan. Sebagaimana pula Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dengan semua apa-apa yang telah Allah syari’atkan kepada para hamba-Nya dan apa-apa yang telah Allah perintahkan kapada mereka.<span id="more-1310"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan Allah menciptakan segala sesuatu yang Allah kehendaki dari tanda-tanda kekuasaannya (di antaranya dengan terjadinya genpa bumi dan bencana yang lainnya). Allah mentakdirkan terjadinya gempa bumi dan bencana yang lainnya dalam rangka untuk menakuti hamba-hamba- Nya, dan dalam rangka memperingatkan mereka atas apa-apa yang telah Allah wajibkan kepada mereka dari hak-hak Allah (yang kebanyakan mereka tidak menunaikannya), dan dalam rangka memperingatkan mereka dari perbuatan syirik kepada Allah (yang banyak mereka lakukan) dan sebagai peringatan dari perbuatan menyelisihi perintahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula Allah takdirkan terjadinya gempa bumi dan berbagai macam musibah/bencana yang lainnya dalam rangka memperingatkan hamba-hamba-Nya karena mereka terus menerus menjalankan hal-hal yang dilarang Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">“ <em>Dan tidaklah kami mengirimkan tanda-tanda itu kecuali dalam rangka untuk menakuti</em>” <strong>(Al- Isra: 60)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah (yang artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">“ <em>Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami dari segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an adalah haq. Dan apakah Rabb mu tidak cukup bagi kamu, bahwasanya Dia menyaksikan segala sesuatu ?</em>” <strong>(Q.S. Fushilat: 53)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah <em>Ta’ala</em> (artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Katakanlah Dialah (Allah) yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian, atau dari bawah kaki-kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan-golongan dan merasakan kepada sebagian kalian kekuatan/ keganasan sebagian yang lain</em> “ <strong>(QS. Al An’am: 65)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Jabir bin ‘Abdillah dari Nabi bahwasanya beliau telah berkata, ketika turun firman Allah <em>Ta’ala </em>(yang artinya): “<em>Katakanlah: Dialah (Allah) yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian</em>. Berkata Rosulullah (artinya): (ya Allah) aku berlindung dengan wajah Engkau.</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Syaikh Al Ashbahany telah meriwatkan dari mujahid tentang tafsir ayat ini (artinya): “<em>Katakanlah: Dialah (Allah) yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian dari atas kalian</em>: “Berkata mujahid (dikirimkan kepada kalian suara yang mengguntur/menggelegar, batu- batu dan angin.” Atau adzab dari bawah kaki-kaki kalian: “Berkata Mujahid: (terjadinya) gempa bumi dan musibah tenggelam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan merupakan suatu hal yang tidak diragukan lagi, bahwasanya semua yang diakibatkan dari terjadinya gempa-gempa bumi pada hari-hari terakhir ini di berbagai/banyak tempat/penjuru, itu merupakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang dengan tanda-tanda tersebut Allah menakuti hamba-hambaNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan semua yang terjadi sebagai akibat dari terjadinya gempa-gempa bumi atau bencana yang lainnya, yang semua itu mengakibatlan kemudhorotan bagi hamba-hamba Allah dan menyebabkan berbagai macam kemelaratan, kasakitan, kematian, penderitaan bagi mereka, semua itu terjadi karena disebabkan perbuatan syirik dan maksiat yang mereka lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini sebagaimana yang Allah <em>Ta’ala </em>firmankan (artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka itu karena disebabkan perbuatan tangan- tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)</em>” <strong>(QS. Asy Syura: 30)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah (artinya):<br />
“<em>Kebaikan/nikmat apa saja yang kamu peroleh, maka itu semua datangnya dari Allah. Dan kejelekan/musibah apa saja yang menimpamu, maka itu semua dari (kesalahan/dosa) dirimu sendiri</em>” <strong>(QS. An Nisa: 79)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah (artinya):<br />
“<em>Maka masing-masing (mereka itu) Kami adzab karena disebabkan dosanya. Maka diantara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kepadanya, dan diantara mereka ada yang kami siksa deangan suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan kedalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah tidaklah sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri-diri mereka sendiri</em>” <strong>(QS. Al Ankabut: 40)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maka merupakan kewajiban atas semua orang yang telah Allah bebankan syari’at (<em>mukallaf</em>) dari kalangan kaum muslimin, untuk segera bertaubat kepada Allah, dan berpegang teguh dengan agamanya. Dan wajib bagi mereka untuk memperingatkan/menjauhi/meninggalkan dari setiap yang dilarang oleh Allah berupa perbuatan syirik dan perbuatan maksiat. Sehingga dengan itu semua akan mendatangkan keselamatan dan keberuntungan bagi mereka dari berbagai macam keburukan/bencana di dunia dan akherat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sehingga dengan sebab itu pula, Allah akan mengangkat/menghilangkan semua musibah dan bencana dari mereka, serta memberikan karunia kapada mereka dengan berbagai kebaikan/nikmat. Hal ini sebagai firman Allah (artinya): “<em>kalau sekiranya penduduk suatu negeri itu mereka beriman dan bertakwa, kami pasti akan membukakan /melimpahkan kepada mereka barokah-barokah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka disebabakan perbuatan yang mereka lakukan.</em>” <strong>(QS. Al A’raf: 96)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah (artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Kalau sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan hukum taurat dan injil, dan menjalankan apa-apa yang telah diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki-kaki mereka.</em>” <strong>(QS. Al Maidah: 66)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah (artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">”<em>Maka apakah penduduk suatu negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan kami kepada mereka dimalam hari diwaktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk suatu negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan kami kepada mereka di waktu dhuha yang ketika itu mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab/siksaan Allah (yang datangnya tidak terduga-duga)? Maka tidaklah ada yang merasa aman dari adzab/siksaan Allah kecuali orang-orang yang merugi.</em>” <strong>(QS. Al A’raf: 97-99)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dan telah berkata Al ‘Allamah Ibnul Qoyyim:</p>
<p style="text-align:justify;">“Terkadang pada sebagian waktu Allah mengijinkan bagi bumi untuk “bernafas”. Maka terjadilah di atas muka bumi itu gempa yang dahsyat. Maka gempa tersebut menyebabkan terjadinya kekhawatiran dan ketakutan yang besar bagi hamba-hamba Allah, (sehingga mereka karena sebab terjadinya gempa tersebut) kembali ke jalan Allah, meninggalkan diri dari perbuatan maksiat, tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah, dan menyesal (atas semua dosa yang telah dilakukan). Sebagaimana telah berkata sebagian salaf ketika bumi digoncangkan (terjadi gempa):<br />
”Sesungguhnya Rabb kalian telah menggoncangkan kalian dengan goncangan yang keras.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan telah berkata ‘Umar bin Khotthob ketika terjadi gempa di Madinah, maka beliau berkhutbah di hadapan manusia dan menasehati mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">(Selesai perkataan Al ‘Allamah Ibnul Qoyyim<em> Rahimahullah</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Maka merupakan kewajiban yang harus dilakukan ketika terjadinya gempa-gempa bumi dan bencana-bencana yang lainnya dari sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, juga ketika terjadi gerhana dan angin yang kuat untuk segera bertaubat kepada Allah, tunduk menyerahkan diri kepada Allah, dan meminta keselamatan padaNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula dengan mamperbanyak dzikir kepada Allah dan memperbanyak istighfar kepadaNya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ketika terjadi gerhana: ”<em>Jika kalian melihat/mengalami yang demikian (gerhana gempa dan bencana yang lainnya), takutlah dan rendahkanlah diri-diri kalian kepada Allah dengan berdzikir kepadaNya, berdo’a dan beristighfar kepada-Nya</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan disukai juga ketika terjadinya bencana untuk mengasihi orang-orang faqir dan orang-orang miskin serta bersedekah kepada mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini berdasarkan sabda Nabi (artinya):<br />
”<em>Saling mengasihilah di antara kalian, niscaya kalian akan dikasihi. Orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar Rahman (Allah). Saling mengasihilah di antara kalian kepada orang-orang dimuka bumi ini, niscaya kalian akan dikasihi oleh yang ada di atas langit.</em>” Dan sabda Nabi (artinya): ”S<em>iapa yang tidak mengasihi/menyayangi, dia tidak akan dikasihi (oleh Allah).</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan telah diriwayatkan dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, bahwasanya beliau dahulu pernah menulis perintah kepada para pembantu-pembantunya ketika terjadinya gempa bumi agar mereka bersedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan termasuk dari sebab-sebab yang bisa mendatangkan keamanan/ ketentraman dan keselamatan dari segala keburukan, yaitu bersegeranya pihak pemerintah untuk memperhatikan dan membantu orang-orang yang lemah, berpegang teguh dengan <em>al haq</em>, berhukum dengan apa-apa yang disyari’atkan Allah dan senantiasa menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini sebagaimana firman Allah <em>ta’ala</em> (yang artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Orang-orang mu’min yang laki-laki dan perempuan sebagaimana mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan dengan perkara kebaikan dan melarang dari perbuatan yang munkar, mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat dan mereka mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</em>” <strong>(Q.S. At Taubah: 71)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah (yang artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama) Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Yaitu orang-orang yang Kami teguhkan/ kokohkan kedudukan mereka di atas muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar. Dan hanya kepada Allahlah kembalinya segala perkara.</em>”<strong> (Q.S. Al Haj: 40-41)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah (yang artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangkanya.</em>” <strong>(Q.S. Ath Thalaq: 2-3)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan dengan makna ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Nabi telah bersabda (yang artinya);</p>
<p style="text-align:justify;">”<em>Barang siapa yang meringankan/menanggung hajat (kebutuhan) saudaranya, maka Allah akan menanggung kebutuhannya</em>.<strong> (Muttafaqun alaihi)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dan sabda beliau (yang artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">”<em>Barang siapa yang menghilangkan kesusahan seorang mu’min dari kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan menghilangkan darinya kesusahan dari kesusahan- kesusahan pada hari kiamat</em>.” <em>Dan barang siapa yang memberi kemudahan kepada seorang yang sedang mengalami kesulitan, Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akherat. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.</em> (HR. Muslim didalam kitab shahihnya)</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits-hadits yang berkaitan dengan makna ini banyak sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Allahlah dzat tempat untuk meminta, agar Allah memperbaiki keadaaan kaum muslimin semuanya, memberikan karunia kepada mereka dengan kefaqihan dalam agama-Nya dan memberikan karunia kepada mereka pula dengan keistiqomahan di atas agama-Nya. Dan agar Allah memberikan karunia-Nya kepada kaum muslimin dengan taubat kepada-Nya dari segala perbuatan dosa-dosa dan agar Allah memperbaiki keadaan pemerintah kaum muslimin semua, menolong/menegakkan al haq dan menghancurkan kebatilan melalui mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah <em>Ta’ala </em>memberikan taufiq kepada pemerintah kaum muslimin untuk berhukum dengan syari’at- syari’atnya kepada para hamba-Nya. Dan semoga Allah melindungi mereka dan seluruh kaum muslimin dari gelapnya fitnah-fitnah dan penyimpangan-penyimpangan/tipu daya syaithon.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya Allah Maha Penolong dari perkara yang demikian lagi maha berkuasa atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, para keluarganya dan para shahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Kitab Asilah Al Muhimmah. Sumber: Buletin Dakwah Al Atsary, Semarang Edisi 15/1427H. http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/16/menyikapi-tahun-yang-penuh-gempa-bumi-dan-bencana/</em></p>
<p style="text-align:justify;">Diupload kembali oleh www.wahonot.wordpress.com</p>
<p style="text-align:justify;">Kunjungi blog kami yang lain:</p>
<p style="text-align:justify;">www.pustakaalbayaty.wordpress.com</p>
<p style="text-align:justify;">www.tokoherbalonline.wordpress.com<em><br />
</em></p>
Posted in Aqidah, berita, keluarga, Muslimah, Renungan, Tazkiyatun nafs  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1310/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1310&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/10/04/menyikapi-tahun-yang-penuh-gempa-bumi-dan-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">wahonot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bargaul dengan Akhlak yang Baik</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/09/30/bargaul-dengan-akhlak-yang-baik/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/09/30/bargaul-dengan-akhlak-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 23:55:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wahonot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun nafs]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1303</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
بسم الله الرحمن الرحيم
Mungkin engkau pernah mendengar atau membaca hadits Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sabda sang Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam:
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Susullah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1303&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh : Ummu Ishaq Al-Atsariyyah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin engkau pernah mendengar atau membaca hadits Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sabda sang Rasul<em> Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align:justify;">اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ<br />
“<em>Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Susullah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan tersebut, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik</em>.” (<strong>HR. Ahmad</strong> 5/135, 158, 177, <strong>At-Tirmidzi </strong>no. 1987, dan selain keduanya. Dihasankan Al-Imam Al-Albani<em> rahimahullahu</em> dalam<strong> Shahihul Jami’</strong> no. 97 dan di kitab lainnya)<span id="more-1303"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini, kata Asy-Syaikh Al-’Allamah Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di <em>rahimahullahu </em>merupakan hadits yang agung. Di dalamnya, Rasul yang mulia<em> Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mengumpulkan hak Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> dan hak hamba-hamba-Nya. Hak Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> terhadap hamba-Nya adalah agar mereka bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa. Mereka berhati-hati dan menjaga diri agar tidak mendapat kemurkaan dan azab-Nya, dengan menjauhi perkara-perkara yang dilarang dan menunaikan kewajiban-kewajiban. Wasiat takwa ini merupakan wasiat Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kepada orang-orang terdahulu maupun belakangan. Sebagaimana takwa merupakan wasiat setiap rasul kepada kaumnya, di mana sang rasul menyerukan:</p>
<p style="text-align:justify;">أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Beribadahlah kalian kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya.</em>” <strong>(Nuh: 3)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tentang perangai orang yang bertakwa ini, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> sebutkan antara lain dalam firman-Nya berikut ini:</p>
<p style="text-align:justify;">لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil, dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila mereka berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.</em>” <strong>(Al-Baqarah: 177)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ .الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.</em><strong> (Ali ‘Imran: 133-134)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>menyebutkan sifat orang-orang yang bertakwa sebagai orang yang beriman dengan pokok-pokok keimanan (rukun iman), keyakinan-keyakinan, dan amal-amalnya, baik secara zhahir maupun batin, dengan menunaikan ibadah-ibadah<em> badaniyah</em> (yang dilakukan tubuh) dan <em>maliyah </em>(ibadah dengan harta). Orang yang beriman adalah orang yang sabar di dalam kesulitan dan kesempitan, memaafkan manusia, menanggung gangguan dari mereka dengan tabah dan justru berbuat baik kepada mereka. Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang bersegera meminta ampun dan taubat manakala mereka terjatuh ke dalam perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits Abu Dzar di atas, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mewasiatkan agar seorang hamba terus-menerus bertakwa di mana saja ia berada, di setiap waktu dan setiap tempat, serta dalam segala keadaannya. Kenapa demikian? Karena si hamba sangat butuh kepada takwa, tak pernah bisa lepas darinya. Bila sampai lepas, ia akan binasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun yang namanya manusia pasti ada kekurangannya dalam menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajiban takwa. Maka Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> memerintahkan untuk melakukan perkara yang dapat memberishkan cacat tersebut dan menghilangkannya. Yaitu, bila sampai si hamba jatuh dalam kejelekan maka ia bersegera menyusulnya dengan <em>hasanah</em> (kebaikan).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hasanah</em> sendiri adalah nama dari segala perbuatan yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em>.<em> Hasanah</em> yang paling agung yang dapat menolak kejelekan adalah taubat nasuha, istighfar dan <em>inabah </em>(kembali) kepada Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan mengingat dan mencintai-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, serta berambisi untuk meraih keutamaan-Nya setiap waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk <em>hasanah </em>yang dapat menolak kejelekan adalah memaafkan manusia, berbuat baik kepada makhluk Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em>, menolong orang yang sedang ditimpa musibah, memberikan kemudahan bagi orang yang kesulitan, menghilangkan kemadharatan dan kesempitan dari hamba-hamba Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan</em>.” <strong>(Hud: 114)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">الصَّلَوَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَ بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Shalat yang lima, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus kesalahan yang dilakukan di antaranya, selama dijauhi dosa-dosa besar.</em>” (<strong>HR. Muslim</strong> no. 223)</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak lagi dalil lain yang menunjukkan diperolehnya ampunan berkat amalan ketaatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Musibah yang menimpa seorang hamba juga merupakan penghapus kesalahan. Karena tidaklah seorang mukmin ditimpa kesedihan, gundah gulana, sakit bahkan sekadar tertusuk duri melainkan Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana dikabarkan dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>yang diriwayatkan oleh <strong>Al-Bukhari</strong> (no. 5641) dan<strong> Muslim</strong> (no. 2753).</p>
<p style="text-align:justify;">Musibah itu bisa berupa hilangnya sesuatu yang dicintai, atau terkena sesuatu yang dibenci pada tubuh, hati ataupun harta, baik yang sifatnya di dalam maupun di luar. Musibah ini bukan sengaja dilakukan hamba terhadap dirinya. Karena itulah Rasulullah<em> Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> memerintahkan seorang yang tertimpa musibah untuk melakukan amalan yang merupakan perbuatannya, dilakukan dengan kesadarannya, yaitu menyusul kejelekan yang terlanjur dilakukan atau kejelekan yang menimpa dirinya dengan kebaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhirnya Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> berpesan, “<em>Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;">Akhlak baik terhadap manusia yang pertama adalah menahan diri dari mengganggu mereka dari segala sisi. Memaafkan keburukan mereka dan gangguan mereka terhadapmu, kemudian engkau bermuamalah dengan mereka dengan muamalah yang baik dalam ucapan maupun perbuatan. Termasuk akhlak baik yang paling khusus adalah sabar menghadapi mereka, tidak jenuh dengan mereka, berwajah cerah, berkata lembut, berucap indah yang menyenangkan teman duduk, memberikan kegembiraan pada teman, menghilangkan rasa tidak enak di hati mereka, dan terkadang memberikan gurauan jika memang ada maslahat. Akan tetapi tidak sepantasnya banyak bergurau atau guyonan. Karena bercanda dalam ucapan seperti garam pada makanan. Kalau tidak ada garam, makanan terasa hambar, namun bila terlalu banyak makanan menjadi asin. Dengan demikian, bila bercanda ini tidak ada atau sebaliknya melebihi batasan, maka menjadi tercela.</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk akhlak yang baik adalah bergaul kepada manusia dengan apa yang pantas bagi mereka dan sesuai dengan keadaannya, dengan memandang apakah orang yang diajak bergaul itu masih kecil atau sudah besar, berakal atau terbelakang, seorang alim ataukah orang yang jahil/bodoh.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh, siapa yang bertakwa kepada Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em>, merealisasikan takwanya dan bergaul baik kepada manusia dengan perbedaan tingkatan mereka berarti ia telah mencapai kebaikan secara keseluruhan, karena ia telah menegakkan hak Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> dan hak para hamba. Juga karena ia termasuk orang yang berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan berbuat ihsan terhadap hamba-hamba Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Dinukil Ummu Ishaq Al-Atsariyyah dari kitab</em> <strong>Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar</strong>,<em> karya Al-’Allamah Abdurrahman ibnu Sa’di rahimahullahu, hal 48-50)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sumber: Majalah Asy Syariah No.53/V/1430 H/2009 halaman 89 s.d. 91</em></p>
<p style="text-align:justify;">]Diupload kembali oleh : www.wahonot.wordpress.com</p>
<p style="text-align:justify;">Kunjungi blog kami yang lain:</p>
<p style="text-align:justify;">www.pustakaardplbayaty.woress.com</p>
<p style="text-align:justify;">www.tokoherbalonline.wordpress.com</p>
Posted in Adab, keluarga, Muamalah, Muslimah, Tazkiyatun nafs  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1303/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1303&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/09/30/bargaul-dengan-akhlak-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">wahonot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Menonton Sulap?</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/08/28/bolehkah-menonton-sulap/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/08/28/bolehkah-menonton-sulap/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 02:53:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wahonot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fikh]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sulap]]></category>
		<category><![CDATA[sihir]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1301</guid>
		<description><![CDATA[Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Qomar ZA, Lc. hafizhahullaahu
Seringkali kami mendengar tentang apa yang dilakukan oleh para penyulap berupa atraksi-atraksi mereka yang disaksikan oleh anak-anak muslimin, baik melalui layar televisi atau secara langsung di sebagian daerah dengan atraksi yang cepat dan tersembunyi sehingga mengundang perhatian mata. Seperti mematikan dan menghidupkan burung, mengeluarkan telur dari dua tangan, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1301&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Qomar ZA, Lc. <em>hafizhahullaahu</em></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Seringkali kami mendengar tentang apa yang dilakukan oleh para penyulap berupa atraksi-atraksi mereka yang disaksikan oleh anak-anak muslimin, baik melalui layar televisi atau secara langsung di sebagian daerah dengan atraksi yang cepat dan tersembunyi sehingga mengundang perhatian mata. Seperti mematikan dan menghidupkan burung, mengeluarkan telur dari dua tangan, dan hal-hal semacam ini. Lantas apa hukum dari menyaksikan hal itu dan apakah hal tersebut termasuk sihir?<span id="more-1301"></span></p>
<p>Jawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, itu termasuk salah satu macam sihir, yang disebut sihir <em>takhyil</em> (pengkhayalan/ilusi) semacam sihir yang dilakukan para tukang sihir Fir’aun, yang Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala </em>firmankan dalam surat Thaha ayat 66:</p>
<p>يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Terbayang kepada Musa seakan-akan ia (tali-tali dan tongkat-tongkat mereka) merayap cepat, lantaran sihir mereka</em>.”<strong> (Thaha: 66)</strong></p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p>قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Musa menjawab: ‘Lemparkanlah (lebih dahulu)!’ Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).</em>” <strong>(Al-A’raf: 116)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hal-hal yang dilakukan para tukang sulap dalam sihir jenis ini adalah tidak sebenarnya. Bahkan hanya penipuan khayalan yang dilakukan penyulap untuk mengundang perhatian mata orang kepada apa yang dilakukannya dengan kecepatan tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun itu disebut sebagai sihir, karena Allah menyebutnya demikian. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman tentang para tukang sihir Fir’aun:</p>
<p>وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>… Serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).</em>“<strong> (Al-A’raf: 116)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi, apa hukumnya melihat atraksi semacam itu?<br />
Tanpa diragukan, tidak boleh menyaksikannya dan haram bagi seseorang melihatnya. Semestinya seseorang memperingatkan anak-anaknya agar tidak melihat yang semacam itu. Dalilnya adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p>وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).</em>” <strong>(Al-An’am: 68)</strong></p>
<p>وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚإِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.</em>” <strong>(An-Nisa’: 140)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Melihat sesuatu yang mungkar, padahal kita tidak mampu mengingkari. Kita juga dilarang duduk-duduk bersama orang yang melakukannya, karena dengan duduk di situ mengisyaratkan bahwa ia rela dengan perbuatan tersebut. Sementara sihir merupakan kemungkaran yang besar. Semestinya kita menjauhi tempat-tempatnya dan orang yang melakukannya. Demikian pula dalam permainan ini terkandung kesyirikan dan kekafiran, karena pesulap yang melakukan hal ini beranggapan bahwa ia memiliki sifat Rububiyyah (ketuhanan) yaitu kemampuan untuk menghidupkan sesuatu yang mati. Orang yang menganggap dirinya mampu melakukan demikian maka dia telah kafir, karena ini adalah kekhususan Rabb yang Maha Suci dan Tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang penting di sini, kami katakan bahwa tidak boleh menyaksikan permainan yang dilakukan para pesulap dan mengandung sihir takhyil yang juga memuat hal-hal yang kufur (kekafiran), syirik, atau haram, baik melalui media penyiaran atau yang lain. (Diambil dari kitab <strong>Kaifa Tatakhallas minas Sihr</strong>)</p>
<p><em>(Sumber: Majalah Asy Syariah vol. v/no. 52/1430H/2009M, hal. 66-67)</em></p>
<p>Sumber langsung www.akhwat. web.id</p>
<p>Diupload kembali oleh <a href="http://www.wahonot.wordpress.com/">www.wahonot.wordpress.com</a></p>
<p>Kunjungi blog kami yang lainnya:</p>
<p><a href="http://www.pustakaalbayaty.wordpress.com/">www.pustakaalbayaty.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://www.tokoherbalonline.wordpress.com/">www.tokoherbalonline.wordpress.com</a></p>
<p style="text-align:justify;">
Posted in Aqidah, Fatwa, Fikh, keluarga, kitab, Muslimah Tagged: Adab, Aqidah, Fatwa, fiqh, hukum sulap, keluarga, kitab, Muslimah, sihir, syirik <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1301&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/08/28/bolehkah-menonton-sulap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">wahonot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Angkat Dalam Islam</title>
		<link>http://wahonot.wordpress.com/2009/08/28/anak-angkat-dalam-islam/</link>
		<comments>http://wahonot.wordpress.com/2009/08/28/anak-angkat-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 02:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wahonot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fikh]]></category>
		<category><![CDATA[Hadist]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[ahlu sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[anak angkat]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahonot.wordpress.com/?p=1299</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrâhîm Alusy Syaikh rahimahullâhu
Tanya:
Bolehkah menjadikan anak orang lain sebagai anak angkat dalam keluarga kita di mana kita menganggapnya seperti anak sendiri? Lalu bagaimana hijab dengannya bila si anak sudah baligh?
Jawab:
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullahu menjawab permasalahan yang seperti ini dengan pernyataan beliau, “Dahulu di jaman jahiliah, orang-orang yang mengangkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1299&subd=wahonot&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><span style="color:#008000;"><em><strong>Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrâhîm Alusy Syaikh rahimahullâhu</strong></em></span><strong><em></em></strong></p>
<p>Tanya:</p>
<p style="text-align:justify;">Bolehkah menjadikan anak orang lain sebagai anak angkat dalam keluarga kita di mana kita menganggapnya seperti anak sendiri? Lalu bagaimana hijab dengannya bila si anak sudah baligh?<span id="more-1299"></span></p>
<p>Jawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullahu menjawab permasalahan yang seperti ini dengan pernyataan beliau, “Dahulu di jaman jahiliah, orang-orang yang mengangkat anak memperlakukan anak angkat mereka seperti anak mereka yang hakiki atau seperti anak kandung dari segala sisi; dalam hal warisan, dalam hal bolehnya anak angkat tersebut berkhalwat (bersepi-sepi) dengan istri mereka, dan dianggapnya istri mereka sebagai mahram bagi anak angkat tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, maula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di masa sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai nabi, dipanggil dengan Zaid bin Muhammad (karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya sebagai anak). Maka Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak untuk menghapuskan semua anggapan orang-orang jahiliah tersebut berkaitan dengan anak angkat. Datanglah syariat Islam dalam masalah anak angkat ini berikut hukum-hukumnya yang tegas sebagaimana tersebut berikut ini:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Menghapus dan melarang adanya anak angkat yang dianggap sebagai anak yang hakiki dalam segala sisi, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:</p>
<p style="text-align:justify;">وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚذَ‌ٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak kandung kalian sendiri. Yang demikian itu hanyalah perkataan kalian di mulut kalian saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah. Dan jika kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka maka panggillah mereka sebagai saudara-saudara kalian seagama dan maula-maula kalian….” (Al-Ahzab: 4-5)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ayat-ayat di atas, Allah ‘Azza wa Jalla menerangkan bahwa ucapan seseorang kepada anak orang lain dengan “anakku” tidaklah berarti anak tersebut menjadi anaknya yang sebenarnya yang dengannya ditetapkan hukum-hukum bunuwwah (anak dengan orangtua kandungnya). Bahkan tidaklah mungkin anak tersebut bisa menjadi anak kandung bagi selain ayahnya. Karena, seorang anak yang tercipta dari sulbi seorang lelaki tidaklah mungkin ia dianggap tercipta dari sulbi lelaki yang lain, sebagaimana tidak mungkinnya seseorang memiliki dua hati/jantung1. Dan Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita agar mengembalikan penasaban anak-anak angkat tersebut kepada ayah kandung mereka, bila memang diketahui siapa ayah kandung mereka. Bila tidak diketahui maka mereka adalah saudara-saudara kita seagama dan maula kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan bahwa yang demikian ini lebih adil di sisi-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Memutuskan hubungan waris antara anak angkat dengan ayah angkatnya. Hal ini terkandung dalam ayat-ayat yang telah dibawakan di atas2. Juga disebutkan bahwa dalam perkara anak angkat, Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat:</p>
<p>وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ</p>
<p>“Dan jika ada orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bagiannya3.” (An-Nisa’: 33)</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Jarir rahimahullahu mengeluarkan riwayat dari Sa’id ibnul Musayyab rahimahullahu yang menyatakan, “Ayat ini hanyalah turun terhadap orang-orang yang dulunya menganggap anak pada selain anak kandung mereka dan mereka memberikan warisan terhadap anak-anak angkat tersebut. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat dalam perkara mereka. Untuk anak-anak angkat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan bagian dari harta (orangtua/ayah angkat mereka) dalam bentuk wasiat4, sementara warisan dikembalikan kepada yang berhak dari kalangan dzawil arham5 dan ‘ashabah6. Allah ‘Azza wa Jalla meniadakan adanya hak waris dari orangtua angkat untuk anak angkat mereka, namun Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan adanya bagian harta untuk anak angkat tersebut dalam bentuk wasiat.”7</p>
<p style="text-align:justify;">3. Dihalalkannya mantan istri anak angkat (setelah perceraian keduanya) untuk dinikahi oleh ayah angkatnya. Hal ini tampak dengan Allah ‘Azza wa Jalla menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha setelah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu yang dulunya merupakan anak angkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum turunnya ayat-ayat yang melarang hal tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla menerangkan hikmah dari kejadian tersebut dengan firman-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا</p>
<p style="text-align:justify;">“Kami nikahkan dia denganmu agar tidak ada keberatan bagi kaum mukminin untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka apabila anak angkat tersebut telah menyelesaikan urusan dengan istri-istri mereka (telah bercerai).” (Al-Ahzab: 37)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam ayat yang menyebutkan tentang wanita-wanita yang haram dinikahi:</p>
<p>وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">“…dan istri-istri dari anak-anak kandung kalian….” (An-Nisa’: 23)</p>
<p style="text-align:justify;">Berarti dikecualikan dalam hukum pengharaman tersebut para istri anak-anak angkat (boleh dinikahi oleh ayah angkat suaminya bila mereka telah bercerai).</p>
<p style="text-align:justify;">4. Keharusan istri ayah angkat untuk berhijab dari anak angkatnya, sebagaimana ditunjukkan dalam kisah Sahlah bintu Suhail istri Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, tatkala Sahlah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyatakan, “Wahai Rasulullah, kami dulunya menganggap Salim seperti anak kami sendiri. Sementara Allah telah menurunkan ayat tentang pengharaman anak angkat bila diperlakukan seperti anak kandung dalam segala sisi. Padahal Salim ini sudah biasa masuk menemuiku (tanpa hijab)….”</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menetapkan kepada Sahlah ketidakbolehan ikhtilath dengan anak angkat setelah turunnya ayat Al-Qur’an tersebut. Jalan keluarnya, beliau menyuruh Sahlah agar memberikan air susunya kepada Salim, dengan lima susuan yang dengannya ia menjadi mahram bagi Salim (yakni sebagai ibu susu, pent.)</p>
<p style="text-align:justify;">5. Ancaman yang ditekankan dan peringatan yang keras bagi orang yang menasabkan dirinya kepada selain ayah kandungnya. Dalam hal ini ada ayat Al-Qur’an yang di-mansukh (dihapus) bacaannya namun hukumnya tetap berlaku, yaitu:</p>
<p>وَلَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّهُ كُفْرٌ بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian.”</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Ahmad rahimahullahu meriwayatkan dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:</p>
<p>كُنَّا نَقْرَأُ: وَلاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّهُ كُفْرٌ بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">Kami dulunya membaca ayat: “Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian.”</p>
<p>Dalam hadits yang shahih dinyatakan:</p>
<p>مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيْهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ</p>
<p style="text-align:justify;">“Siapa yang mengaku-aku bernasab kepada selain ayahnya dalam keadaan ia tahu orang itu bukanlah ayah kandungnya maka surga haram baginya.”8</p>
<p style="text-align:justify;">Tersisa sekarang dua perkara dalam masalah menyebut anak pada selain anak kandung dan penasaban kepada selain ayah kandung. Kita akan sebutkan berikut ini:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: Apabila seseorang memanggil seorang anak dengan panggilan/sebutan ‘anakku’ (padahal bukan anaknya yang sebenarnya) untuk memuliakan dan menyatakan kecintaannya kepada si anak, hal ini tidaklah termasuk dalam larangan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">قَدَّمَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُغَيْلِمَةَ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَلَى حُمُرَاتٍ لَنَا مِنْ جَمْعٍ، فَجَعَلَ يَلْطَخُ أَفْخَاذَنَا وَيَقُوْلُ: أُبَيْنـِيَّ –تَصْغِيرُ ابْنِي– لاَ تَرْمُوا الْجُمْرَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ</p>
<p style="text-align:justify;">(Pada malam Muzdalifah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengedepankan kami anak-anak kecil dari Bani Abdil Muththalib (lebih awal meninggalkan tempat tersebut/tidak mabit, pent.) di atas keledai-keledai kami. Mulailah beliau memukul dengan perlahan paha-paha kami seraya berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian melempar jumrah sampai matahari terbit.”9</p>
<p style="text-align:justify;">Ini dalil yang jelas sekali, karena Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika hajjatul wada’ (haji wada’) berusia sepuluh tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua: Orang yang sudah terlalu masyhur dengan sebutan yang mengandung penasaban kepada selain ayahnya, seperti Al-Miqdad ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu yang lebih masyhur dengan Al-Miqdad ibnul Aswad, di mana hampir-hampir ia tidak dikenal kecuali dengan penasaban kepada Al-Aswad ibnu Abdi Yaghuts yang di masa jahiliah mengangkatnya sebagai anak, maka ketika turun ayat yang melarang penasaban kepada selain ayah kandung, disebutlah Al-Miqdad dengan ibnu ‘Amr. Namun penyebutannya dengan Al-Miqdad ibnul Aswad terus berlanjut, semata-mata sebagai penyebutan bukan dengan maksud penasaban. Yang seperti ini tidak apa-apa sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qurthubi, dengan alasan yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu bahwa tidak pernah didengar dari orang terdahulu yang menganggap orang yang dipakaikan baginya sebutan tersebut telah berbuat maksiat.10”</p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.</p>
<p style="text-align:justify;">(Fatawa wa Rasa’il Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh, 9/21-25, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 889-891)</p>
<p>Catatan kaki:</p>
<p>1 Awal ayat di atas berbunyi:</p>
<p>مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati/jantung dalam rongganya….” (Al-Ahzab: 4)</p>
<p>2 Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam ayat ke 6 surah Al-Ahzab:</p>
<p>وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan orang-orang yang memiliki hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin (yang lain yang tidak punya hubungan darah) dan orang-orang Muhajirin….”</p>
<p>3 Awal ayat ini adalah:</p>
<p>وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya….”</p>
<p>4 Wasiat di sini tidak lebih dari 1/3 harta si mayit.</p>
<p style="text-align:justify;">5 Dzawil arham adalah semua kerabat mayit yang tidak mendapat bagian fardh dan ta’shib dari harta warisan. Ahli waris terbagi dua:</p>
<p style="text-align:justify;">- Ada yang mendapat bagian warisan dengan fardh yaitu ia mendapat bagian yang tertentu kadarnya, seperti setengah atau seperempat.</p>
<p style="text-align:justify;">- Ada yang mendapat bagian warisan dengan ta’shib yaitu kadarnya dari warisan tidak ada penentuannya.</p>
<p style="text-align:justify;">6 ‘Ashabah adalah kerabat mayit yang mendapat bagian dari harta warisan tanpa ada batasan tertentu, bahkan bila dia cuma sendirian, dia berhak mendapat semua harta si mayit.</p>
<p>7 Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, 4/57.</p>
<p style="text-align:justify;">8 HR. Al-Bukhari no. 4326 dan Muslim no. 217.</p>
<p>9 Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu</p>
<p>10 Tafsir Al-Qurthubi, 14/80.</p>
<p>(Sumber: Majalah Asy Syariah vol. iv/no. 46/1429H/2008M, hal. 86-89)</p>
<p>Sumber langsung www.akhwat. web.id</p>
<p>Diupload kembali oleh <a href="http://www.wahonot.wordpress.com/">www.wahonot.wordpress.com</a></p>
<p>Kunjungi blog kami yang lainnya:</p>
<p><a href="http://www.pustakaalbayaty.wordpress.com/">www.pustakaalbayaty.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://www.tokoherbalonline.wordpress.com/">www.tokoherbalonline.wordpress.com</a></p>
<p style="text-align:justify;">
Posted in Adab, Fatwa, Fikh, Hadist, keluarga, Manhaj, Muamalah, Muslimah Tagged: ahlu sunnah, anak angkat, artikel islam, Fatwa ulama, fiqh, Hadist, islam, keluarga, Manhaj, Muamalah, Muslimah, salaf, salafy <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wahonot.wordpress.com/1299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wahonot.wordpress.com/1299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wahonot.wordpress.com/1299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wahonot.wordpress.com/1299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wahonot.wordpress.com/1299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wahonot.wordpress.com/1299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wahonot.wordpress.com/1299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wahonot.wordpress.com/1299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wahonot.wordpress.com/1299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wahonot.wordpress.com/1299/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wahonot.wordpress.com&blog=894703&post=1299&subd=wahonot&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahonot.wordpress.com/2009/08/28/anak-angkat-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">wahonot</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>