Apakah Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah?

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

 Apakah benar tidur orang yang berpuasa itu berpahala? Apakah benar seperti itu?

Di bulan Ramadhan saat ini, kita sering mendengar ada sebagian da’i yang menyampaikan bahwa tidur orang yang berpuasa adalah ibadah. Bahkan dikatakan ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dengan penyampaian semacam ini, orang-orang pun akhirnya bermalas-malasan di bulan Ramadhan bahkan mereka lebih senang tidur daripada melakukan amalan karena termotivasi dengan hadits tersebut. Dalam tulisan yang singkat, kami akan mendudukkan permasalahan ini karena ada yang salah kaprah dengan maksud yang disampaikan dalam hadits tadi. Semoga Allah memudahkan dan menolong urusan setiap hamba-Nya dalam kebaikan.

Derajat Hadits Sebenarnya

Hadits yang dimaksudkan,

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.

Perowi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.

Dalam riwayat lain, perowinya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr. Haditsnya dibawakan oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dho’if (lemah).
Kesimpulan: Hadits ini adalah hadits yang dho’if. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).

Tidur yang Bernilai Ibadah yang Sebenarnya

Setelah kita menyaksikan bahwa hadits yang mengatakan “tidur orang yang berpuasa adalah ibadah” termasuk hadits yang dho’if (lemah), sebenarnya maknanya bisa kita bawa ke makna yang benar.

Sebagaimana para ulama biasa menjelaskan suatu kaedah bahwa setiap amalan yang statusnya mubah (seperti makan, tidur dan berhubungan suami istri) bisa mendapatkan pahala dan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk melakukan ibadah. Sebagaimana An Nawawi dalam Syarh Muslim (6/16) mengatakan,

أَنَّ الْمُبَاح إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَة ، وَيُثَاب عَلَيْهِ

“Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran).”

Jadi tidur yang bernilai ibadah jika tidurnya adalah demikian.

Ibnu Rajab pun menerangkan hal yang sama, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” (Latho-if Al Ma’arif, 279-280)

Intinya, semuanya adalah tergantung niat. Jika niat tidurnya hanya malas-malasan sehingga tidurnya bisa seharian dari pagi hingga sore, maka tidur seperti ini adalah tidur yang sia-sia. Namun jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar kuat dalam melakukan shalat malam dan kuat melakukan amalan lainnya, tidur seperti inilah yang bernilai ibadah.

Jadi ingatlah “innamal a’malu bin niyaat”, setiap amalan tergantung dari niatnya.

Semoga Allah menganugerahi setiap langkah kita di bulan Ramadhan penuh keberkahan. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmatnya, segala kebaikan menjadi sempurna. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam, wal hamdu lillahi robbil ‘alamin.

Rujukan:
1. As Silsilah Adh Dho’ifah, Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabah Al Ma’arif Riyadh, Asy Syamilah
2. Latho-if Al Ma’arif fil Mawaasim Al ‘Aam minal Wazho-if, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy
3. Syarh Muslim, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
4. http://www.dorar.net/enc/hadith/نوم الصائم /pt***

Diselesaikan pada waktu ifthor, 2 Ramadhan 1430 H

Sumber: www.rumaysho.com

Diupload oleh www.wahonot.wordpress.com

 

 

 

About these ads

About bambangwahono

pedagang

Posted on Agustus 14, 2010, in Adab, Fatwa, Fikh, Hadist, keluarga, Kesehatan, Muamalah, Muslimah, Puasa, Ramadhan, Renungan, Tazkiyatun nafs. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Hadis tersebut tdk dloif karena kedloifan suatu hadis tidak bisa disimpulkan hanya dengan menelaah kitab2 hadis/rijalul hadis, tapi harus dilakukan dengan mendatangi perawi2 hadis satu persatu dan meneliti peri kehidupannya. Itulah jalan yg ditempuh imam Bukhori dan Muslim. Apalagi bila yang menyatakan dloif tidak hapal satu hadis pun beserta perawinya.

    melalui komntar ini anda meyatakan bahwa hadist tersebut tidak dhoif tentu anda punya hujjah menyatakan demikian, bisakah anda sebutkan urut urutan perowi tersbut?saya akan senang sekali jika ada yang bisa membantu untuk menjelaskannya dan sya akan rujuk dengan pendapat td jika memang hal itu mmng bnr adanya. segala kebenaran dari Alloh dan RosulNya.

  2. Hadis itu berkaitan dengan tidur di bulan Ramadan, yakni tidur di waktu yang khusus. Sedangkan penjelasannya berusaha men-generalisasi tidur. Jadi, Rasulullah menyampaikan hadis tsb karena tidur dalam Ramadan memang menjadi ibadah apapun niatnya, tanpa mengesampingkan bahwa bangun dan beramal tentu lebih besar manfaat dan pahalanya.

    maaf yg dijelskn disini bukan masalh tidurnya akan ttpi masalh hadist ttg tidur td shohih apa tidak karena dalm pelaksanaannya orng kebnayakan berpendpt dengan hadist trsbt bahwa tidur dibulan puasa adalah ibadah, sedang hadist tersebut lemaha bagaimana menyatakan bahwa tidut dibulan puasa adalah ibadah jika tidak ada dalil yg menyatakannya. maka di penjelasan berikutnya dijelaskan bahwa tidur akan bernilai ibadah ttkla diniatkan untuk misalnya supaya malam hrinya kuat untuk beribadah, aktivitas apapun tidak hanya tidur yg bernilai mubah bisa menjadi ibadah tatkala diniatkan untuk taqorub kepada Alloh.JAdi mendasarkan ibadah td bukan karena dari hadist ersebut.

  3. yah..
    jadi intinya sgala suatu amalah itu harus berdasarkan syariat dan petunjuk Rosulullah…
    jika suatu ibadah dilakukan tanpa syariat dan petunjuk Rosulullah maka TERTOLAK….
    “Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak” (Bukhari & Muslim)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 100 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: