Intisari Aqidah Salaful Shalih (bag.3)

Oleh:Syaikh Sholeh Bin Fauzan Alu Fauzan

Beriman Kepada Takdir

Demikian pula, kita beriman kepada takdir baik dan buruk. Beriman kepada takdir mengandung empat tingkatan.

Tingkatan pertama; mengimani bahwa Allah mengetahui sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi. Tidak ada sesuatupun yang ada di bumi dan di langit yang samar bagi-Nya, juga tidak ada perkara ghaib baik yang telah berlalu dan yang akan datang yang samar bagi-Nya. Semuanya sama, berada dalam pengetahuan Allah.

Tingkatan kedua; mengimani bahwa Allah telah menulis (takdir) itu dalam lembaran-lembaran yang terjaga (Lauhul Mahfud) dimana didalamnya telah tertulis takdir segala sesuatu. Sebagaimana kabar yang ada dalam hadits:“Sesuatu yang pertama diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena) dan Dia berkata kepadaNya: “Tulislah”! Qalam itu berkata kepada-Nya: “Apa yang saya tulis”. Dia berkata: “Tulislah sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat”.Maka, kita mengimani bahwa segala sesuatu yang sedang berjalan dan sedang terjadi adalah diketahui oleh Allah. Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi telah menulisnya dalam Lauhul Mahfudz, sebagaimana dalam firman-Nya:“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. AL Hadid: 22)

Jadi, segala sesuatu telah tertulis dalam lauh mahfudz dan tidak ada sesuatupun tentang takdir segala sesuatu yang tertinggal dirinya, serta tulisan tersebut telah ada lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit-langit dan bumi. Sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Nabi:“Tidak ada sesuatu kecuali dia telah terekam dalam lauh mahfudz”. Allah berfirman:“Di sisi Kami ada tulisan (kitab) yang memelihara (mencatat)”. (QS. Qaff:4)

Tingkatan ketiga; kita mengimani kehendak Allah yang sempurna dan mencakup segala sesuatu. Jika Allah menginginkan sesuatu yang dicintai dan dibenci (iradah kauni) dan Dia menghendakinya, maka hal itu harus terjadi. Sesungguhnya, sesuatu tidak terjadi di alam kecuali dengan keinginan, kehendak, dan aturan Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.

Tingkatan keempat; tingkatan yang paling akhir, yaitu kita mengimani bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi:“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu”. (QS. Az Zumar: 62).

Segala sesuatu yang ada di alam, baik yang terjadi maupun yang akan terjadi merupakan ciptaan Allah dan Dialah yang mengadakannya. Tidak ada seorangpun selain-Nya yang mengadakan dan menciptakan sesuatu di alam ini.

Keinginan manusia tidak keluar dari keinginan Allah subhanahu wa ta’ala.

Yang demikian ini tidak meniadakan adanya kehendak dan keinginan seorang hamba. Sesungguhnya manusia memiliki seorang hamba. Sesungguhnya manusia memiliki kemampuan memilih dan berbuat sehingga dia dapat melakukan dan meninggalkan suatu perbuatan, serta mampu memilih mana yang berbahaya dan mana yang bermanfaat.Berdasarkan keinginan manusia, seorang hamba melakukan kebaikan-kebaikan, ketaatan-ketaatan, meninggalkan ketaatan-ketaatan dan kewajiban-kewajiban, serta melakukan kejahatan-kejahatan dan penyelisihan-penyelisihan dan dia akan diperhitungkan berdasarkan keinginan dan perbuatannya. Tetapi, keinginan dan kehendaknya tersebut tidak keluar dari kehendak Allah sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:“Dan tidaklah kalian berkehendak kecuali Allah Tuhan semesta alam berkehendak”. (QS. At Takwir: 29)

Jadi, Allah menetapkan kehendak bagi seorang hamba, tetapi Dia mengikat kehendak tersebut dengan kehendak-Nya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Karena itu tatkala seseorang berkata kepada Nabi “Atas kehendak Allah dan kehendak engkau”!Maka Beliau bersabda: “Apakah kamu menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah, katakanlah: “Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu, atau katakan: “Atas kehendak Allah saja”.

Tafsir sebagian golongan tentang makna takdir

Penyimpangan beberapa kelompok dalam manafsirkan Qadar, diantaranya:

1. Jahmiyah dan Jabriyah.Mereka berkata: “Sesungguhnya seorang hamba dipaksa dalam melakukan perbuatan dan tidak ada hak untuk memilih, tidak ada kekuatan, serta tidak ada kehendak baginya. Seorang hamba seperti bulu yang terbang di udara dan seperti daun yang digerakkan oleh angin tanpa ada keinginan dan pilihan dirinya”. Inilah yang dikatakan oleh Jabriyah dan Jahmiyah dan selain mereka.

2. Berlawanan dengan yang pertama, mereka adalah Mu’tazilah.Mereka berkata, “Setiap orang menciptakan perbuatannya sendiri dan tidak ada pengaturan dan kehendak Allah terhadap perbuatan seorang hamba. Sesungguhnya, seorang hambalah yang melakukan sesuatu berdasarkan pilihannya dan kekuatannya sendiri yang tidak ada kaitan dengan kehendak Allah”. sehingga, sebagian dari mereka ada yang ekstrim dan berkata: “Sesungguhnya, Allah tidak mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. Seorang hambalah yang mengawalinya”. Karena itu, mereka berkata bahwa segala sesuatu itu sebelumnya tidak ada. Mereka adalah Mu’tazilah yang ekstrim dan mereka disebut sebagai para pengingkar dan penyangkal takdir (Qadariyah Nufah).

Kelompok yang pertama dinamakan Jabriyah, sedangkan yang kedua Qadriyah Nufah.Kelompok yang pertama, menetapkan takdir dan mereka berlebih-lebihan dalam menetapkannya, serta meniadakan keinginan yang ada pada diri seorang hambar. Sedangkan, kelompok kedua adalah Mu’tazilah yang bertentangan dengan yang pertama. mereka berlebih-lebihan terhadap kehendak seorang hamba dan penetapan pada dirinya. Sehingga, mereka menyia-nyiakan kehendak dan keinginan Allah. kedua kelompok itu terperosok dalam kesesatan dan kesalahan yang sangat besar.

Sikap tengah (adil) ahlus sunnah wal jamaah

Sikap tengah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mereka menetapkan suatu kemampuan, pilihan, dan kehendak bagi seorang hamba, tetapi hal itu mengikuti kehendak, kemampuan dan keinginan Allah. sesungguhnya, seseorang tidak mampu melakukan sesuatu, kecuali dengan keinginan dan kehendak-Nya.

Qadariyah berhak mendapatkan kemurkaan dan celaan

Qadariyah disebut sebagai Majusinya umat ini, kenapa? Karena mereka menetapkan dua pencipta bersama Allah. mereka berkata: “Sesungguhnya setiap orang menciptakan perbuatannya sendiri dengan mandiri”.Dengan demikian mereka tersesat dan berhak mendapatkan kemurkaan dan celaan dari ahli kebenaran karena mereka telah mengacaukan prinsip yang sangat agung, yaitu iman kepada takdir.

Iman kepada takdir bagian dari pokok-pokok keimanan

Iman kepada takdir bagian dari pokok-pokok keimanan sebagaimana yang terdapat dalam hadist Jibril bahwa sesungguhnya dia berkata kepada Nabi: “Kabarkanlah kepadaku tentang keimanan, maka Beliau shallallahu’alaihi wa sallam berkata:“Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir dan kamu beriman kepada takdir baik dan buruk”.Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya Yang Maha Tinggi:“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. (QS. Al Qamar: 49)

Demikian juga terdapat dalam hadits:“Berupayalah kamu dengan sungguh-sungguh terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah. Jika ada suatu musibah menimpamu maka jangalah kamu berkata: “Seandainya saya berbuat seperti ini, tentu hasilnya seperti ini”! Tetapi, ucapkan: “Allah telah menakdirkannya dan sesuatu yang telah dikendaki-Nya maka ia terjadi”! Sesungguhnya, kata-kata “seandainya” akan menbukakan perbuatan syetan”.

Hadits-hadits dan nash-nash dalam hal ini sangat banyak dan demikian adalah prinsip yang telah diketahui dan benar, serta masalah ini adalah sudah terang –alhamudillah-. Sedangkan, Aqidah Ahlus Sunnah wal Jammah dalam hal itu sudah jelas dan terbangun di atas petunjuk-petunjuk yang ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah, Adapun, mereka yang menyimpang dari prinsip ini, sesungguhnya penyimpangan itu datang dari diri serta hawa nafsunya, dan dia telah berpaling dari Al Qur’an dan As Sunnah.Seperti inilah orang yang berupaya keluar dari dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Sesungguhnya, dia akan terjatuh ke dalam kesesatan, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:“Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya”. (QS. Al An’am: 153)

PENUTUP

Ini merupakan intisari Aqidah salaf dan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga dengan karunia dan anugerah Allah Dia menjadikan kita dan kalian bagian dari mereka dan menetapkan kita sebagai orang-orang yang berpegang dengan kebenaran, serta sabar dan kokoh diatasnya sampai di hari kita bertemu dengan-Nya.Orang yang berpegang dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah maka dia di atas hujjah dan petunjuk, serta hatinya menjadi tenang dan kokoh. Karena dia hidup di atas Al Qur’an dan As Sunnah, serta hidup di atas dalil yang terang dengan mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan shahabatnya maka dia di atas ketenangan dan kekokohan dalam perkara agamanya.Dia akan memperoleh kebaikan-kebaikan, kekokohan-kekokohan, dan keistimewaan-keistimewaan yang sangat agung yang tidak diperoleh oleh orang-orang yang menyimpang, yaitu mereka yang senantiasa berada dalam kegelisahan dan kesedihan kemanapun mereka pergi dan dimanapun mereka berhenti.Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah tetap di atas kebenaran, tidak goncang, dan tidak jauh, serta tidak ada hawa, Pemikiran dan penyelisihan-penyelisihan di sisi mereka, karena pedoman hidup (manhaj), jalan, dan dalil mereka satu.Sesungguhnya, Allah telah menjanjikan kemulian dan surag, serta kekekalan dalam suatu kenikmatan yang tidak musnah dan tidak hancur bagi orang-orang yang berpegang dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:“Sesungguhnya jika datang petunjuk dari-Ku, (kemudian) barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak tersesat dan tidak celaka”. (QS. Thaha: 123)

Ibnu Abbas berkata: “Allah Memberikan jaminan bagi orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya sehingga tidak tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat”.Dia Yang Maha Tinggi berfirman:“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al An’am: 82)

Mereka mendapatkan keamanan dari siksa di akherat dan mereka di dunia mendapatkan hidayah dari kesesatan. Jadi, mereka di dunia mendapat petunjuk, tidak sesat dan tidak menyesatkan. Di akherat mendapat keamanan di hari ketika manusia dalam ketakutan dan terkejut, serta di hari ketika hari-hari itu telah putus dari rasa keterkejutan. Maka, Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ahli kebenaran berada dalam keamanan, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:“Mereka tidak disusahkan oleh kedasyatan yang besar (pada hari kiamat) dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu”. (QS. Al Anbiya: 103)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”! Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamila pelindung-pelindung dalam kehidupan dunia dan akherat: didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) didalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Fussilat; 30:32).

Demikianlah pengaruh-pengaruh Aqidah yang selamat di dunia dan di akherat, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:“Barang siapa yang beramal kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dan dia dalam keadaan beriman maka Kami benar-benar akan memberi kehidupan yang baik dan Kami benar-benar akan membalas mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan”. (QS. An Nahl: 97)

Inilah jaminan-jaminan Allah di dunia dan di akherat bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ahli kebenaran.Semoga dengan anugerah dan kemuliaan Allah, Dia menjadikan kita dan kalian sebagai bagian dari mereka dan kita meminta kepadaNya Yang Maha Suci agar emperlihatkan kebenaran kepada kita sebagai kebenaran dan menjadikan kita sebagai orang yang mengikutinya dan menampakkan kebatilan kepada kita sebagai kebatilan dan menjadikan kita sebagai orang yang menjauhinya.Saya katakan: “Perkataanku adalah ini dan saya meminta ampun kepada Allah untukku dan kalian, serta semua kaum muslimin. Dan semoga Allah mencurahkan shalawat dan salm atas Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, keluarga dan semua shahabat Beliau shallallahu’alaihi wa sallam”.

diambil dari e-book akh Ahmad Al Makassari “Mengapa Islam membenci Syirik?” di http://ashthy.wordpress.com 

About these ads

About wahonot

I a salafy man

Posted on November 23, 2007, in Aqidah. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. wah lognya tambah bagus mas…barokallahu fiikum

  2. bagus bgt jurnalnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: